
Hari berganti begitu cepat tanpa terasa sinar sang mentari sudah beranjak di atas lazuardi. Suasana kampus tampak seperti biasa, ramai dengan lalu lalang para mahasiswa. Hari sibuk untuk menimba ilmu. Akan tetapi dari arah kejauhan terlihat segerombolan mahasiswa sedang duduk kumpul bersama.
"Kalian serius mau pindah fakultas atau gak, sih? Jangan bikin baper gini, donk," celetuk seorang gadis dengan perasaan kesal karena ia merasa dipermainkan.
Sentuhan tangan sedikit keras menyentak pertahan gadis itu tapi tiba-tiba si gadis menarik tangan biang onar hingga memutar balikkan keadaan. Ia biarkan tangan yang digenggamnya terjepit ke belakang, "Sakit kan? Makanya jangan ngagetin. Tau rasa akibatnya."
"An, lepasin! Tangan gue bisa putus ini," keluh si biang onar yang meringis kesakitan.
Anna mengabaikan permintaan kecil dari si biang onar. Setiap kali selalu dilepaskan, besoknya diulang lagi. Heran saja, tapi aneh juga karena setiap pertemuan tangan pemuda yang masih ia kunci pergerakannya itu seolah baik-baik saja. Apa sudah terbiasa atau bagaimana?
__ADS_1
"Pagi, semuanya," sapa seseorang dari arah berlawanan langsung mengalihkan perhatian semua orang.
Pandangan mata tertuju pada gadis dengan penampilan casual yang menyejukkan mata. Entah kenapa hari ini si gadis mata hazelnut memakai pakaian yang berbeda. Jika dilihat lebih teliti sudah pasti gaun hijau tosca dengan lengan panjang, tanpa belahan dada, dan bawahnya jatuh menjuntai di bawah lutut itu keluaran dari sebuah butik ternama.
Tak hanya para pemuda yang terpana bahkan teman gadis pun ikut terpesona. Warna gaun begitu dominan dengan netra si gadis, terlebih lagi wajah natural tanpa make up tebal. Benar-benar sempurna hingga tampak begitu belia. Siapapun bisa jatuh cinta pada pandangan pertama.
"De, ponselmu ketinggalan!" seru seseorang dari arah belakang dengan suara derap langkah kaki berjalan maju ke depan yang juga membuat anak-anak mengalihkan pandangan jatuh ke belakang.
Bunga berbalik menyunggingkan senyum manis menyambut kedatangan Bryant. Sang kakak yang selalu begitu perhatian dan bersikap lembut setiap kali bersamanya. "Makasih, ka Bry. Ayo, aku kenalin semua teman asramaku!"
__ADS_1
Ponsel yang sudah beralih disimpan dengan baik, lalu dengan santainya menggandeng lengan kanan sang kakak. Keduanya berjalan menghampiri anak-anak yang semalam datang ke kediaman Putra. Dari semua tatapan terlihat kekaguman bahkan teman gadisnya bisa dikatakan mulai menghayal entah ke arah mana.
"Guy's, ini kakak sepupuku. Kalian bisa panggil ka Bryant, aku dengar semalam kalian ke rumah kakakku. Cuma akunya sudah tidur kecapean dan ka Bry, mereka semua teman-teman dari asrama. Kebetulan satu fakultas juga kecuali beberapa teman yang lain.
"Yang pakai kaos biru, Anna, sebelahnya Yuda," Bunga menunjuk ke arah lain dimana seorang pemuda berpakaian rapi mengenakan kemeja kotak-kotak warna merah, "Ka Daffa, sisi kirinya ka Daffi, sisi kanan Yumi, dan terakhir Azka."
Yumi berlari menghampiri Bunga, gadis itu begitu memperhatikan Bryant. Entah apa yang dipikirkannya sehingga membisikkan sesuatu yang membuat gadis mata hazelnut menahan diri agar tidak tertawa. Tidak habis pikir dengan pemikiran sang teman karena selalu ada saja ide jahilnya.
"De, kakak harus ke kantor ada meeting. Kamu belajar yang giat, nanti jam pulang tunggu kakak jemput!" Bryant memilih pamit ketika feelingnya merasakan ketidaknyamanan.
__ADS_1
Pria tampan itu buru-buru mengambil langkah seribu alias melarikan diri setelah menghadiahi kecupan kening tanda perpisahan. Melihat kepergian Bryant, Yumi mendengus kesal. Sia-sia sudah berpikir menjadikan kakak sepupu Bunga sebagai calon imam masa depannya.
"Yumi, ka Bry sudah married. Istrinya juga model, Hazel Vincent. Aku gak mau kamu patah hati. Ayo, kita ke kelas saja!" ajak Bunga begitu mengungkapkan kebenaran tanpa ingin menghadirkan kekecewaan.