Karena Cinta

Karena Cinta
Part 159#DIDIKAN ORTU HARUS DIHORMATI


__ADS_3

Kemarahan yang terpancar dari sorot mata sang putri membuat mama Milea mengusap bahu gadis di sebelahnya. Sebagai ibu, ia berusaha menenangkan hati yang dipenuhi kekesalan atas penolakan akibat rasa pengabaian yang dilakukan adik iparnya. Meski menyadari bahwa semua ucapan Al memang benar adanya.



"Bunga, gak boleh gitu sama om mu sendiri. Anak gadis harus bisa menahan suara agar tidak bersikap kurang ajar, mama harap putriku memiliki adab sopan santun." ucap mama Milea menasehati Bunga dengan penuh perasaan agar bisa masuk ke dalam relung hati sang putri.



Pada riwayat At-Tirmidzi dijelaskan bahwa Rasulullah saw menyebutkan keutamaan pahala pengajaran orang tua terhadap anaknya perihal norma-norma yang mesti diinternalisasi oleh anaknya. Rasulullah menyebutkan satu pelajaran adab yang diberikan kepada anaknya lebih baik daripada ibadah sedekah makanan pokok seberat satu sha atau setara dua koma tujuh kilogram gandum.


Hadist pertama yang memiliki arti, “Dari sahabat Jabir bin Samurah ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Pengajaran seseorang pada anaknya lebih baik dari (ibadah/pahala) sedekah satu sha,’” (HR At-Tirmidzi).


Sehingga orang tua lazimnya memberikan banyak hal terhadap anaknya, makanan, pakaian, atau mainan. Tetapi pemberian terbaik orang tua kepada anaknya tidak lain adalah penanaman norma-norma etika dan moral sebagaimana hadits riwayat At-Tirmidzi berikut ini yang memiliki arti.



“Dari Ayyub bin Musa, dari bapaknya, dari kakeknya, Rasulullah saw bersabda, ‘Tiada pemberian orang tua terhadap anaknya yang lebih baik dari adab yang baik,’” (HR At-Tirmidzi).



Pada riwayat Ibnu Majah, Rasulullah saw memerintahkan para orang tua untuk memuliakan anak-anaknya karena anak-anak adalah anugerah sekaligus amanah dari Allah. Rasulullah juga memerintahkan kepada para orang tua untuk menanamkan etika dan norma-norma moral kepada anak-anaknya.



"Dari sahabat Abdullah bin Abbas ra, dari Rasulullah saw bersabda, ‘Muliakanlah anak-anakmu, perbaikilah adab mereka,’” Hadis riwayat Ibnu Majah.



Dari ketiga hadits sangat menekankan perihal keutamaan pendidikan adab atau penanaman norma-norma yang berlaku. Norma-norma ini yang kemudian menjadi bekal bagi perkembangan anak tersebut dalam pergaulan ke depan. Cara ini menjadi pendidikan pertama di dalam keluarga. Wallahu a’lam.

__ADS_1



Bunga menundukkan pandangannya, tampak jelas gadis itu menyesal asal sikap tak biasanya. "Maaf, Om. Bunga udah lancang," rasa bersalah bukan karena telah mengeraskan suara tetapi ia tidak mau dianggap sebagai anak tak berpendidikan.



Bagaimanapun jika seseorang berani menunjuk ke wajahnya maka ia bisa melawan. Akan tetapi tidak dengan mempertaruhkan kehormatan dan usaha keras kedua orang tuanya. Seorang anak harus selalu mengingat keberadaan mereka di dunia tak luput dari peran orang tua.



Seulas senyum tersungging menghiasi wajah tampan, hati senang dengan perubahan Bunga karena gadis remaja itu semakin dewasa dan bisa menangani situasi tanpa menimbulkan banyak ketegangan. Meski tindakan bisa di anggap sebagai gadis yang bertanggung jawab, ia masih harus menjauhkan keponakannya dari gelapnya dunia bisnis.



"Mintalah yang lain, Om akan penuhi selama itu tidak melanggar prinsip hidupku. Pikirkan baik-baik sebelum mengajukan permintaan," Al beranjak dari tempat duduk seraya mendorong kursi ke belakang. Pria itu sudah cukup menikmati makan siang dan berniat meninggalkan kediaman Bima.




"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, biar aku antar kamu sampai ke depan." sahut papa Bima yang buru-buru ikut bangun dan menyusul Al.



Tatapan mata tak bisa melepaskan kepergian sang paman. Kenapa ia merasa setiap kesempatan yang didapat justru berakhir jalan buntu. Padahal jelas dengan satu kesempatan bisa mendapatkan keuntungan atau memang, dia tidak memiliki takdir meraih cinta dalam kehidupan ini? Dedaunan kembali berguguran bahkan sebelum tumbuh.



Kegelisahan, kekecewaan, kerinduan dan keinginan begitu melebur menjadi satu terpancar dari sorot mata Bunga. Mama Milea yang mengamati perubahan emosi hati si gadis pemilik mata hazelnut hanya bisa menghela napas pelan. Firasatnya mengatakan benih cinta telah terbenam dalam jiwa putrinya. Apa itu baik untuk masa depan keluarga?

__ADS_1



Tangan terangkat mendarat di kepala Bunga, lalu dengan penuh perasaan mengusapnya, "Sayang, mencintai seseorang yang di luar jangkauan kita bukanlah kesalahan tapi untuk mencapai tujuan maka harus siap berkorban. Apa kamu sudah menetapkan hati untuk berjalan di atas bara api?"



"Apa yang harus terjadi, biarlah terjadi, Ma. Bunga hanya berusaha menjaga cahaya yang selalu menyinari jalan di tengah kegelapan. Bukankah itu juga disebut cinta?" balas Bunga tanpa sadar mengungkapkan isi hatinya tetapi justru menambah rasa khawatir dalam diri mama Milea.



Gadis itu hanya tau bagaimana cara mendapatkan cinta hingga lupa masih ada pembatas yang menghalangi kisah impiannya. Naif, begitulah situasi Bunga saat ini dan mama Milea tak ingin anaknya terjebak di dunia harapan semu. Bagaimanapun putrinya selalu mendapatkan kebahagiaan dari seluruh anggota keluarga.



"Nak, mama akan memberitahu satu rahasia yang harus kamu pahami sebelum terlambat. Apa Bunga mau mendengarkan mama?" kedua tangan menangkup wajah Bunga hingga kedua pasang mata saling memandang tak berkedip.



Keseriusan yang tergambar di mata mama nya menyentak kesadaran dan menghantarkan rasa tak biasa. Entah kenapa, ia merasa seolah-olah akan ada badai yang menerpa dan meninggalkan ruang kehampaan untuknya. Apa yang begitu ditakuti hati ketika pernyataan saja masih belum diberikan.



"Mama jangan nakutin Bunga. Apa sesuatu itu harus aku tahu? Kenapa tidak disimpan saja, ma?" tanya Bunga berusaha melepaskan diri dari rasa yang ia sendiri tidak bisa menerjemahkannya.



Sayangnya, mama Milea semakin menajamkan tatapan matanya hingga membuat Bunga menahan napas. Aura yang mengelilingi sang putri semakin mendesak keberanian dan mengungkapkan ketakutan dari dalam hati. Rupanya gadis remaja itu masih belum terbiasa dengan aura intimidasi.


__ADS_1


"Selesaikan makanmu, habis itu pergi ke kamar untuk istirahat! Lupakan apa yang terjadi, mama mau susul papamu dulu." Mama Milea melepaskan kedua tangannya dari wajah Bunga begitu saja, ia merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan rahasia di depan putrinya.


__ADS_2