
Akhirnya tidak bisa membantah keputusan Al sebab sebagai seorang ayah, ia juga mengharapkan yang terbaik untuk putrinya. Jika dengan mengajarkan bisnis sejak dini maka bisa membantu keluarga di masa depan maka tidak perlu dihentikan. Selain itu, metode dari keponakannya masih ramah lingkungan.
Sehingga dengan tangan terbuka membiarkan Al mengajak Bunga bermain monopoli di taman dalam dimana kedua insan itu menghabiskan waktu bersama tanpa ada gangguan. Sudah hampir satu jam fokus dengan permainan dan pembelajaran hingga lupa jam makan siang. Bahkan membuat mama Milea kewalahan.
"Pa, udah tiga kali mama panggil kedua anak bandel itu cuma buat datang ke meja makan tapi sampai berbusa ngomongnya juga gak digubris. Papa yang panggil sana!" ucap ketus mama Milea dengan kedua tangan berkacak pinggang.
Dongkol sudah pasti, kesal apalagi. Jika tidak ingat Bunga dan Al sebagai anak kesayangan, sudah pasti lebih bebas menarik telinga kedua anak itu. Hanya saja terlalu sayang dan lebih aman tanpa melakukan kekerasan. Lagipula Al sendiri bukan anak kecil yang bisa di atur, pria satu itu pasti lebih sering melewatkan jadwal makan teratur.
__ADS_1
Papa Bima beranjak dari tempat duduknya, lalu meletakkan koran yang baru setengah dibacanya, "Jangan keras-keras sama mereka, Ma. Biar papa temui dan bawa mereka ke sini, mama lanjut siapin menu makan siangnya aja. Sabar, ok."
"Iya, iya, Pa. Jewer aja kalau masih pura-pura tuli, ya. Biar punya telinga itu berguna," sahut mama Milea melampiaskan sisa amarahnya, membuat papa Bima menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
Seorang ibu hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Termasuk dalam hal kecil sekalipun seperti dengan memperhatikan pola hidup. Semua pasti diusahakan sesuai dengan kemampuan orang tua. Akan tetapi memang tidak mudah mengatur anak ketika sudah semakin dewasa.
"Andai Al umurnya tidak jauh dari Bunga, mending aku jodohin mereka berdua. Keluarga manapun pasti mempertimbangkan untuk memiliki calon menantu idaman dan keponakanku itu, termasuk pria berkelas tapi sayang, gagal move on." gumam papa Bima dengan pemikiran yang tiba-tiba saja datang mengetuk benak pikiran.
__ADS_1
Sebagai salah satu saksi sejarah kehidupan Al dan Angkasa, ia seperti pria ketiga di antara dua pria tenar. Kehidupan tak luput dari hiruk pikuk kisah cinta dan patah hati. Termasuk terlibat dengan lingkaran asmara sang tuan muda kedua keluarga Putra saat masih menjadi pemuda biasa meski sudah memiliki pengaruh di dunia bisnis milik keluarga.
"Bunga, kita akhiri permainannya. Papa mu sudah datang dan pasti mendapatkan titah dari ka Milea. Pergilah, biar aku bereskan sendiri papan monopoli nya." ujar Al yang menyadari keberadaan Bima padahal masih di luar setapak taman.
Perkataan Al membuat Bunga mengalihkan perhatiannya, gadis itu menoleh ke sana kemari mencari keberadaan papanya dan benar saja, seorang pria berdiri tak jauh di batas rumah dan taman dalam. Rupanya sang papa sudah turun tangan maka lebih baik bergegas meninggalkan kesibukan agar tetap mendapatkan kasih sayang orang tua.
"Bunga pergi dulu, om. Jangan lupa janjinya, ya, om." seru Bunga sembari berlari meninggalkan Al yang mengabaikan tanpa menunjukkan seulas senyum perpisahan.
__ADS_1