
Pertanyaan Ziyad, membuat si pria berbalik tanpa melepaskan tangan yang masih bersedekap. Tatapan mata bersambut membalas pandangan mata yang terlihat di penuhi tanda tanya. Jika ia jadi Ziyad, mungkin saja memiliki rasa penasaran yang besar.
Langkah kaki berjalan maju mendekati ranjang membuat Ziyad waspada tetapi raga pria itu terlalu lemah hingga tak bisa bergerak bebas. Apalagi kepala semakin terasa berputar bak gasing. Ada rasa takut terpancar dari tatapan matanya yang membawa kepercayaan diri seorang pembunuh bayaran.
"Farhan Ziyad Raif. Seorang pembunuh bayaran dengan keterampilan penembak jitu kelas pertama dan bayaran satu pekerjaan adalah seharga dua milyar. Kesalahannya hanya satu, klien terakhir berkhianat dan membuat kehancuran dalam kehidupannya.
"Dimana seorang ayah dari dua putri yang berusia sepuluh tahun dianggap sampai ketika mantan istri merebut hak asuh anak dengan tuduhan pelecehan seksual. Kehidupan yang menyedihkan, tapi aku hanya ingin bertanya satu hal saja. Siapa target terakhir yang ingin kamu lenyapkan?"
Satu pertanyaan balik dari pria yang berdiri di depan samping ranjang membuat Ziyad memejamkan mata. Sakit dengan rasa sesak di dada ketika kenangan masa lalu harus terlintas kembali. Padahal selama tiga tahun terakhir sudah berusaha sebaik mungkin untuk melupakan.
Jika boleh meminta, ia ingin hilang ingatan saja. Terlalu menyakitkan ketika kehidupan bahagia berubah menjadi petaka. Siapa yang akan menyangkal dari takdir Sang Pencipta? Ia tak ingin ada keributan antara hati dan akal sehat, lagi. Akan tetapi keadaan memaksakan untuk mengingat semua itu.
"Stop! Aku tidak mau mendengar apapun. Siapa kamu dan kenapa ingin tahu tentang targetku? Semua orang itu pendusta, ya, cuma penipu. Jangan kamu pikir, aku bisa percaya begitu saja!" Ziyad menutup kedua telinganya agar tidak perlu mendengar apapun.
Namun apa yang ia lakukan tidak akan mengubah kenyataan dari kehidupan masa lalu. Hanya saja ketika seseorang menghindari fakta, maka harus menunjukkan bukti. Sehingga tanpa basa-basi, si pria pemberi pertanyaan menyambar laporan dari atas nakas.
Kemudian dilemparkan ke atas ranjang di depan Ziyad. Tatapan mata tenang tanpa ingin memberi penekanan, "Jangan percaya padaku atau orang lain. Percaya saja pada kemampuanmu itu! Aku disini untuk tujuan egois dan tidak ingin menjanjikan apapun pada seorang pembunuh bayaran sepertimu."
__ADS_1
"Kecuali kamu sendiri yang mengajukan kontrak kerjasama. So don't get me wrong because I'm not a hero or a cheater," sambungnya tanpa ingin mengucapkan kata-kata manis hanya untuk menggaet kepercayaan Ziyad.
Lagipula sebagai seorang pria, ia tidak berniat melukai ego pria lain. Apalagi ketika sudah menyangkut pekerjaan dan keluarga. Kekuasaan ada di genggaman tangan dan itu bukan berarti ia harus mendapatkan semua keinginan dalam sekali permintaan. Semua hal pasti membutuhkan perjuangan masing-masing.
Diam tanpa kata menunggu Ziyad memeriksa laporan sejarah dari kehidupan seorang pembunuh bayaran. Dari gerakan mata yang terlihat sesekali melotot menyadarkan si pria penguasa bahwa tahanannya tengah terkejut. Ia tahu seberapa detail rincian dari setiap misi dan kebiasaan Ziyad.
"Bagaimana bisa sejarah ini tertulis?" Ziyad tercengang, pria itu merasa menjadi seseorang yang sangat diperhatikan. Semua informasi menunjukkan identitasnya, tapi beberapa kebenaran baru diketahui.
Ia tidak tahu harus berkata apa sebab kesiapan dari orang di depannya bukanlah hal wajar dan dianggap tanpa rencana. Pikiran menyadari bahwa kali ini, dirinya berhadapan dengan pria cerdik nan pintar. Hati bahkan tak sanggup meragukan akan kebenaran yang tertulis tanpa kata.
"Aku memberimu dua pilihan. Pilihan pertama beritahu aku target terakhirmu atau ambil pilihan kedua yaitu pergi tanpa mengatakan apapun. Apapun pilihanmu menjadi tanggung jawab tanpa bisa dipertanyakan. Pikirkanlah, lalu katakan keputusanmu!
Ketika kehidupan dihadapkan dengan kenyataan masa lalu. Banyak keraguan hati yang kembali menyapa. Terkadang berselimut rasa takut, kekecewaan bahkan kesedihan karena duka yang mendalam. Akan tetapi beberapa kehidupan milik orang hanya tentang kebahagiaan.
Namun tidak dengan kehidupan Ziyad. Pria itu memang seorang pembunuh bayaran handal hingga takdir pengkhianatan datang memporak-porandakan kehidupan damainya. Misi terakhir dengan klien orang ternama dan target utama hanyalah seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan besar.
Sekelebat ingatan kembali datang menyapa. Dimana ia tengah duduk melihat profil seorang pria biasa dengan seragam kantor. Ada nama, alamat, pekerjaan dan semua detail rutinitas harian dari sasarannya. Cukup aneh ketika orang besar yang notabene pemimpin perusahaan ingin melenyapkan pria biasa.
__ADS_1
"Pria ini hanya warga biasa. Apa tidak salah memberikan pekerjaan ini padaku? Tuan bisa saja menyewa preman hanya untuk menakut-nakuti pria seperti dia. Kenapa melenyapkan?" tanya Ziyad setelah memastikan target dari misinya.
Apa pedulinya dengan pertanyaan basa-basi dari seorang pembunuh bayaran. Siapa target dan kenapa harus dilenyapkan, bukankah itu urusan klien tanpa harus menjelaskan masalah secara detail. Rasa penasaran bukanlah hal baik ketika semakin besar.
Suara tepuk tangan terdengar begitu jelas dan berhasil mengalihkan perhatian Ziyad dari berkas sang target dan bersambut sekoper uang yang diletakkan diatas meja kaca. Lembaran kertas yang bisa menjadi alat pemenuh kebutuhan hidup.
"Satu milyar bayaran di muka dan sisanya setelah pekerjaan selesai. Deal or not?" si pria penyewa jasa Ziyad mengulurkan tangan kanan di samping koper menunggu sang pembunuh bayaran menerima kerjasama dengan menjabat tangannya.
Uang bukan segalanya tapi segala-galanya memerlukan uang. Pepatah ini bisa menjadi pemicu keserakahan atau justru keegoisan hati. Meski tak semua orang kehilangan akal sehat karena kenyataannya adalah semua mencari jalan rezeki masing-masing dan tidak semua kehidupan bisa memiliki dunia baik.
"Deal!" Ziyad menyambut tangan sang penyewa dan kesepakatan terjadi, tapi semua itu justru menjadi awal badai kehidupan.
Di malam gelap tanpa sinar rembulan. Aksi yang seharusnya mulus dan tidak ada jejak selain meninggalkan raga tak bernyawa di atas ranjang. Pria itu tak menyangka ketika si penyewa justru memanggil polisi sehingga membuatnya menjadi buronan dan sang sasaran hanya mengalami luka ringan saja.
Setelah berusaha melarikan diri selama beberapa hari. Tekad bulat mencari tahu kebenaran yang ada membawa ia pada kehidupan baru. Dimana ia menemukan fakta bahwa orang yang ingin dilenyapkan adalah seorang pebisnis ternama dan dalam misi penyamaran.
Pria yang dia pikir karyawan biasa ternyata putra tunggal dari perusahaan tempat sang sasaran bekerja dan orang yang menyewanya hanyalah anak angkat. Fakta itu hanya memiliki satu asumsi yaitu perebutan tahta dan ketika hari eksekusi berlangsung telah terjadi kesepakatan antara klien dan sasarannya.
__ADS_1
Sekelebat ingatan membawa amarah hati yang hampir terlupakan. Ada duka di dalam jiwanya tetapi tak seorangpun akan memahami. Lalu, apa ada bedanya jika ia mengatakan target sasarannya itu pada seorang pria asing?
"Ziyad, kedua putrimu tidak aman bersama suami mantan istri mu. Apa kamu tidak mau tahu, siapa nama pria itu?" di pria penguasa sengaja berhenti sebelum membuka pintu kamar. Lalu ia menoleh ke belakang melihat Ziyad yang juga menatapnya. "Basam Adis Maajid. Klien yang mengkhianatimu!"