Karena Cinta

Karena Cinta
Part 75#PERTANYAAN?


__ADS_3

Pertanyaan jelas atas harapan akan mendapatkan jawaban penolakan dari istrinya membuat hati tersadar bahwa hubungan antara ia dan sang istri tak ubahnya roda kehidupan yang tak berjalan. Lalu, apa sekarang masih harus kekeh dengan menggenggam harapan palsu?



Ketidakberdayaan yang Bryant alami membelenggu hati dalam rasa kekecewaan. Pria itu sungguh tak bisa menemukan jalan pulang yang bisa dirinya anggap sebagai rumah. Padahal seluruh kehidupan saat ini sudah dirinya curahkan agar bisa menjadi suami bertanggung jawab.



Namun, apalah daya tangan tak sampai karena istri yang diharapkan memberi kebahagiaan justru selalu mengedepankan ego tinggi dari emosi hati. Masa-masa kebersamaan hanya sekedar sebagai pelampiasan hasrat dan berakhir titik kesibukan masing-masing.



Sementara di sisi lain, seorang wanita menurunkan kaki dari atas ranjang seraya tangan mengucek mata yang terasa berat dan tak mau terbuka. Rasa kantuk benar-benar menguasai dirinya tetapi rasa haus semakin menyiksa. Tentu yang dibutuhkan hanya segelas air putih segar dari dalam kulkas.



"Eh, kemana perginya mas Akbar?" belum juga beranjak dari tempat tidur. Mata sipit mengedarkan pandangannya menelusuri area kamar dari satu sudut hingga ke sudut lainnya.


__ADS_1


Dentingan suara jam menunjukkan waktu sudah pukul sepuluh malam. Sekilas ingatan, dimana ia mengingat sebelum tertidur baru saja memperhatikan suaminya yang dengan penuh sayang membagi segelas minuman bersama. Lalu, bagaimana dirinya bisa terbangun hanya seorang diri?



Tidak berpikir negatif tetapi hanya penasaran atas keberadaan suaminya saat ini hingga tanpa menunda lagi. Wanita itu melangkahkan kaki berjalan meninggalkan kamar, hati yakin bahwa sang suami pasti sedang sibuk mengurus pekerjaan di bawah. Keyakinan tersebut menghadirkan kedamaian karena selalu memberi kepercayaan pada ikatan sakral.



"Mas Akbar, apa kamu di dalam?" Ara mengetuk pintu sebuah ruangan yang mana ruang itu merupakan tempat untuk bekerja mendiang ayahnya.




"Huft, rupanya malam ini sudah mulai dingin. Apa sudah masuk musim ketiga, ya?" tanyanya bermonolog pada diri sendiri. Niat hati mengharapkan segelas minuman dingin, tapi begitu merasakan perubahan cuaca yang ekstrim tangan menyibukkan diri menyiapkan secangkir kopi.



Dua cangkir diletakkan ke atas nampan, lalu ia menuangkan sesendok gula pasir dan ditambah satu sendok setengah kopi kapal api. Takaran yang dibuatnya memang menghasilkan citarasa kopi pahit berpadu manis sedikit yang tentunya sesuai kesukaan Akbar, sang suami.

__ADS_1



Entah dimana pria itu berada, tapi ia tahu bahwa suaminya membutuhkan kopi untuk menghangatkan badan. Jadi sebagai istri baik dan pengertian, maka tugasnya membersihkan kebahagiaan tanpa ada permintaan. Kesibukan Ara sembari memikirkan cinta ternoda oleh kebenaran yang ada.



Dimana wanita itu tidak menyadari bahwa pria yang menguasai hati serta pikiran tengah disibukkan memanjakan raga polos di bawah kekuasaan sang penawan. Bahkan menghasilkan suara lenguhan manja tak berkesudahan menikmati sentuhan yang menggairahkan hingga membangkitkan hasrat terpendam.


"Sayang, kenapa tidak melakukannya di rumah saja?" pertanyaannya bukan mengharapkan jawaban karena ia tahu prianya hanya mengantisipasi agar tidak terjadi kesalahpahaman atas kebenaran yang ada.


Gerakan raga yang meliuk-liuk terus bertahan mencoba mendapatkan kepuasan tetapi sungguh permainan baru saja dimulai sehingga tidak ada kata pemisahan tanpa puncak pelepasan. Ia mendengar sebaris keluhan berbentuk pertanyaan, tapi itu bukan kejujuran.



"Jangan merusak suasana, yank. Biarkan malam ini kita bercinta tanpa perdebatan. Paham!" tegasnya tak mengharapkan suara selain pelebur nikmat dalam kebersamaan dan penyatuan.



Malam kian menjelaga menuju peraduan kegelapan di antara awan gelap menghiasi langit tak berbintang yang menghantarkan kesunyian menyambut kehangatan sang mentari dengan iringan nada merdu kicauan burung. Tak terasa pagi hari datang mengawali hari baru kehidupan.

__ADS_1


__ADS_2