Karena Cinta

Karena Cinta
Part 130#JANJI UNTUK SIAPA?


__ADS_3

Akbar tidak sedikitpun curiga dengan permintaan Ara, pria itu hanya berpikir jika istrinya membutuhkan waktu untuk dihabiskan bersama-sama. Setidaknya selama beberapa hari ia sadar terlalu sibuk dengan pekerjaan dan memang tidak memiliki banyak waktu luang. Bahkan dirinya pun mengabaikan Anggun yang kemungkinan ikut kesal.


    Namun di rumah sang istri, ia selalu berusaha menjaga jarak agar tidak menimbulkan kecurigaan. Sehingga sangat jarang terlihat melakukan perbincangan bersama istri pertamanya. Alih-alih menimbulkan ketegangan, selama ini berusaha tetap tenang bersikap seperti biasa dengan memperdulikan Ara seorang.


    Akhirnya kedua insan itu duduk bersama di taman belakang menikmati secangkir kopi, cemilan di temani pemandangan alam berupa pepohonan. Tidak begitu luas pekarangan belakang tetapi cukup menjadi tempat pengalihan dari kesibukan dunia luar. Dimana keluarga bisa berkumpul dan melakukan obrolan ringan.


    "Ara, ini jajanan khas Betawi kan? Tumben kamu bikin cemilan beda, ada apa?" tangan sibuk mencomot ongol-ongol yang terlihat begitu menggemaskan dan begitu melahapnya lidah tak mau dihentikan mengecap lezatnya citarasa si makanan ringan.


    Tersenyum lebar melihat tingkat suaminya yang tidak sabaran menghabiskan cemilan buatan tangan sendiri, "Mas, pelan aja makannya. Di dalam masih banyak dan gak ada yang rebut, lagian aku buat cemilan atas permintaan Anggun. Katanya bos di tempat kerja lagi mau ngadain syukuran tapi bingung pesan snack yang alami dimana."


    "Jadi Ara cuma bantu aja, setidaknya bisa memasak untuk banyak orang. Berkah, insya Allah." Ara melanjutkan menyeruput kopi yang takarannya bisa dikatakan tidak seimbang karena ia bukan pecinta kopi, "Oh, iya, bukannya mas pernah bilang mau buka usaha, kenapa tidak cari lokasinya dulu. Nanti biar Ara bantu, gimana?"


    "Soal itu masih belum pasti, yank. Lagian perkebunan harus selalu diawasi jadi lebih baik fokus yang ada dulu," sahut Akbar tak ingin mengubah topik pembicaraan karena perhatian Ara semakin membuat hatinya tak tenang.


    Pikiran benar-benar sudah terkontaminasi oleh kebimbangan antara melanjutkan pernikahan atau meneruskan rencana awal. Akan tetapi sadar selama Anggun menjadi ratu utama maka tidak ada selir yang bisa dijadikan cadangan. Terkadang ia berpikir akan sejauh apa melakukan pengkhianatan dalam janji pernikahan.


    "Itu juga bagus, Mas. Habis ini, Ara mau bersih-bersih dulu. Mas pake kamar tamu aja, ya. Biar nanti pakaian aku langsung siapkan dan gak ketinggalan waktu magrib juga," ucap Ara mengingatkan dengan mengajukan saran tanpa ada permintaan.


    Sekali lagi Akbar menyetujui tanpa mengajukan pertanyaan. Begitulah suaminya yang kalem dan tidak banyak tingkah. Apalagi sikap penyayang tidak perlu diragukan lagi. Setelah menyelesaikan perbincangan akhirnya kedua insan itu meninggalkan halaman belakang, lalu berpencar ke ruangan kamar yang berbeda.


    Seperti yang Ara katakan, dimana wanita itu sengaja mengantarkan pakaian ganti milik Akbar di kamar tamu. Lalu ia kembali masuk ke dalam kamarnya yang ternyata sudah berubah menjadi ruangan indah bertema kamar bulan madu. Sentuhan tangan Anggun cukup memberikan kesan romantis seperti yang diharapkan.

__ADS_1


    "Alhamdulillah kamarnya jadi cantik banget, mending aku kunci dari dalam saja biar mas Akbar gak tiba-tiba muncul dan tahu kejutan dariku. Sabar ya, mas, kamar ini nunggu sampai selesai makan malam." gumam Ara lalu beranjak dari tempatnya dan bergegas melakukan ritual mandi sebelum waktu magrib tiba.


    Niat mempersembahkan diri pada sang suami sudah menjadi tekad bulat Ara. Dimana wanita itu mempersiapkan diri sebaik mungkin bahkan dengan sengaja memakai sabun sampai tiga kali hingga membuat ritual mandinya begitu lama. Sementara di luar sana, Anggun dengan santainya ikut masuk ke kamar tamu mengejutkan Akbar.


    "Sayang, kangen," ucap lirih nan manja yang mengalihkan Akbar dari kesibukannya memasang kancing kemeja. Jemari lentik mengusap dada menahan tangan kekar yang selalu menjadi haknya, "Aku punya kejutan untukmu tapi janji dulu malam ini kita menghabiskan waktu bersama. Ya, ya, please."


    "Singkirkan tanganmu! Gimana kalau Ara tiba-tiba lewat atau masuk ke kamar. Jangan nekat kamu, ya," tangan siap menepis jemari yang memiliki aroma wangi menggoda. Akan tetapi logika masih berkuasa sehingga tak bisa jatuh dalam rayuan begitu saja.


    Sayangnya Anggun tidak peduli bahkan tanpa basa-basi merampas bibir yang ia nikmati begitu saja. Pagutan penuh tuntutan tak bisa dihindari membuat Akbar kesulitan mengimbangi permainan sang istri meski pada akhirnya dialah yang memimpin pertemuan kenikmatan antara dua insan.


    Manisnya kecupan mengawali jejak percintaan tetapi tiba-tiba Anggun menghentikan tangan yang hampir melepaskan benang penutup raganya. "Not like this, aku tunggu malam ini dan janji, kita bisa habiskan sepanjang malam berbagi tempat di atas ranjang. Datang ke kamarku tepat waktu, suamiku sayang!"


    "Kebiasaanmu main terjang tapi ujungnya di gantung sesuka hati. Okay, aku pasti datang menagih janjimu. Sekarang keluar dulu, gih!" sahut Akbar dengan kepastian tanpa tahu rencana Ara yang sudah menyiapkan kejutan malam kebersamaan.


    Sebelum kembali ke kamarnya saat siang, ia tahu bahwa Ara sudah menyiapkan makan malam. Pekerjaan dapur sengaja diterjang sekali waktu dan akhirnya bisa memiliki waktu untuk mempersiapkan diri menyambut malam pertama. Akan tetapi semua itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.


    Dikeluarkannya puding beras buatan Ara dari dalam kulkas, lalu tak lupa memeriksa keadaan sekitar. Anggun menoleh ke sana kemari begitu dirasa aman langsung mengeluarkan botol plastik mini berisi cairan bening seperti air putih dan cairan itu tidak berbau. Kemudian sengaja menuangkan separuh isi botol ke dalam makanan yang dicampur menjadi satu.


    "Semoga mimpi indah, sahabatku tersayang. Obat tidur ini cukup membuat malammu menurut berantakan dan aku pastikan tidak ada malam kehangatan antara kamu dan Akbar. Enak saja mau rebut suami ku," tukas Anggun begitu kesal mengingat dekorasi kamar yang ia buat.


    Semua persiapan sudah dilakukan kini waktunya mengembalikan keadaan tanpa meninggalkan jejak kecurigaan. Alih-alih kembali memasukkan puding beras ke dalam kulkas, wanita itu justru menghangatkan makanan. Lalu dengan tangannya sendiri menyiapkan meja makan untuk makan malam. Sedikit membantu pekerjaan rumah maka sudah dianggap tahu diri.

__ADS_1


    Sepuluh menit waktu yang dibutuhkan untuk membuat meja makan berubah menjadi pemandangan sedap dipandang bahkan aroma makanan begitu menggiurkan. Tidak memungkiri bahwa tangan Ara memiliki keajaiban setiap kali membuat makanan. Ia sendiri terkadang iri tapi untuk urusan dapur lebih baik menghindar.


    "Anggun, apa yang kamu lakukan? Sudah biar aku aja," Ara mempercepat langkah kakinya menuruni anak tangga. Wanita itu terkejut dengan kesibukan sang sahabat yang justru menyiapkan meja untuk makan malam bersama.


    Hati merasa tidak nyaman membiarkan tangan yang dianggap sebagai saudara malah sibuk menjadi seorang pelayan. Meski tidak pernah memikirkan hal demikian, apalagi melihat senyuman Anggun yang terlihat tulus melakukan pekerjaan rumah. Semakin membuat hati tak enak saja.


    "Sini, biar aku yang lanjut aja," baru saja ingin mengambil alih tapi Anggun justru menarik tangannya. Wanita satu itu membimbingnya hingga duduk di kursi biasa, "Apa yang ...,"


    "Udah diam dulu, seharian ini kamu bantuin aku. Masa kerjaanku cuma nyusahin kamu, sih. Anggap sebagai ucapan terima kasih, kebetulan suamimu juga udah datang. Ayo, kita makan malam bersama!" ajak Anggun begitu semangat memberikan pelayanan total pada keluarga Ara.


    Perlakuan tak biasa Anggun menarik perhatian Akbar hingga pikiran pria itu menerka-nerka, sedangkan Ara malah terharu merasakan kehangatan seorang sahabat yang akhirnya benar-benar seperti saudara. Malam yang indah dengan cinta kasih keluarga. Ia merasa setelah sekian lama menemukan kebahagiaan sempurna.


    Selamat menikmati hadiah dariku, Ara. Malam ini bisa kupastikan semua persiapanmu menjadi sia-sia karena hanya aku yang pantas menjadi ratu di kehidupan mas Akbar.~ucap batin Anggun menyajikan makanan ke piring mereka bertiga dan tidak lupa menuangkan puding beras di mangkuk khusus.


.


.


.


__ADS_1


Jangan lupa kepoin karya temen othoor, ya ☺


__ADS_2