
Jika saja keinginan hati mendapatkan perhatian dan juga diterima oleh orang terkasih, ia sendiri akan merasa bahagia dengan keputusan rumit tetapi baginya yang terbaik untuk kehidupan rumah tangga milik dia dan sang suami. Hanya saja berakhir penolakan tanpa memperdulikan sisa harapan yang menjadi lentera kehidupan setelah badai menerjang. Sekarang apa yang harus dilakukan agar mendapatkan persetujuan?
Sentuhan tangan hangat yang menyentak kesadaran segera ia tepis tanpa niat buruk meski tetap mengabaikan pandangan penuh harap dari sang suami, "Mas, aku tidak ingin bertengkar denganmu jadi sebaiknya tinggalkan diriku sendiri. Kalian berdua bisa ke luar dari kamar!"
Pengusiran tanda kepasrahan membuat kedua insan saling pandang, mereka tahu jika keras kepala sulit untuk digoyahkan tetapi bagaimanapun keadaan tidak menjadi lebih baik hanya karena satu pihak saja. Mau, tidak mau menuruti permintaan kecil dari si wanita pemilik keputusan agar meminimalisir perdebatan yang menyebabkan tekanan. Terlebih lagi kesehatan harus diutamakan.
Derap langkah kaki yang terdengar semakin menjauh tak membuat si wanita terakhir mengalihkan perhatiannya dari fokus utama. Tatapan mata nanar menikmati deru pemberontakan yang hanya dirasakannya seorang. Entah takdir menyajikan kisah yang seperti apa, ia hanya ingin memperbaiki kehidupan rumah tangganya. Bukankah kebahagiaan harus diciptakan?
Namun, pada kenyataannya meski kondisi sudah diketahui secara umum. Kenapa masih tidak mendapat izin atas keinginan hati demi kebaikan bersama bahkan suaminya menolak keras permintaan sederhana dari seorang istri yang sekarat. Cinta di hati hanya untuk menguatkan dan bukan melemahkan pondasi dari bahtera rumah tangga. Sayangnya posisi saat ini menjadi serba salah.
Meninggalkan kesendirian si wanita, di luar kamar tampak dua insan memilih duduk di ruang tengah dan saling berhadapan. Helaan napas panjang terdengar serempak menghempas keheningan, apa yang harus mereka berdua lakukan agar tidak mengikuti keras kepala dari orang kesayangan. Sungguh posisi justru terjebak di tengah ketidaknyamanan.
"Aku hampir tidak percaya dengan permintaan Ocy, bagaimana dia bisa berpikir seperti itu? Bukankah kamu sudah jelasin kalau semua pasti membaik," Nara tidak menyangka jika satu dari ketiga sahabatnya bisa kehilangan akal sehat setelah mengalami kemunduran.
__ADS_1
Ia paham situasi sulit di dalam fase kehidupan saat ini benar-benar menggoyahkan keyakinan hati. Akan tetapi bukan berarti bisa meminta sesuatu yang di luar nalar, apalagi mengingat kini mereka sudah menjadi satu keluarga dan memiliki tempat berbeda di hati setiap anggota. Apapun itu akan menyebabkan kondisi kritis jika sampai terjadi hal yang tidak sesuai dengan hati.
Telinga dengan jelas mendengar suara wanita yang akan selalu ia anggap sebagai sahabat lama tapi hati tak siap menyambut hal baru hanya karena situasi di sekitarnya. "Tunggu beberapa waktu lagi, aku tidak mau Ocy merasa tertekan. Kamu tenang saja karena istriku saat ini masih bingung menyikapi situasi akibat kesehatan yang menurun."
"Lupakan permintaan gila yang diucapkan oleh istriku. Aku tahu, di antara kita hanya memiliki emosi sebagai saudara saja. Nara, kuharap dirimu tidak ambil hati apalagi mulai berburuk sangka terhadap Ocy." sambung Samuel mencoba untuk mengubah suasana tegang dan memperbaiki perasaan tak karuan di dalam hatinya.
Nara sendiri tak mempermasalahkan apapun karena ia memahami betapa tertekannya Ocy setelah apa yang terjadi di dalam kehidupan selama beberapa tahun terakhir. Hanya saja, ia sendiri juga tidak ingin menjadi tempat pelampiasan meski atas nama hubungan kekeluargaan. Sikapnya bisa berasal dari keegoisan tetapi bukan untuk keserakahan.
Sejujurnya, ia merasa kasihan tetapi juga tidak berniat untuk menunjukkan kesedihan atas keadaan sang sahabat. Sebagai sesama wanita, ia paham betapa menderitanya Ocy hingga sampai di titik putus asa menjalani bahtera rumah tangga. Akan tetapi bukan berarti bisa meminta hal gila meski atas nama kebaikan bersama, terlebih lagi keluarga selalu memberikan dukungan tanpa mengharapkan balasan.
Nara yang biasanya bersikap santai tapi kali ini tidak bisa. Gadis itu begitu tegang meski sudah berusaha untuk tetap tenang. Situasi memaksanya hingga harus berpikir keras dengan penolakan yang baginya masuk akal. Apalagi mengingat ia sendiri hidup tanpa sandaran sedangkan sang sahabat memiliki kehidupan lebih baik darinya.
"Nara, kamu tidak berpikir kalau kita harus menurutinya kan?" hati tak tenang melihat diamnya Nara, ia hanya mengharapkan dukungan dan bukan sebuah kesempatan untuk mendapatkan kisah baru di tengah kisahnya yang sekarang.
__ADS_1
Seulas senyum tanpa perasaan tersungging menghiasi bibir merah muda yang terlihat hambar di mata banyak insan. Jangankan memikirkan hal diluar nalar, ia bahkan selalu berusaha untuk tetap menjaga batasan agar tidak membuat keretakan dari setiap hubungan yang terjalin bersamanya. Lalu untuk apa memikirkan sesuatu di luar keinginan hati dan pemikiran?
"Come on, Muel. Apa kamu masih mengira kalau aku punya perasaan lebih untukmu? Buang jauh-jauh soal itu, deh! Bagiku, kalian itu sama jadi jangan berpikir ke arah lain karena nanti justru ngelantur." tegas Nara mengakui kebenaran di dalam hatinya.
Sejak awal ketika takdir mempertemukan mereka di situasi yang berbeda tetapi melakukan hal sama. Dirinya selalu belajar untuk memahami keadaan tanpa mencoba menjadi pihak ketiga atas suatu hubungan yang didasari oleh cinta. Terlebih lagi mengetahui sejarah kisah dari para sahabatnya, lalu untuk apa menenggelamkan diri di tengah keyakinan hati?
"Nara, aku percaya, kamu itu wanita baik dan penyayang. Makasih untuk pengertiannya dan kuharap, kamu masih mau membantuku membujuk Ocy agar melupakan hari-hari buruk di masa kemarin." ucap Muel sepenuh hati dengan permintaan kecil yang ia sendiri menyadari hampir salah paham oleh jawaban Nara.
Menganggukkan kepala menyetujui permintaan kecil seorang sahabat, baginya tak ada tempat untuk menaruh kekesalan di hati. Apa yang akan terjadi nanti mungkin tidak bisa dihindari lagi, entah kenapa ia merasa embusan angin pun mengisyaratkan perubahan besar. Meski begitu, ia hanya berharap semua akan kembali baik-baik saja.
Namun faktanya kehidupan tidak bisa diprediksi seperti skema rencana untuk mencapai tujuan demi masa depan. Sehingga di antara kebenaran dan keinginan hati akan selalu memiliki akhir tak terduga. Kehidupan sederhana pun seketika bisa menjadi rumit tanpa aba-aba, begitulah takdir di dunia yang fana.
Tidak ada hal baik yang akan datang jika harapanku kalian hentikan. Kenapa kalian tidak mengerti dan mencoba memahami maksud dari tujuanku? Apa begitu sulit memenuhi satu permintaan saja? ~keluh hati yang merasa sendiri setelah berusaha memperbaiki situasi.
__ADS_1