Karena Cinta

Karena Cinta
Part 56#KARENA BAKSO


__ADS_3

Bunga melihat gambar bakso dengan berbagai ukuran dan juga tak lupa membaca nama menu satu per satu agar tidak salah paham dengan tingkat pedas yang memang dirinya harus sangat berhati-hati. Tatapan mata yang kebingungan terlihat jelas membuat si pemuda menahan diri agar tetap bersabar menunggu pelanggan sampai mengatakan pesanan.


"Loh, belum pesen juga tho?" tanya bunda Widya yang baru masuk sedikit lama setelah mengangkat telepon dari orang rumah.


Bunga mendongak, lalu menoleh menatap kedatangan bunda Widya yang tengah menarik kursi di sisi lain meja. Seulas senyum ia sunggingkan, "Belum, Bu. Bunga bingung sama menunya, mau yang bakso mercon rapi terlalu pedas."


"Oalah gitu, tho. Bunga suka keju, ndak?" tanya bunda Widya dan disambut anggukan kepala oleh si gadis mata hazelnut. "Aden, bunda pesen seporsi bakso mercon mix keju buat Bunga sama bakso beranak juga satu porsi, ya!"


"Siap, Bunda. Ditunggu pesanannya, permisi!" Pemuda itu pamit undur diri tanpa membuka masker yang menutupi wajah tampannya bahkan Bunga tidak menyadari akan keberadaannya di dekat gadis si mata hazelnut.


Sesuai dengan estimasi waktu yang tertulis di list menu. Dimana setiap pemesanan bakso akan disajikan dalam waktu kurang dari lima menit sampai sepuluh menit dan tergantung dengan kondisi ramai tidaknya pengunjung yang datang. Suasana pasar malam memang ramai, tapi tak semua pedagang disambangi oleh para pembeli termasuk usaha bakso Mas Bro.


Lima menit menunggu bukanlah waktu yang begitu lama hingga aroma harum khas bakso menguar, menyebar, menyeruak indra penciuman sehingga mengalihkan perhatian kedua pelanggan ke arah datangnya pesanan mereka. Tatapan mata berbinar begitu melihat nampan diletakkan ke atas meja dengan isi dua porsi bakso sesuai pesanan.


Tangan seorang pemuda dengan rambut dikuncir belakang meletakkan semangkok bakso beranak di depan bunda Widya, lalu mengambil mangkuk kedua yang ia letakkan di atas meja depan Bunga, kemudian mengangkat nampan kembali ke pelukan, "Selamat menikmati, bunda dan siapa nama kamu?"


"Bunga. Terima kasih," ucap Bunga tanpa memberikan senyum karena ia tidak suka senyum untuk orang asing apalagi dari kalangan kaum adam.


Bukan sombong, tapi lebih baik menjaga diri seperti yang selama ini dia lakukan. Sikap Bunga memang selalu dingin ketika sudah bersinggungan dengan para lelaki. Bagi gadis itu hanya ada seorang penguasa hati dan pria yang sangat dirinya cintai yaitu sang paman tercinta. Alkan Putra.


Bunda tersenyum lebar melihat cara Bunga begitu cuek yang katanya kalau gadis dingin malah bucin ketika sudah menemukan tambatan hati. "Daffa, nanti tak bilangin umi mu kalau kamu godain anak gadis pas kerja, loh. Balik ke belakang aja temenin aden!"

__ADS_1


"Astaghfirullahalazim, Bunda gak friend. Belum juga kenalan sama neng geulis malah udah diusir aja," Daffa terkekeh pelan sebab ia tak serius dengan ucapannya. "Selamat menikmati neng Bulan dan bunda Wiwi. Jangan komplen, ya, pokoknya nama gadis ini Bulan dan khusus made in by Daffa Hafidz Ibni."


Daffa Hafidz Ibni bermakna anak laki-laki yang memelihara sesuatu dan banyak memiliki pertahanan diri. Dimana jika dibagi berdasarkan satu per satu kata maka akan memiliki arti sama. Daffa bermakna banyak memiliki pertahanan diri. Hafidz bermakna yang memelihara sesuatu. Ibni bermakna anak laki-laki.


Langkah kaki Daffa berjalan menjauh dari meja tempat Bunga dan bunda Widya, membuat kedua wanita itu mulai menyantap makanan yang sudah dipesan. Setiap suapan benar-benar dinikmati tanpa ada keluhan dan tidak ada obrolan sebagai teman. Keduanya sama-sama tenggelam akan citarasa bakso Mas Bro.


Seporsi bakso yang hanya dihargai tiga puluh ribu per porsi sudah memberikan kenikmatan dari segi rasa, tekstur dan juga tingkat pengolahan bahan utama. Lidah benar-benar dimanjakan bersambut kepuasan atas pemilihan menu makan malam di pasar malam. Tak terasa dua puluh menit berlalu bahkan pengunjung lain sudah mulai berdatangan, tapi bakso di mangkuk Bunga masih separuh.


"Bunga kenapa wajahmu memerah?" Bunda Widya bertanya dengan suara panik, ia tak sengaja melihat perubahan warna putih yang mulai memerah seperti orang kepedesan atau gadis itu punya riwayat alergi.


Bunga menggelengkan kepala dan tak lupa tersenyum manis agar bunda Widya tidak khawatir. Tangan satunya digunakannya untuk menahan perut yang terasa melilit. Sebenarnya semua aman hanya saja ia lupa belum makan sejak siang karena keasyikan tidur dan tidak sempat mengganjal perut dengan roti maupun buah.


Bunda Widya beranjak dari tempat duduknya, wanita itu segera memeriksa suhu tubuh Bunga. Dari gejala yang dilihat ia tahu bahwa gadis itu sedang menikmati rasa sakit meski berusaha menyembunyikan darinya. Tangan yang mulai lemas dan wajah justru berubah berbanding terbalik.


Kepanikan bunda Widya masih berusaha untuk menenangkan Bunga. Padahal gadis itu tidak mengatakan sepatah katapun selain tersenyum hingga seseorang meletakkan susu kotak frisian flag diatas meja, "Minum ini! Susu akan menetralisir rasa sakit di perut mu."


Susu memiliki kandungan protein kasien sehingga mampu mengikat serta melarutkan capsaicin yang menjadi penyebab perut terasa panas dan terbakar setelah makan pedas. Jadi ketika perut panas setelah makan pedas yang pertama adalah dengan minum susu ataupun produk olahannya. Salah satu cara ampuh agar perut yang panas bisa kembali normal.


Namun Bunga tidak bisa meminum susu sebab saat ini kondisinya juga tengah menikmati asam lambung yang naik. Sementara susu tidak dianjurkan dikonsumsi ketika seseorang dalam keadaan maag kambuh. Hal itu dikarenakan susu termasuk dalam jenis makanan dan minuman yang memperburuk kondisi.


Melansir laman The Surgical Clinic, dijelaskan bahwa susu dan produk olahannya memiliki kandungan lemak yang tinggi. Apabila dikonsumsi, maka dapat membuat gejala asam lambung seperti heartburn memburuk. Maka dari itu Bunga hanya menatap susu kotak tanpa ingin menyentuhnya, apalagi mencoba mencicipi meski rasa susu adalah strawberry.

__ADS_1


"Bunda, sepertinya gadis ini tidak mau sembuh. Lebih baik dibawa pulang saja!" tukas pemuda itu yang tanpa basa-basi menyindir Bunga.


Bunda Widya mengangguk paham, "Bunga, kamu masih kuat jalan?" tanyanya yang benar-benar khawatir akan kondisi si gadis mata hazelnut.


Hening tidak ada jawaban, tapi Bunga mengeluarkan selembar kertas merah yang ia letakkan di atas meja. Lalu berusaha bangun dengan menahan tubuhnya yang tidak seimbang. Niat hati ingin menguatkan diri agar tidak merepotkan siapapun tapi tiba-tiba ia merasa kepalanya dihantam sesuatu.


Ntah apa yang terjadi hanya saja perlahan tapi pasti pemandangan di depannya kabur berubah samar dan berakhir gelap bersambut tubuh limbung ke belakang menghapus kesadaran yang tersisa. Suara teriakan terdengar begitu lirih seolah yang berbicara berada jauh ratusan kilometer darinya.


"Bunga baik-baik saja ...," gumam Bunga sesaat sebelum sepenuhnya jatuh tak sadarkan diri.


.


.


.


...🙃🙃...


...Author minta maaf ya, kalau karyanya jadi slow updates. Apa yang terjadi memang tidak bisa diubah, sebagai manusia cuma belajar dan mawas diri. Percuma ngeluh panjang kali lebar. Pada intinya semua hanya permainan bisnis dengan taktik pemasaran. ...


...😊😊...

__ADS_1


__ADS_2