
Terlalu sederhana bila kenyataan hidup yang menyakitkan begitu mudah diterima hati. Pada akhirnya setiap insan pemilik raga dengan napas sebagai bukti kehidupan hanya pasrah mengikuti alur takdir dari Yang Maha Kuasa. Akan tetapi tidak semua kisah berujung penderitaan tanpa kebahagiaan meski terlalu banyak isi kepala memikirkan keegoisan diri sendiri.
Tak peduli seberapa jauh seseorang melangkah ketika jalan yang dituju berliku maka sudah sewajarnya untuk berhati-hati. Terkadang rintangan datang tanpa mengenal arah maupun mengingat waktu. Begitulah kehidupan dengan segala kekurangan serta kelebihan para insan di tengah hirup pikuk kesibukan penghuni alam semesta.
Waktu yang berlalu begitu cepat menghantarkan semilir angin nan berembus menyebarkan angan mengikuti gelombang alam tak berwarna. Suara deburan ombak terdengar bagaikan nyanyian alam menyambut sang surya dengan kemilau emasnya. Pemandangan penuh emosi yang patut disyukuri bagi penikmat suasana aesthetic kala menikmati keindahan alam di depan mata.
Seperti yang dilakukan seorang pria tampan dimana ia duduk santai di tapi pantai bahkan membiarkan kakinya berlumuran pasir putih. Alih-alih merasa risih, ia justru terlihat begitu menikmati waktu sendiri seakan sudah lama tidak bisa bersantai. Pikiran pun begitu tenang tanpa beban pekerjaan seperti biasanya tapi tiba-tiba mendengar suara panggilan samar yang ingin diabaikannya.
"Kelakuan pria satu ini makin kelewatan," bibir merah muda nan menggoda sibuk mengucapkan keluhan dari lubuk hatinya. Ia merasa tak dianggap padahal mereka datang bersama untuk menyelesaikan sisa pekerjaan yang sempat tertunda, hanya saja melihat ketidakpedulian sang sahabat membuat hati enggan berkelana.
Celotehan tak suka yang begitu jelas terdengar sampai ke telinga si pria masih dibiarkan begitu saja. Seulas senyum nan tipis samar tersungging menghiasi bibir tak berwarna. Siapapun pasti kesal diperlakukan bak boneka tetapi ia sendiri lelah menjelaskan situasi di antara mereka berdua akibat pekerjaan yang memang menyita waktunya.
__ADS_1
Menghentakkan kaki hanya sebagai pelampiasan kekesalannya, lalu tanpa permisi duduk disebelah kanan si pria yang ternyata asyik memejamkan mata seraya menikmati embusan angin dengan aroma segar lautan. Tatapan mata menelisik wajah tampan yang baginya terlihat sempurna meski lebih sering menunjukkan sikap dingin bak kutub utara. Ia akui, hatinya pun mulai goyah jika terus bersama pria dengan status sahabat lama.
"Li Mei, apa perlu menatapku sebegitunya? Tidak ada yang berubah dariku tapi rona merah di pipi mu itu," mengerjapkan mata yang membuat wanita di sebelahnya mengalihkan pandangan begitu saja. "Lupakan itu, bagaimana dengan perkembangan barang lelang yang katamu bersangkutan dengan masa lalu kedua orang tuamu. Apa masalah kali ini tidak mengusik ketenangan hidup kalian berdua?"
"Jika boleh jujur, aku sendiri tidak tahu apa maunya hatiku." Li Mei menatap gulungan ombak di depannya yang berjarak cukup jauh sehingga tidak akan membasahi raga. Pandangan kosong sedangkan pikirannya justru larut memikirkan beberapa hal yang membuat hati kian tenang.
Seolah memahami penderitaan sang sahabat, pria pemilik wajah tampan dengan sengaja menarik pinggang wanita di sebelahnya hingga bersandar di pundaknya tanpa niat lain. "Kebenaran sudah ada di depan mata, aku berharap apapun yang terjadi nanti kamu tetap menjadi wanita tangguh, tapi Li Mei, jika kamu merasa jalan ini tidak baik, kita bisa menyudahi perjalanan kali ini. Kamu cukup bilang langsung padaku," usapan tangan yang ia harapkan bisa memberikan kekuatan meski tak mengubah kenyataan.
"I'm okay, selama kamu ada bersamaku lalu apa yang akan terjadi nanti sudah bukan hal penting lagi. Lagian perjalanan kita untuk menemukan kisah di balik sebuah kotak yang menurut aku biasa aja. Jangan khawatir soal diriku takutnya kamu malah jatuh cinta dengan wanita ini, Tiger." seloroh Li Mei menggoda sahabatnya hanya untuk mengusir rasa di dalam hati.
Wanita itu berusaha keras melepaskan keraguan dari awal perjalanan tetapi tetap saja tidak mengubah apapun dimana jauh di lubuk hati terdalam menyimpan rasa takut akan kenyataan hidup yang selama bertahun-tahun terpendam. Sayangnya Li Mei tak menyadari perubahan ekspresi wajah seorang sahabat yang menyimpan kebenaran dan bisa saja mengungkapkan separuh kisah sebagai pelengkap. Orang bilang, lebih baik menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan dunia asli demi kebaikan.
__ADS_1
Dilepaskannya tangan dari kepala sang sahabat lama, lalu ia genggam kedua bahu wanita di sebelahnya hingga membuat mereka berdua saling berhadapan dengan tatapan mata terpaut tak terpisahkan. Tatapan yang tenggelam mencoba menunjukkan keseriusan, "Li Mei, jika aku mengatakan sebuah rahasia yang harus kamu ketahui, apa sahabatku bisa percaya dengan perkataan seorang Tiger?"
"Kenapa bertanya seperti itu? Kamu meragukanku atau ragu pada kebenaran yang ingin diungkapkan? Tiger, selama raga ini masih bernapas, aku Li Mei selalu mempercayai sahabat lama tanpa keraguan. Pegang ucapanku seperti biasa!" tegas Li Mei meyakinkan Tiger tanpa menaruh tanya di tengah kebersamaan mereka.
Pernyataan yang dinanti akhirnya terdengar bergema mengumumkan kepercayaan diri dari sahabat lamanya. Kini ia bisa mengesampingkan rasa takut di hati sehingga tak lagi menahan diri mengungkapkan sebuah rahasia. Pelan tapi pasti dan jelas ia katakan kebenaran yang menjadi alasan persetujuan atas perjalanan mereka berdua. Suara lembut menyatu bersama deru ombak lautan yang bergelora menari melengkapi alam semesta.
"Li Mei, apa kamu siap menyambut kehidupan baru setelah pengasingan sekian lamanya?" Tiger meneruskan ucapannya meski mengajukan tanya setelah kejujuran atas sebuah rahasia yang sebenarnya baru saja di dapat meski tanpa sengaja.
Ketika hati menganggap kehidupan hanyalah dunia kecil milik keluarga tercinta tapi tiba-tiba badai menerpa menghancurkan keyakinan. Apa lagi yang tersisa? Sayup-sayup melepaskan suara tanya dari sahabat lamanya yang mana kesadaran terhempas menyambut perenungan diri. Entah apa yang menyulitkan jiwa hingga tak terasa air mata jatuh membasahi kedua pipi tanpa warna.
Apa benar kebenaran yang bisa menyita ketenangan tak selamanya indah di depan kenyataan dari kehidupan setiap insan pemilik raga. Jika benar, bukankah seharusnya penyesalan datang tuk mengembalikan kesadaran di tengah rasa yang tiba-tiba membelenggu kepercayaan atas emosi hati dan ikatan hubungan. Lalu, kenapa justru terjadi sebaliknya?
__ADS_1
Sentuhan tangan kekar yang berusaha mengembalikan kedamaian hatinya tak mampu menggengam sisa ketenangan dari jiwanya. "Tiger, apa yang kamu katakan pasti salah, iya kan? Aku ingin percaya tapi bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi padaku, mama bahkan selalu bersamaku selama ini."