
Satu permintaan dari Wulan membuat Tara mengangguk pasti, "Aku bantu, tapi ceritain dulu hasil travelingmu! Apa itu bisa kucoba atau tidak?"
Syarat dan ketentuan akan tetap berlaku dimana antara kesepakatan dan keuntungan akan selalu menjadi tarik ulur tanpa berkesudahan. Persahabatan itu unik, apalagi ketika di dasari pemenuhan kebutuhan mental. Keinginan Wulan sudah jelas memiliki maksud tertentu, begitu juga dengan harapan Tara.
"Sebenarnya," Wulan menoleh ke kanan, lalu ke kiri. Ia memastikan tidak ada orang lain selain mereka berdua yang ada di taman tersebut agar apapun ceritanya tetap aman. Setelah merasa yakin, barulah ia kembali menatap Tara tanpa berkedip.
Sekilas gambaran menari di pelupuk mata merekam adegan khayalan tingkat dewa, "Aku membayangkan si tampan datang menyapaku dan menawarkan diri untuk mengantar pulang. Di sepanjang perjalanan kami hanya saling pandang hingga tangannya tak sengaja menggenggam tanganku ini."
"Kupikir, aku dan dia akan pulang ke rumahku, tapi justru kami ke sebuah hotel bintang lima. Tatapan matanya benar-benar menggoda iman, apalagi setelah kami memasuki kamar pesanan. Apa kamu tahu, aku membayangkan sentuhan tangan kekarnya mulai memainkan kue mochi tanpa permisi.
"Ugghhh ... nikmat dan itu membuat darahku berdesir. Sentuhannya semakin frontal dan aku suka itu, apalagi ketika bibir kelopak bunga merampas bibir tipisku. Semua rasa bercampur menjadi satu menghadirkan kepuasan di setiap kenikmatan. Tara, aku mau lebih dari sekedar khayalan.
"Bisakah aku tidur dengannya semalam saja?" Wulan menatap Tara begitu lemas seolah baru saja digempur semalaman.
Khayalan milik Wulan hanya bercinta dengan pria asing. Sungguh tidak tahu harus berkata apa, tapi imajinasi dari sahabatnya itu akan selalu menjadi referensi tulisan di halaman blog pribadi miliknya. Ia memang seorang penulis blog dewasa dengan tajuk utama gaya olahraga ranjang kekinian.
"Aku gak janji, tapi pasti diusahakan. Lagian kita sudah cari masalah sama tuh anak kecuali kamu mau berbalik arah dan minta maaf sama gadis itu!" ujar Tara memberi saran terbaik setelah berpikir sejenak melihat situasi yang ada.
__ADS_1
Bukan tidak mungkin menuntaskan keinginan dengan berbagai usaha seperti yang biasa mereka berdua lakukan. Akan tetapi, kedua gadis itu masih belum tahu bahwa pria yang mereka bicarakan hanya milik seorang model terkenal dengan sikap ambisius. Wanita yang baru saja kembali ke Jakarta setelah liburan bersama sahabat dan kekasih gelap.
Lambaian tangan masih terlihat dari arah spion dimana Noel dan si kembar memilih pulang menggunakan taksi lain, sedangkan ia pulang sendiri tanpa adanya teman. Puas dengan liburan kali ini karena bisa dimanja sang kekasih gelap tanpa mengingat batasan. Meski begitu, dirinya tidak ingin terlena setelah kembali bersama sang suami.
"Apa suamiku itu ada di kantor? Coba telpon dulu, deh," Hazel mengeluarkan si benda pipih dari dalam tas jinjingnya yang bermerk Hermes. Lalu dengan santai mencari nomor panggilan tak terjawab terakhir yang merupakan dari Bryant, kemudian segera mendial melakukan panggilan suara.
Apa kalian tahu jika Hermes didirikan pada tahun 1837. Hermes adalah merk tas tangan paling mahal dan mewah di pasaran. Rumah mode asal Prancis ini terkenal karena memproduksi barang-barang mewah, termasuk tas kelas atas. Salah satunya bisa kamu lihat dari fenomenalnya tas Birkin, tas ikonik karya Hermes yang paling dicari kolektor.
Setiap tas mewah bikinan Hermes, potongan yang disajikan sangat rapi dan bisa bertahan dalam waktu yang lama. Tak mengherankan bila Hermes membanggakan dirinya sebagai rumah mode yang sangat memperhatikan keahlian dan detail. Jadi banyak wanita dengan kehidupan mewah menjadikan tas dari brand Hermes sebagai pilihan utama.
Suara dering ponsel tersambung, tapi hanya ada nada dering tanpa jawaban. Setelah menunggu beberapa saat yang tanpa ada kepastian, wanita itu mengalihkan panggilan ke kantor tempat suaminya bekerja. Seperti biasa panggilan langsung dijawab oleh seorang asisten yang merupakan sekretaris Bryant.
Penjelasan singkat dari si asisten justru menghantarkan kecurigaan di dalam benak Hazel. Ia tahu seperti apa Bryant dan sang suami akan selalu mengatakan jika melakukan sesuatu, tapi kenapa pria itu tidak memberitahu apapun? Pemikiran egois mulai merenggut ketidakpercayaan diri.
Wanita itu lupa bahwa yang menghindar bukanlah Bryant, melainkan dirinya sendiri. Dimana kesibukan menikmati tubuh pria lain lebih berharga dibandingkan mengurus keperluan suami sendiri. Sungguh tidak habis pikir dengan ego dan ketidaksadaran yang dimiliki Hazel.
"Nona, bisa katakan alamat tujuannya?" Pak Sopir bertanya karena sejak pelanggan masuk mobil masih belum mengatakan alamat.
__ADS_1
Deru napas terdengar begitu kasar dengan tatapan mata teralihkan memandang ke luar jendela. "Jalan xxx dan jangan tanya lagi!"
Jawaban Hazel begitu ketus, membuat pak supir tersenyum kecut. Baru juga menarik penumpang pertama, tapi sudah mendapatkan pelanggan dengan mood tidak baik. Mau, tidak mau harus bersabar dan fokus ke jalanan agar tidak mendapat teguran dari di pengguna jasanya. Sementara di sisi lain, Bryant meletakkan nampan pesanan ke atas meja.
Tatapan mata terus mengamati kesibukan Bunga yang tengah mengerjakan tugas dengan begitu serius. Ia sengaja memesan ruang VVIP di Cafe Star Love agar memiliki quality time dengan sang adik tanpa harus melihat tatapan mata orang yang terkadang berpikir dangkal. Sembari mengawasi, ia menikmati secangkir kopi latte tanpa menawarkan terlebih dahulu.
"Ka Bry, apa aku bisa tanyakan sesuatu?" tanpa mengalihkan perhatian dari buku tebal di depannya, gadis itu memulai perbincangan yang serius.
Hening. Bryant sengaja tidak menjawab karena diam sudah mewakili izin darinya yang pasti dipahami oleh sang adik. Ia bukan tidak suka bicara hanya saja lebih nyaman mendengarkan secara lengkap dulu, baru memberikan jawaban atau solusi yang dibutuhkan.
"Bagaimana cara kita menuntut orang yang melakukan pencemaran nama baik? Apa ada hukum atau klausul yang bisa memberatkan si pelaku? Jika iya, tolong jelaskan pada Bunga!" Bunga mengajukan pertanyaan sekaligus permintaan kecil pada Bryant.
Seorang gadis yang mengambil jurusan bisnis, tapi malah bertanya tentang hukum pencemaran nama baik. Apa tidak salah arah? Jika ingin tahu tentang hukum, bukankah seharusnya mengambil jurusan yang sesuai saja? Wajah Bunga tampak begitu serius, membuat ia tak tega.
"Kakak tidak tahu alasan kamu bertanya tentang hukum pencemaran nama baik. Cuma sebagai tambahan ilmu pengetahuan, maka akan aku jelaskan sesuai dengan keinginan adikku. Sebelum itu, katakan satu hal padaku! Pencemaran nama baik ini terjadi secara langsung atau lewat media sosial?" tanya balik Bryant agar tidak salah memberi ilmu pada adiknya.
Bunga mendongak memperhatikan wajah kakaknya yang sudah dalam mode serius, "Pencemaran nama baik dari media sosial, Ka."
__ADS_1
Pencemaran nama baik akhir-akhir ini marak terjadi sehingga untuk mengetahui apa yang bisa dilakukan. Orang-orang harus memiliki sedikit pengetahuan tentang hukum yang berlaku di Indonesia sebagai bentuk pencegahan dan modal dasar mengenali hasil akhir dari perbuatan tersebut. Jangan sampai ada yang melakukan pencemaran nama baik, apalagi menjadi korbannya.
"Dalam hukum positif di Indonesia, masalah mengenai pencemaran nama baik diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Selain itu, permasalahan ini juga diatur di dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Ambil dulu jus punyamu!" Bryant meletakkan gelas tinggi berwarna biru muda dengan campuran ice cream vanila di depan Bunga.