
Ketenangan yang ditunjukkan hanya sekedar penutup rasa di balik luka. Tidak ada niat mengatakan segala sesuatunya pada keluarga tentang situasi yang mengusik kedamaian hidup dalam rumah tangganya. Bagaimanapun ia masih sanggup menepati janji agar tak membuat sang istri semakin merasa terbebani oleh emosi hati.
Langkah kaki terus berjalan menyusuri lorong hingga sampai di depan pintu kamarnya. Tangan bersiap meraih knop pintu tetapi hati masih enggan melanjutkan pergerakan, apalagi tiba-tiba terdengar suara panggilan dari arah selatan yang seketika mengubah posisinya. Kedatangan sang saudara membuat ia benar-benar menghentikan niat hatinya sendiri.
"Bry, kok malah nyusul. Kamu kebiasaan ninggalin Ara, deh. Balik sana!" tukas Samuel dengan gaya bicara seperti biasanya tapi yang diminta pergi justru menggelengkan kepala.
Bryant mengeluarkan sesuatu dari balik saku celana kirinya dan tangan satu menarik tangan kanan Samuel, lalu ia serahkan barang yang tak sengaja ditemukan olehnya semalam. Saudaranya tampak kebingungan tapi mendadak ekspresi wajah berubah pias begitu melihat apa yang ada di genggaman tangan dari pemberiannya. Apa ada yang salah dengan barang itu?
"Muel!" panggil Bryant seraya menepuk lengan kiri saudaranya dimana Samuel seperti orang kehilangan kesadaran. Entah kemana pikiran pria satu itu, padahal ia cuma mengembalikan sebuah kotak mini tanpa melihat isi di dalamnya.
Namun tanpa Bryant sadari, karena pemberiannya itu membuat ketenangan milik Samuel lenyap. Sang saudara sudah mengira dirinya mengetahui isi di dalam kotak mini yang sebenarnya berisi obat khusus untuk Ocy. Dimana semenjak kesehatan sang pujaan hati menurun, ia selalu membawa obat demi pencegahan.
"Bry, kamu gak bilang ke yang lain soal ini kan?" tatapan mata terpatri menatap Bryant begitu serius. Detak jantung berdebar begitu cepat, ia merasa dunia tak berpihak padanya lagi untuk menyembunyikan kebenaran tentang Ocy.
Rasa takut di dalam hati kian membesar bak kobaran api yang terkena embusan semilir angin. Ditambah lagi kegelisahan tak memberi kesempatan tuk menemukan secercah harapan. Kini ia merasa seluruh jalan menemui persimpangan hingga hampir merenggut sisa kewarasan agar tetap menguasai raga dan menyelamatkan jiwa dari badai yang menerjang.
Akan tetapi sikap tak biasa Samuel justru menimbulkan kecurigaan yang membuat Bryant penasaran atas perubahan tingkah laku saudaranya itu, "Disini udara lembam bahkan cenderung dingin tapi kenapa malah keluar keringat dingin?" Diperhatikannya sang saudara secara seksama sehingga menemukan bukti nyata atas rasa yang disembunyikan oleh seorang saudara.
__ADS_1
"Muel, katakan ada apa! Sikapmu di luar batas wajar. Lihat keringat dingin yang membasahi wajah, tangan gemetar, tatapan mata kosong, bibir pucat dan semua ini cuma berarti satu hal. Apa yang kamu sembunyikan dari keluarga?" Bryant memegang kedua bahu Samuel begitu eratnya meski masih menggunakan perasaan agar tidak menyakiti orang terkasihnya.
Napas memburu mengubah suasana di antara kedua insan yang berdiri saling berhadapan. Dimana Samuel yang semakin terbelenggu beban hidup mulai merasa tak sanggup menahannya seorang diri. Ia merasa waktu telah berlalu begitu lama dan kini menyadari dimana kesalahannya. Selama ini, dia sendiri yang menjauh dari keluarga dan menetapkan derita tanpa ingin berbagi cerita.
Lalu di tengah perjuangan yang sebenarnya sangat memerlukan dukungan keluarga, ia masih bungkam dengan harapan bisa menghadapi masalah tanpa menunjukkan duka di dalam hati. Akan tetapi kenyataannya ia hanya manusia biasa yang masih membutuhkan support dan semangat dari orang-orang disekitarnya. Bukankah wajar untuk bercerita membagi beban hati di dalam sebuah keluarga?
Rasa yang kian menyesakkan dada menghempaskan keegoisan di dalam dirinya. Tidak ada kata yang bisa diucapkan tetapi raga menghamburkan diri merengkuh tubuh saudaranya, perlahan membiarkan sisa luka dalam pelukan ketidakberdayaan sesama pria. Tak terasa air mata jatuh membasahi kedua pipinya.
Bahkan tanpa mengajukan pertanyaan, ia bisa memahami ada alasan besar di balik kerapuhan saudaranya. Akan tetapi bagi seorang pria dengan karakter selalu ceria akan sulit mengendalikan emosi hati ketika sedang terluka, lalu bagaimana Samuel bertahan di dalam situasi rumit tersebut? Ia benar-benar tak bisa membayangkannya.
Ketika hubungan terbangun oleh hati, maka ikatan tersebut layaknya denyut nadi di dalam raga. Hanya saja seringkali manusia melupakan penderitaan demi kebahagiaan atau kedamaian bersama. Tak seorangpun memiliki tempat untuk memutuskan rasa tetapi siapapun bisa berpura-pura dan menyembunyikan kebenaran di balik luka. Begitulah fakta dalam setiap kisah yang berpondasi kasih sayang.
__ADS_1
Lima belas menit telah berlalu, Samuel melepaskan diri dari pelukan, lalu menghapus jejak air mata yang menjadi saksi atas rasa terpendam di dalam hatinya. Seulas senyum tulus nan santai kembali menghiasi wajah kusutnya, "Thanks ya, Bro. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa menemukan tempat bersandar tapi maaf, kemejamu jadi basah."
"It's okay, we are this brother, then it should be complementary. Jika kamu terluka, aku pun ikut sedih. Samuel, tidak bisakah kamu katakan secara terus terang padaku? Kerapuhan di matamu, itu sangat menyakitkan hati." balas Bryant yang ingin tahu masalah milik saudaranya.
Apa gunanya saudara jika di dalam keadaan sulit justru diam tanpa bisa melakukan apapun. Ia hanya memahami kebenaran harus dikatakan oleh Samuel agar tidak ada salah paham. Akan tetapi untuk mendapatkan keterbukaan, maka ia sendiri harus menunjukkan kesungguhan tanpa pemaksaan. Sebab kejujuran menjadi kenyataan yang tidak bisa dinilai harganya.
Samuel mengangguk, "Kita masuk dulu, ayo!" ajaknya dan beralih haluan, dimana kedua langkah kaki berpindah ruangan dimana kamar yang tampak tenang menyajikan pemandangan cukup menegangkan.
Bryant yang berdiri mematung di depan pintu fokus memperhatikan Samuel. Dimana saudaranya melakukan pemeriksaan secara keseluruhan pada raga lemah terbaring di atas ranjang nan diam dengan mata terpejam. Ocy tampak tak baik-baik saja, dari pandangan pertama saja, ia tahu jika kondisi adik iparnya pastilah di luar ekspektasi.
Apalagi tidak berselang lama ia melihat Samuel mengeluarkan sesuatu dari kotak mini yang ternyata obat berbentuk cairan. Entah itu obat apa hanya saja sang saudara dengan hati-hati menyuntikkan cairan berwarna bening ke pergelangan tangan kanan Ocy. Setiap pergerakan tak luput dari pengawasan dan itu semakin memperkuat dugaan yang mengusik pikiran.
Sementara Samuel yang selesai melakukan kewajiban untuk memberi obat pereda rasa sakit masih disibukkan menyelimuti raga istrinya agar tidak merasa kedinginan bahkan pria itu juga mematikan AC di dalam kamar dan mengganti dengan pemanas ruangan. Apapun akan dilakukan demi menjaga kestabilan kesehatan sang istri tercinta karena sejak kembali dari jalan-jalan, Ocy masih membutuhkan waktu untuk kembali sadar.
Setelah merasa semua aman barulah pria itu membawa Bryant ke tempat dimana mereka berdua bisa mengobrol tanpa takut ketahuan karena ada yang mendengarkan percakapan. Balkon di sisi utara yang juga terhubung dengan kamar menjadi pilihan terbaik, kedua pria itu duduk di kursi yang sekaligus ayunan dan menikmati pemandangan putih sejauh mata memandang.
__ADS_1
"Muel, apa kamu masih belum siap menceritakan masalah kalian?" Bryant sadar jika situasi saudaranya pasti karena suatu alasan sehingga memilih bungkam tapi diam bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan.