
Niat selalu menjadi hal paling utama dari awal sebuah ketetapan yang tentunya sudah diputuskan. Mutlak tanpa ada alasan yang bisa menggoyahkan meski badai datang mencoba menghancurkan. Siang berganti malam menjadi saksi kunci keberhasilan.
"Sudahlah, sekarang waktunya pulang. Apa aku harus ke apartemen memeriksa keadaan Bunga?" entah kenapa hati merasa tidak tenang meninggalkan putri tunggal keluarga Putra hanya seorang diri di lingkungan baru.
Jika dipikirkan lebih dalam, tentu saja gadis itu bisa beradaptasi dengan kehidupan yang sudah ia rencanakan. Hanya saja melihat situasi serta keadaan masih harus memikirkan lebih jauh lagi. Terlebih ada godaan dari pemuda kasar yang suka mencari keributan. Bukankah tidak bisa dibiarkan?
Niat hati beralih tujuan dimana Al telah memutuskan meninggalkan tempat pertemuan. Pria itu dengan santai menikmati perjalanan pulang tetapi bukan ke kediaman Putra melainkan memilih kembali ke apartemen untuk menemui sang keponakan. Ternyata dua keponakan saja sudah cukup menyita perhatian.
Jika suatu saat nanti memiliki istri yang membuatnya sibuk dengan keluarga kecil. Lalu bagaimana nasib dua keponakannya itu? Meski hingga detik ini tak satupun wanita bisa menggeser posisi sang pujaan hati. Dia yang selalu bersemayam menempati tahta tertinggi di benak serta sanubari.
"Sifani, dimana kamu saat ini? Sudah hampir bertahun-tahun tapi cuma wajahmu yang selalu menjadi ketenangan bagiku," gumam Al menghela napas panjang mengingat seseorang yang setiap mengisi kekosongan hatinya.
Bayangkan seorang wanita dengan tubuh ideal, rambut hitam lurus sepinggang, bermata abu, bulu mata yang lentik, senyuman manis berhias lesung pipi datang menyapa. Sifani Yuan Moe. Lagi dan lagi hanya dia yang bisa mengusik seluruh kekuatan dunia. Sayangnya semua hanya sekedar kenangan tanpa bisa merengkuh kebersamaan.
Entah berapa banyak hari raya terlewat tanpa kehadiran sang wanita, ia merasa semakin bertambah usia justru jalan pencarian tak kunjung menemukan titik terang. Sekelebat kenangan datang menyambar kenyataan yang kini ia genggam. Semua berawal dari alur takdir kehidupan.
"Misi, apa boleh duduk di bangku kosong ini," tangan yang menunjuk ke bangku taman terlihat begitu putih bersih. Seulas senyum tulus dengan lesung pipinya menyatakan perkenalan tak direncanakan.
__ADS_1
Tidak ada jawaban selain anggukan kepala pelan yang kemudian kembali melanjutkan membaca materi tanpa ingin mengurangi fokusnya. Sudah hampir satu jam berusaha menjabarkan masalah yang ia sendiri tidak pahami bahkan berulang kali mencoba memecahkan teka-teki tetapi hasil tetap mengecewakan.
"Huft, kapan pulang kalau jawaban selalu buntu. Masa tanya dosen?" suara tanya pada diri sendiri cukup terdengar oleh gadis yang tersenyum samar menahan tawa di dalam hatinya.
Ekspresi sang pemuda begitu menggemaskan bahkan seumur hidupnya baru melihat ada pria tampan yang sedang kesal justru semakin imut dipandang. Tidak tahu kenapa, ia menyukai pemandangan langka yang ada di depannya. Meski selentingan mendengar kabar dari para mahasiswa bahwa pemuda itu bukanlah dari keluarga sembarangan.
"Ekhem! Apa ada yang lucu? Ngapain nahan tawa, tertawalah sebelum ada yang melarang," celetuk Al tanpa ingin menyingkirkan wajah masamnya, membuat si gadis menggelengkan kepala seraya menyingkirkan buku dari pangkuan.
Entah ada angin apa hingga pertemuan itu begitu terkesan. Di balik gelapnya awan ditemani rintik hujan, kedua insan menyambut tangan pertemanan. Awal kehidupan dengan kebersamaan tanpa ada pengkhianatan. Perjalanan panjang menikmati setia warna dunia dengan cinta jiwa muda.
"Al, apa kita akan selalu bersama seperti malam ini?" tatapan mata tertunduk tak mampu menahan gelora di dada yang terkadang selalu ia tahan.
Usapan lembut di atas kepalanya begitu nyaman, "Al, kenapa malah diam? Jangan lihat aku seperti itu," ingin sekali melarikan diri dari tahanan perasaan yang menguasai hatinya.
"Aku cuma merhatiin pacar sendiri, apa itu salah?" tangan beralih merengkuh dagu gadisnya hingga tatapan mata saling bertautan menenggelamkan rasa yang saling menghangatkan jiwa. Wajah di depannya adalah pemandangan terindah seumur hidupnya.
Selama beberapa waktu hanya ada satu nama tetapi setelah malam ini, ia merasa takdir bisa saja merenggut miliknya, "Sifani, kita sudah lulus kuliah dengan hasil memuaskan. Jadi, bagaimana kalau sebelum memulai karier, kita menikah. Apa wanitaku bersedia menjadi pendamping sekaligus calon ibu dari anak-anakku?"
__ADS_1
"Al, alkohol sudah mempengaruhi otakmu. Kita bicarakan soal ini setelah sadar dan sekarang diamlah!" sahut Sifani tak ingin membuat Al semakin melantur tetapi sentuhan tangan yang menuntut keseriusan menyadarkan ia akan satu hal.
Prianya tidak bercanda dengan keinginan hati untuk membina mahligai rumah tangga bersamanya. Akan tetapi, semua hanya bisa dipastikan ketika takdir memberikan kesempatan. Hati serta pikiran selalu menjadi milik masing-masing dan tak seorangpun bisa mengintimidasi.
Kegelapan malam tak melepaskan api asmara yang kian bergelora membakar raga. Pagutan biasa semakin menjadi tuntutan nyata. Tangan berkelana menikmati keindahan frasa. Malam indah bagi kedua insan yang tengah merajut asa hingga tanpa sadar melewati semua batasan.
Kenikmatan begitu besar membelenggu raga yang saling berbagi peluh sekedar menghangatkan jiwa tanpa banyak kata. Siapa yang akan menyangka malam penuh cinta menjadi awal derita. Penyerahan diri Sifani bersambut kepergian tanpa ada jejak perpisahan.
Kenangan manis tetapi menyakitkan yang membuat hati enggan mencari pengganti. Jika hanya menginginkan seorang wanita maka tidak sulit untuk mendapatkan seperti kriteria. Akan tetapi wanita mana yang bisa menandingi seorang Sifani?
Terlalu mencintai satu wanita hingga tidak melihat cinta lain yang selalu mengharapkan dirinya. Bukan tuli tetapi buta. Begitulah keadaan seorang kekasih yang patah hati semenjak ditinggalkan pergi wanitanya. Cukup menambah kadar arrogant yang menjadi daya tarik kaum hawa.
Kegelisahan di hati Al hanya miliknya sendiri tanpa memiliki tempat untuk berbagi rasa. Sementara di sisi lain jamuan makan malam akhirnya bisa dimulai setelah semua anggota keluarga berkumpul di ruang makan. Tidak ada ketegangan selain berusaha bersikap apa adanya.
Tapi tiba-tiba datang suara tanya dari pemuda yang duduk di bangku nomor tiga. Tatapan mata menunduk, tangan kanan memainkan garpu tetapi senyum lebar menghiasi wajahnya. Apa yang ia ungkapkan berasal dari hati dan makan malam menjadi waktu yang tepat untuk mengungkapkan keinginannya.
"Sebelum semua orang sibuk menikmati jamuannya, izinkan pemuda ini mengatakan sepatah dua kata. Malam ini, aku ingin secara langsung berbicara terbuka pada gadis yang menjadi tamu kehormatan keluarga. Nona Ghea, apakah kamu bersedia menjadi pasangan tuan muda kedua?"
__ADS_1
Sikap berani bukan untuk pamer tetapi membuktikan diri bahwa perjuangan itu nyata. Seseorang tidak bisa maju jika selalu diam tanpa mengindahkan kenyataan yang ada. Status boleh saja sama tapi terkadang segala sesuatu hanya mengandalkan kemampuan mandiri. Meski dalam cinta adil untuk melakukan segalanya.