
Salah satu ciri seorang mukmin adalah kemampuannya dalam menjaga amanah. Amanah di sini tidak terbatas pada janji atau menjaga rahasia saja. Lebih dari itu, amanah juga mencakup menjaga kepercayaan dari orang lain dan juga kepercayaan dari Allah sebagai pemimpin di muka bumi.
Bagi orang yang menjalankan amanah dengan baik, Allah menjanjikan pahala dan balasan yang baik. Sedangkan, orang – orang yang berkhianat dari amanahnya, Allah memperingatkannya dengan balasan yang buruk. Yang mana dalam sebuah hadits, dikatakan bahwa khianat adalah salah satu sifat yang dimiliki oleh orang munafik.
Selain itu, orang yang munafik juga senang bicara bohong dan mengingkari janji. Sudah sepantasnya bagi seorang mukmin untuk menyelisihi ciri – ciri orang munafik tersebut. Yaitu dengan berkata jujur, menepati janji, dan menjaga amanah. Seperti di dalam HR. Bukhari Muslim yang mengatakan, "Tanda-tanda orang munafik ada tiga; jika berbicara berbohong, jika berjanji ingkar dan jika dipercaya berkhianat."
Setelah seluruh manusia wafat dan kehidupan di bumi selesai, maka semua umat manusia memasuki hari pembalasan atau kehidupan akhirat. Pada hari itu, semua perbuatan manusia semasa hidup akan dihitung dengan adil. Termasuk para pengkhianat. Di hari itu, para pengkhianat akan mendapatkan bendera sebagai tanda.
Hal ini tertulis dalam sebuah hadits, "Setiap pengkhianat akan mendapat bendera di hari kiamat, disebutkan ini penghianatan si fulan dan ini penghianatan si fulan. HR. Bukhari Muslim."
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat. (QS. An Nisa 107 & Al-Anfal: 58)
Allah menyebutkan bahwa Dia tidak menyukai orang yang berkhianat. Hal ini karena pengkhianatan bukanlah sifat yang dimiliki oleh seorang mukmin. Di samping itu, pengkhianatan juga akan menimbulkan kerusakan, kerugian, dan permusuhan. Sementara Islam merupakan agama yang menghendaki perdamaian dan keselamatan.
Ada banyak kisah tentang pengkhianatan bangsa Yahudi kepada para nabi – nabi terdahulu dan juga kepada Allah. Salah satu di antaranya diceritakan di dalam al-Quran pada surat Al-Maidah yang artinya:
(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Maidah:13)
Dalam surat tersebut, Allah menceritakan bagaimana orang Yahudi sering sekali melakukan pengkhianatan. Bahkan pengkhianatan tersebut dilakukan terhadap Allah dengan mengubah perkataan Allah. Ayat ini juga mengingatkan kaum muslimin dan orang – orang mukmin agar selalu menjaga amanah dan tidak berkhianat kepada Allah dan para nabi.
Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): ‘Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka) (QS. At-Tahrim:10)
__ADS_1
Pengkhianatan yang dilakukan oleh para istri Nabi tersebut merupakan pengkhianatan yang buruk. Karena itu, Allah menghukum mereka dengan memasukkannya ke dalam neraka. Begitu pula dengan siapa saja yang melakukan khianat di masa – masa selanjutnya. Seperti yang dilakukan kedua insan di dalam bilik di depan mata Ara.
Perasaan wanita itu tak bisa terlukiskan dengan kata-kata apalagi tinta. Gemuruh di dalam dada bergejolak menahan luka yang sempat menghangatkan jiwa hingga kuncup bunga layu begitu saja. Pemandangan bak sayatan kilau cahaya begitu menyakiti mata dan rasa.
Dengan tubuh lemah tak berdaya, Ara melangkahkan kaki menjauh pergi dari kamar tamu yang masih dipenuhi jeritan manja menusuk telinga. Siapa yang tahan dengan suara penuh gairah tetapi begitu memekakkan hingga terasa meledakkan gendang telinga. Sungguh menyiksa batin yang semakin menderita.
Tidak tahu mengapa mereka menyebutnya patah hati. Rasanya setiap bagian lain dari tubuhku juga rusak. Aku memberikan hatiku kepadamu, aku hanya tidak berharap mendapatkannya kembali berkeping-keping.~batin Ara tak kuasa menahan lara hatinya.
Patah hati atas kenyataan dan kebenaran yang tersaji di depan mata, semua itu karena pengkhianatan suami dan sahabatnya sendiri. Benar-benar tidak menyangka nasib membawa dirinya ke tempat yang begitu gelap menjemput kesendirian tanpa sisa asa. Apa sungguh semua sudah berakhir?
"Mas, kenapa kamu lakukan ini padaku, apa salah Ara? Anggun, bukankah kamu itu sahabat dan juga saudaraku, lalu semua ini?" raga tak lagi bertenaga, meski disisa kesadaran masih sanggup mengunci kamarnya. Tiba-tiba tubuh jatuh terduduk lemas bersandar pada pintu yang tak bernyawa.
Sekali lagi mencoba mengembalikan kesadaran diri bahkan tangan tanpa basa-basi melayangkan tamparan yang membuatnya kembali tersadar jika semua memang nyata adanya. Sakit tapi lebih seperti cengkraman tangan yang mencengkam lehernya. Semakin tenggelam memikirkan justru ia merasa sesak di dada.
Ingin sekali kembali keluar lalu memeriksa apakah semua yang terjadi di bawah sana benar atau hanya khayalan saja. Akan tetapi tubuh saja membeku tidak mau menerima perintah apapun dirinya, selain menikmati penderitaan berselimut rasa kecewa maka tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh dirinya. Apa semua masih dianggap baik-baik saja?
Penderitaan Ara baru permulaan yang disengaja oleh Anggun sebagai istri pertama Akbar. Meski wanita itu masih berpikir yang terjadi padanya hanya pengkhianatan biasa, selama itu pula kebenaran tetap tersembunyi di dalam kisah mereka bertiga. Siapa yang bisa menyelamatkan dirinya?
Malam yang kian larut berpacu dengan waktu tetapi terkadang tidak seirama seperti suara perdebatan kedua insan yang ada di atas ranjang setelah duduk bersama. Niat awal hanya ingin menghabiskan waktu seperti biasa hingga permintaan kecil mengubah suasana begitu saja karena ada ego yang tak mau mengalah.
"Sayang, jangan mulai lagi, deh. Sampai kapan kita berdebat tentang hal sama dan obrolan sama sudah ketiga kalinya sepanjang tahun ini, apa kamu tidak bosan? Aku sendiri sudah berusaha jujur dan memintamu sabar menunggu, apa tidak bisa berkompromi sedikit lagi untuk hubungan kita?"
__ADS_1
Ungkapan suara tak terima mengubah suasana yang menghentikan tangan kekar mengusap kepala si wanita, lalu menjauhkan raga dari sandaran dadanya, "Berapa lama lagi? Terakhir kali kamu bilang setelah semua pekerjaan selesai dan berjanji akan fokus mengurus keluarga kecil kita. Sekarang alasan sama menjadi penghalang, apa sungguh hubungan ini masih bisa dipertahankan?"
"Aku bukannya mau mengintimidasi apalagi mengancam istri sendiri tapi batas waktu sudah cukup lama dan harapanku cukup sederhana. Apa kamu tidak mau mencoba menjalani kehidupan rumah tangga seperti orang-orang di luar sana. Jangan berpikir aku memanfaatkan hanya demi garis keturunan hanya saja ini penting untuk kelangsungan hidup kita berdua." sambung si pria begitu apa adanya.
Tidak bermaksud memaksakan kehendaknya tapi melihat situasi yang ada maka sebagai suami sekaligus kepala keluarga hanya ingin berusaha sebaik mungkin agar kehidupan bersama tetap terjaga. Terlebih lagi sadar akan jarak yang semakin memisahkan mereka berdua bahkan hati secara perlahan melahap api keraguan di dalam jiwa.
"Sudahlah! Kenapa jadi dramatis begitu, suamiku. Jika memang terburu-buru ingin mendapatkan pewaris, kenapa tidak mencari wanita pengganti? Kita bisa menyewa rahim perempuan lain untuk menjadi wadah dan program seperti ini sudah bisa dilakukan tanpa perlu khawatir resikonya juga, gimana?"
Ide gila sang istri sangat mengejutkan si suami yang langsung beranjak dari tempat duduknya. Pria itu menatap murka wanita di atas ranjang. Sayangnya si wanita justru tersenyum seperti biasa tanpa memiliki penyesalan di dalam mata. Entah hatinya terbuat dari apa.
"Apa kamu masih waras? Jangan bertindak kelewat batas!" bentak si pria tak lagi menunjukkan belas kasihnya.
.
.
.
Jangan lupa kepoin ya☺
__ADS_1