Karena Cinta

Karena Cinta
Part 88#PELUKAN, KEBERSAMAAN


__ADS_3

Bukannya mejawab, gadis itu malah lebih mengeratkan pelukan hingga membuat Al merasa telah terjadi sesuatu pada keponakannya. Sikap agresif Bunga memang tidak biasa terlebih lagi di saat ada orang lain yang berada di dekat mereka berdua. Meski begitu hanya bisa membiarkan agar sang keponakan mendapatkan ketenangan.


"Zack, putar balik ke lokasi yang seharusnya!" satu perintah kembali dilontarkan agar mereka tidak hanya diam.



Akhirnya mobil kembali melaju, sedangkan Al terpaksa diam menjaga Bunga. Tidak tahu apa yang terjadi pada keponakannya itu hingga tak mau bergerak dari posisi mereka saat ini, selain hanya bisa mengusap kepala dan bersikap layaknya orang tua terhadap anak dengan perasaan mengayomi. Sedikit canggung tetapi tetap bertahan.



Laju kendaraan mulai stabil setelah melewati persimpangan. Dimana mobil memasuki kawasan perumahan yang membuat Zack bisa menambah kecepatan mengingat lingkungan bukan jalur demonstrasi. Sebenarnya arah yang ditunjuk Bunga sedang ada massa di beberapa tempat. Oleh sebab itu lebih baik berhati-hati agar tidak menimbulkan hal tak diinginkan.



Suara derit pintu gerbang mengalihkan perhatian Bunga yang hampir saja terlelap karena saking nyamannya berada di pelukan sang paman. Tanpa melepaskan pegangan, kepala menyembul dengan tatapan mata memperhatikan sekitar. Halaman depan dengan deretan bunga warna warni, di tengah-tengahnya juga ada ayunan berhias tanaman rambat berbunga putih nan cantik.



"Om, kok ke rumah mama? Emang ada apa?" tanyanya spontan seraya melepaskan diri.



Kediaman Putra ada di depan mata. Ia tak menyangka pamannya itu malah memilih pulang, sedangkan niat hati ingin menikmati makan berdua. Apa boleh buat, sebagai balasan juga sudah mendapatkan pelukan hangat. Bukan mesum, tapi hanya dijadikan sebagai pelepas rasa rindu saja.



Begitu mobil berhenti, Zack bergegas turun dan membukakan pintu belakang. Pria itu mempersilahkan sang tuan agar keluar dan disusul Bunga, si nona kecil yang lebih sering membuat dirinya harus menahan kekesalan. Siapapun pasti tak senang ketika mendapatkan julukan uncle muka datar.


__ADS_1


"Kita makan bareng keluarga, lagian kamu sudah lama tidak pulang. Jangan membantah atau masa izin yang papamu berikan kutarik sekarang juga. Ayo, masuk ke dalam!" tegas Al membungkam Bunga yang sudah siap membalas ucapan.



Gadis itu pasrah hingga sorot matanya meredup. Meski begitu tidak ada yang salah. Apalagi melihat tubuh keponakannya semakin kurus tak terawat. Baru juga menginjak dua bulan hidup mandiri sudah terlihat begitu banyak perubahan. Meski penampilan akan selalu cantik, anggun dan menawan.


Sabar, Bunga. Om masih jadi kesayangan, kamu harus kalem. Kalau Om tidak masalah dengan kebebasanku, semua pasti aman terkendali.~gumam batin Bunga menurut perkataan Al.


Dimana mereka berdua masuk ke dalam rumah bersama-sama, sedangkan Zack lebih nyaman mencari teman di pos penjagaan. Setidaknya sebentar saja terbebas dari pekerjaan dan bisa bersantai. Lagi pula bos besar juga sedang bersama keluarga, maka lebih baik dibiarkan saja.


Langkah kaki berjalan beriringan memasuki aula depan tetapi menemukan pemandangan tak biasa yang sudah lama terlupakan. Di depan sana, Bryant sedang berbaring di pangkuan mama Bella. Layaknya seorang anak tengah mengadu pada orang tua. Sungguh hati merasa lega melihat hal luar biasa.



"Malam semuanya, ka Bry disini juga. Seru, nih!" seru Bunga yang berlari menghampiri semua orang.




"Bunga, bukannya kamu di asrama. Kata Milea mau mandiri selama tiga bulan. Apa semua baik-baik saja?" Papa Angkasa membuka percakapan agar kebersamaan tidak terlewatkan karena momen harus selalu menjadi quality time family.



Si gadis mata hazelnut menganggukkan kepala mengiyakan pernyataan papa keduanya. "Alhamdulillah, semua baik dan berangkat kuliah pun lebih dekat. Bunga juga punya teman banyak, kehidupan di luar begitu luas. Apa papa izinin aku di asrama sampai tamat kuliah, ya?"



"De, janji awal kan cuma tiga bulan. Om Bima mana mau kasih discount. Tiga bulan saja udah berasa tiga ratus tahun. Saran kakak, tetap nikmati waktu sesuai perjanjian dan untuk menjelajahi dunia begitu banyak jalan. Tanya saja om Al, iya gak, om?" Bryant melirik ke arah Al. Dimana pamannya tampak memejamkan mata.

__ADS_1



Sepertinya perjalanan bisnis kali ini cukup melelahkan. Apalagi saat ke kantor juga mendengar selentingan kabar tak mengenakkan dan untuk mengetahui kebenarannya. Maka ia harus berbicara empat mata dengan sang paman. Hanya saja tidak malam yang sama mengingat harus memberikan waktu untuk beristirahat terlebih dahulu.



"Kalian sudah dewasa dan harus selalu ingat bahwa setiap tindakan harus dipertanggungjawabkan. Baik itu tindakan benar atau salah, keduanya sama-sama memiliki resiko. Belajar dari orang dewasa, tetapi jangan melupakan untuk menjadi diri sendiri!



"Ketika orang tua menasehati, dengarkan, pahami dan pilih dengan benar! Semua hal jangan langsung ditelan bulat sampai tidak tau cara membedakan mana benar dan mana salah. Ini berlaku untuk kita semua. Ka, apa bibi sudah selesai menyiapkan hidangan makan malam?"



Al menyudahi nasehat singkatnya karena memang tidak ingin terlalu dalam menyenggol perasaan Bryant. Melihat ekspresi sang keponakan, ia tahu saat ini pria muda itu sedang dalam dilema. Penyebab utama sudah pasti Hazel. Jika mengenai pekerjaan, sudah pasti tidak akan sampai pulang ke rumah utama.


"Nanti juga bibi kesini kalau sudah siap. Ngomong-ngomong, tadi dokter Michael telpon dan mengatakan sesuatu yang aku tidak paham. Apa kalian punya masalah kesehatan?" papa Angkasa menatap Bunga dan Al secara bergantian.


Tentu saja ia merasa heran karena selama ini semua anggota keluarga selalu menjalani medical cek up. Meski begitu bertanya adalah cara terbaik agar tahu keadaan masing-masing, tetapi adiknya menggelengkan kepala. Begitu juga dengan Bunga yang membuat hari merasa lega karena semua baik-baik saja.



"Sebenarnya di dekat tempat tinggal Bunga ada warga yang memiliki anak seumuran dengan kakak senior. Namanya Agam dan pemuda ini mengalami depresi berat. Tadi ada pertemuan karena aku berniat menolong hanya saja kasus tidak sesederhana yang terlihat.


"Dari catatan sudah melakukan hipnoterapi yang dianggap menjadi bagian dari psikoterapi. Dimana dengan cara seorang hipnoterapis akan mengeksplorasi pikiran, perasaan, atau ingatan menyakitkan secara alami tetapi tersembunyi di dalam alam bawah sadar. Sayangnya di saat melakukan sesi hipnoterapi ini justru menambah rasa takut Agam semakin berlipat ganda.


"Dokter Michael yang membaca hasil laporan medis pemuda itu menjelaskan jika metode hipnoterapis tidak bekerja dengan baik. Agam yang pada awalnya masih berusaha untuk mendapatkan kesadarannya kembali justru termonitor pada ingatan masa lalu. Pemuda itu sekarang terjebak di keheningan ruang dan waktu."


Penjelasan yang masuk akal. Apalagi seorang penderita depresi berat memang tidak mudah disembuhkan. Meski begitu, setiap usaha sekecil apapun akan membuahkan hasil suatu hari nanti dan itulah yang diyakini bu Ipeh. Sementara Bunga hanya berusaha membantu agar beban hati seorang ibu bisa diringankan.

__ADS_1



"Nak, keluarga kita juga punya yayasan. Jika kamu mau, kenapa tidak bergabung di sana saja? Di yayasan bisa menentukan orang-orang yang mendapat bantuan dan setiap bulannya selalu disediakan dana oleh keluarga sebagai bentuk amal. Selain itu yayasan baru siap menjadi awal perjalanan mengenal dunia luas. Bagaimana?" mama Bella senang memiliki putri yang baik sebagai bentuk dukungan tentu ia bisa menawarkan pondok baru agar dijadikan milik Bunga.


__ADS_2