Karena Cinta

Karena Cinta
Part 32#Pagi yang Hangat


__ADS_3

Malam berlalu begitu cepat berganti pagi ditemani sang mentari yang bersinar indah menyambut secercah harapan baru. Kebahagiaan yang semalam masih membelenggu hingga menghadirkan senyum di sepanjang waktu. Suasana tenang di dalam hati memeluk kedamaian tanpa kata.


Langkah kaki berjalan mendekati meja makan karena kedatangannya sudah di nanti oleh kedua insan yang menatap lembut memandang dirinya, "Morning, Pa, Ma. Aroma masakannya tidak asing, deh. Apa mama masak sop buntut kesukaan Bunga?"


"Anak papa pinter banget, loh. Tau aja menu makan pagi ini," Mama Milea menggoda putrinya seraya beranjak dari tempat duduk, lalu membalikkan piring di hadapan sang suami. "Mas, mau makan jadiin satu atau pisah antara nasi dan sopnya? Sebelum makanan dihabisin Bunga, mama ambilkan untuk papa dulu!"



Tangan menarik kursi, kemudian duduk dengan tenang. Sesaat memperhatikan menu makan sarapan pagi yang ada di atas meja, "Nasi, ada. Sop buntut, ada, Tumis brokoli campur sosis, ada. Ayam kecap, ada. Wuih, mama bikin jamur crispy juga," Bunga bergegas membalikkan piring di hadapannya, lalu mencomot dua lembar jamur crispy yang ia letakkan ke atas piring milik sendiri.



"Ma, ambilkan sarapan papa seperti biasa saja! Itu sudah cukup," Papa Bima yang sibuk memperhatikan Bunga hanya bisa menggelengkan kepala ketika putrinya itu terlihat begitu lahap menikmati masakan sang istri.



Menu makan pagi ini cukup istimewa karena semua yang tersedia di atas meja merupakan kesukaan Bunga. Sebagai seorang ayah, ia tahu bahwa Milea sudah berusaha semaksimal mungkin menyayangi dan mencintai Bunga. Putri tunggal yang terbiasa dimanjakan, tetapi tetap memiliki aturan dan selalu bisa menjaga diri ketika berhadapan dengan dunia luar.



Sarapan pagi akhirnya berlangsung cukup damai tanpa ada kendala apapun. Apalagi Bunga begitu lahap menikmati setiap menu tanpa pandang bulu. Sudah pasti gadis itu kekenyangan setelah menghabiskan sepiring nasi campur sayur, dan lauk, lalu ditutup dengan semangkuk sop buntut. Kepuasan yang terpancar dari binar mata hazelnut menghadirkan syukur dalam sanubari kedua orang tuanya.



"Waduh, ini kenyang banget. Jadi males ke kampus," ujar Bunga seraya mengusap perutnya yang terlihat menyembul karena kebanyakan makan.



Melihat itu, papa Bima dan mama Milea sontak tertawa ringan. Suara tawa yang terdengar begitu renyah karena melihat Bunga semakin lucu ketika mengeluh hanya karena kekenyangan. Mereka berdua sengaja memanjakan sang putri di hari kedua setelah ulang tahun agar bisa menjadi kebersamaan keluarga.


__ADS_1


"Sabar, Nak! Lain kali makan secukupnya, ya. Kasian perut kamu yang biasanya makan sepiring salad buah, tapi langsung makan sebanyak tadi," mama Milea membereskan piring miliknya dan piring bekas sang suami dan putrinya. Ia tumpuk piring dan mangkuk menjadi satu agar memudahkan bibi untuk memindahkan nanti.



Senang rasanya ketika memasak untuk keluarga sendiri dan dalam sekali waktu hidangan ludes hanya menyisakan tempatnya saja. "Pa, buruan anterin Bunga ke kampus, gih! Tadi pagi Al telpon aku, katanya dia ada pekerjaan penting jadi tadi jam lima terbang ke Dubai."



"Hah, mama gak bercanda 'kan?" Bunga menatap mama Milea begitu serius seolah tengah mengintimidasi. Reaksinya sangat berlebihan dan tampan begitu jelas berbeda hingga membuat hati seorang ayah curiga.



Papa Bima mulai menyadari perubahan dari sikap putrinya setiap kali menyangkut Alkan. Bukannya tidak peka, hanya saja selama ini berusaha tetap positif thinking. Apalagi mengingat Al adalah pria yang bisa dimintai tolong ketika dirinya harus meninggalkan Bunga sendiri di Jakarta



Terkadang sebagai seorang pria dewasa, ia menyadari ada batasan yang tidak seharusnya diterjang. Akan tetapi, ia juga sadar bahwa Al bukanlah pria brengsek yang bisa memanfaatkan situasi. Adik ipar dari kakak perempuannya itu selalu memiliki prinsip yang tidak bisa diganggu gugat. Sehingga kemungkinan penyalahgunaan kepercayaan hanya 0,00001 dari seratus persen.




Tak ingin berbicara sambil berdiri, ia duduk kembali ke tempat semula begitu beres menyingkirkan alat makan dan sisa makanan ke sisi meja yang longgar. "Pemilik tanah tempat mall akan didirikan ternyata milik salah satu pebisnis yang sekarang tinggal di Dubai."



"Setahuku, Al bilang harus meninjau ulang kepemilikan tanah karena ada kendala di saat pengacara mengajukan pemindahan nama menjadi milik keluarga Putra. Padahal seingatku, Bella jelas mengatakan semua tanah untuk pembangunan mall sudah dibeli oleh perusahaan.



"Seharusnya Bryant yang pergi ke Dubai, tapi mengingat situasi keluarga kita, hal itu harus dilupakan. Kapan keluarga kita balik kaya dulu, ya? Aku kangen setiap sebulan sekali bertemu semua anggota keluarga secara utuh tanpa ada ketegangan."

__ADS_1



Keluhan hati seorang Milea cukup membawa emosi di hati ketiga insan itu. Bagaimana mereka benar-benar berusaha untuk beradaptasi dengan keadaan pelik di masa suram. Sadar atau tidak, kebenaran tak akan berubah. Dimana hanya karena satu wanita, akhirnya keharmonisan keluarga yang dipertaruhkan.



Tak terasa sudah sepuluh menit obrolan mereka berlangsung hingga papa Bima mengingatkan sang putri yang harus berangkat kuliah. Akhirnya anak dan ayah berpamitan pada ratu keluarga yang selalu menjadi tempat keduanya berpulang. Lalu berjalan beriringan meninggalkan istana menuju tempat parkir di halaman depan.



"Pa, kapan aku boleh menyetir sendiri?" tanya Bunga begitu selesai memakai sabuk pengaman tanpa menunggu disuruh orang tuanya.



Papa Bima memasukkan kunci mobil, lalu beralih menarik sabuk pengaman, ia tak mau kalah memberikan contoh yang baik untuk putrinya. "Sayang, kamu masih belum punya mobil sendiri. Jadi untuk sementara biar papa yang antar dan jemput kamu, okay?"



"Ya Allah, Pa! Papa pasti takut kalau aku bawa mobil ugal-ugalan, ya? Ayolah, gak enak trus menerus repotin om Al. Apalagi semakin hari, kalian berdua sibuk sama bisnis. Sekali saja kasih kesempatan buat jaga diri sendiri, please."



Bunga menatap sang papa dengan puppy eyes yang tak bisa ditolak seorang ayah. Rasa khawatir yang membelenggu hati seketika runtuh karena permintaan manis nan menggemaskan yang menjadi akhir perdebatan tanpa perlawanan. Akhirnya kepala mengangguk menyetujui keinginan sang gadis kesayangan.



Bunga menghamburkan diri memeluk papanya begitu mendapatkan izin atas kebebasan yang selama ini dirinya harapkan. Pasti ada yang berpikir kenapa ia segitunya ingin bisa membawa mobil sendiri, iya 'kan? Semua itu karena selama ini, ia tak sekalipun diizinkan pergi seorang diri.



"Love you, Papa terganteng ku!" perasaan bahagia tak bisa dirinya tutupi, membuat tangan kekar sang papa dengan sepenuh hati mengusap kepalanya. "Pa, bisa kasih bocoran soal kriteria menantu idaman papa, gak?"

__ADS_1


__ADS_2