Karena Cinta

Karena Cinta
Part 138#PENEKANAN TUGAS


__ADS_3

        Entah akal sehat atau kewarasan yang diperlukan wanita satu itu, satu hal pasti adalah tidak bisa dihentikan meski dunia mengalami guncangan. Anggun salah satu contoh wanita egois yang hanya mementingkan keinginan sendiri. Wanita itu tidak memperhitungkan kebahagiaan orang lain meski suaminya sendiri.


    Di dalam kepalanya hanya ada balas dendam dan rencana menghancurkan kebahagiaan Ara. Sementara di sisi lain, Akbar yang disibukkan membenahi isi gudang juga memikirkan perubahan sikap istri keduanya. Semakin ingin menepis rasa penasaran justru ketukan tanda tanya terus bergejolak di dalam hatinya.


    Apa iya harus menemui Ara dan menanyakan keadaan wanita itu? Padahal dari sikap saja jelas tidak ingin terbuka. Alih-alih fokus dengan pekerjaannya, pria itu malah semakin mengacaukan barang-barang yang ada di gudang. Saking asyiknya memikirkan sesuatu sampai tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.


    Meninggalkan rasa penasaran Akbar, di tempat lain hanya ada keheningan setelah keributan semalam yang mengubah ruang pertemuan menjadi tempat berdarah. Warna merah yang tampak mewarnai beberapa titik sedang dibersihkan oleh petugas kebersihan. Terlihat tidak ada rasa takut atau bimbang setiap kali tangan mengelap cairan merah nan kental.


    Bahkan hampir sepuluh menit berlalu tetapi pekerjaannya belum kelar karena sebelumnya harus membereskan beberapa raga yang sudah tidak bernyawa. Bibir bungkam meski mata tetap waspada memperhatikan sekitarnya, satu kecerobohan bisa menyebabkan masalah di kemudian hari sehingga harus sangat memperhatikan ketelitian atas tugasnya. Apalagi waktu yang diberikan hanya satu jam agar bisa mengembalikan ruangan seperti semula.


    Sedangkan di ruangan lain terlihat seorang pria tanpa pakaian atas berdiri di depan jendela menatap luasnya hutan di luar sana. Semilir angin yang berembus menerpa wajahnya, "Apa yang mau kamu laporkan?"


    Suara tanya yang diajukan menghentikan langkah kaki seseorang dari belakang yang berjarak sepuluh meter. Tidak ada kekuatan yang ditekankan saat berjalan tapi suara sekecil apapun cukup bisa mengantarkan kepekaan akan kehadiran orang itu dan hal tersebut tidak perlu diragukan.

__ADS_1


    "Bos, bikin kaget aja, padahal aku sudah pelan jalannya masih aja ketahuan." Si pria yang baru datang tak mampu menutupi kekagumannya atas kepekaan sang tuan. Setiap kali berusaha menguji justru dirinya yang di uji, "Ini hasil laporan medis dari dokter dan juga keterangan saksi. Semua beres sesuai dengan yang Bos mau. Apa masih ada pekerjaan tambahan untukku, Tuan?"


    Setelah semalam menghabiskan waktu membuat pesta bersama musuh yang merupakan kawan. Akhirnya bisa sejenak beristirahat memikirkan kedamaian tanpa perlu mengurangi jadwal pekerjaan. Pesta sudah berakhir tapi tetap harus menyelesaikan dan membersihkan semua noda yang bisa saja menjadi bukti di luar dugaan.


    "Bagaimana dengan kondisi anak-anak, apa mereka semua bisa diajak kerjasama?" sahut sang tuan yang juga berbalik menghadap tangan kanannya.


    Orang bilang untuk mengetahui seperti apa emosi hati lawan bicara maka harus melakukan komunikasi secara tatap muka. Dimana ketika berbicara dengan orang lain akan lebih baik menatap matanya, karena menatap orang yang diajak bicara dianggap lebih sopan. Coba bayangkan, ketika sedang mengobrol dengan teman, tapi teman sendiri malah melihat kepada orang lain.


     Biasanya hal itu akan memicu rasa marah karena menganggap orang itu tidak menghargai saat diri kita bicara. Sehingga kebiasaan berbicara saling menatap bukan hal aneh melainkan etika yang bisa menguji seseorang juga. Meski beberapa orang sulit menatap balik orang yang sedang diajak bicara tersebut.


Beberapa orang memang memiliki kemampuan otak terbatas, sehingga tidak bisa fokus terhadap dua hal sekaligus. Saat bicara justru cenderung lebih sering melihat ke benda-benda yang ada di belakang seseorang atau ke sekeliling. Ini karena otak memikirkan kata-kata yang tepat saat berbicara.


    Orang seperti ini memilih kata supaya orang yang diajak bicara itu mengerti apa yang akan disampaikan. Jadi bisa dikatakan bahwa otak lebih dipakai untuk mencari kata-kata daripada untuk memperhatikan lawan bicaranya. Dan jika dipaksa untuk menatap orang maka justru biasanya akan kesulitan berbicara.

__ADS_1


    Berbeda lagi pada saat mendengarkan, biasanya malah lebih bisa menatap lawan bicara karena otak bisa fokus menatapnya tanpa harus memikirkan kata-kata yang tepat. Jadi, ketika seseorang memiliki keterbatasan maka tidak perlu merasa bersalah hanya karena sulit menatap mata orang saat sedang berbicara.


"Masalah anak-anak itu, mereka bisa dipastikan bungkam tapi trauma yang didapatkan mungkin bisa memicu hal tidak diharapkan. Kenapa tidak kirim mereka ke pusat rehabilitasi saja, Bos?" saran si tangan kanan karena ia berpikir para tahanan yang sudah dibebaskan membutuhkan bimbingan konseling oleh dokter psikolog.


Namun, jika melakukan sarannya maka kemungkinan orang tua di rumah juga akan curiga. Sementara apapun yang sudah menjadi tontonan hanya boleh di simpan dalam memori saja. Meski beresiko dengan melepaskan anak-anak, nyatanya sang tuan tidak merasa cemas apalagi tegang dengan keputusan yang sudah dijalankan.


"Tidak perlu. Apa yang terjadi adalah pelajaran hidup. Mereka bisa belajar untuk tidak berbicara sembarangan dan bertindak sesuka hati. Semua yang dilewati bisa menjadi cambuk kehidupan supaya dewasa nanti tidak mudah terjatuh di kesalahan yang sama. Begitu juga hati-hati memberikan kepercayaan."


"Sekarang pergilah! Terus awasi anak-anak dan juga laporkan masalah yang sudah ku minta semalam. Kali ini, pesta hanya bisa dilakukan di luar. Jadi persiapkan semuanya dengan baik." Si pria tampan yang berwajah datar tanpa senyuman mengangkat tangan, lalu mengibaskan agar sang tangan kanan meninggalkan ruangan kamar miliknya.


Tidak ada lagi yang perlu dipertimbangkan sebab semua sudah menjadi kepastian dan tentunya akan menjadi keputusan final. Apalagi kehidupan memanglah kejam dimana baik suka maupun duka hanya dijadikan pembelajaran demi memperbaiki diri dan masa depan. Bukankah begitu alur takdir yang sudah digelar bak permadani malam.


"Permisi, Bos. Semua akan terjadi sesuai dengan harapan tuan," pamit si tangan kanan, lalu membungkukkan setengah badan, kemudian bergegas kembali meninggalkan ruang kamar sang atasan.

__ADS_1


Laporan yang disampaikan hanya untuk mengkonfirmasi situasi saat ini, meski sadar benar bahwa sang tuan memiliki cukup waktu untuk menunggu semua kelar tanpa perlu pengajuan diri. Akan tetapi sudah tugasnya memberikan laporan sebelum membuat sang atasan menunggu lama. Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya langkah kaki terhenti di depan ruang pembantaian semalam.


"Kenapa kalian di luar? Jangan bilang masih trauma membersihkan darah, apa kalian tidak malu sama diri sendiri?" cecar si tangan kanan begitu melihat tiga penjaga ruangan yang berdiri di luar ruangan eksekusi.


__ADS_2