Karena Cinta

Karena Cinta
Part 117#CARANYA KASAR


__ADS_3

       Sekelebat bayangan datang menyapa yang menghempaskan kesadaran dari dunia nyata. Dimana niat hati hanya ingin menikmati pertemuan akhir sebagai tanda perpisahan justru berujung prahara di dalam hubungan lama. Suara riuh bahagia menjadi awal kebersamaan yang penuh kehangatan.


Kebahagiaan itu nyata bahkan tidak ada kata-kata yang bisa menyinggung hati tapi entah dimulai dari mana hingga suasana seketika berganti ketegangan yang nyata. Pertemuan dua insan yang hampir tak bisa memiliki ruang sama menyita perhatian semua orang di acara kumpul bersama dan membuat banyak mata curiga penuh tanda tanya.


    Langkah kaki berjalan cepat melewati semua anak yang berusaha menyapa dirinya, tetapi ia enggan menghentikan langkah kakinya sehingga memilih tetap berjalan menghampiri si gadis di depan mata. Tatapan bingung yang tampak dari kawan-kawan bahkan dibiarkan olehnya.


    "Bunga, kamu ikut denganku!" Vir meraih tangan gadis di depannya begitu jarak tak lagi menjadi penghalang di antara mereka berdua. Tindakan yang tidak pernah diperhitungkan Bunga dan langsung mengejutkan semua teman-teman mereka berdua.


    Sikap tak biasa Vir terlalu agresif dan ia benar-benar tidak suka sehingga langsung menepis tangan si pemuda begitu saja, "Apa-apaan sih, kamu. Jadi cowok kasar banget, kalau mau ngomong bilang disini aja."


    "Bunga! Aku cuma butuh bicara empat mata, kenapa kamu tidak paham? Apa harus memohon dulu dengan sujud di kakimu?" sahut Vir memprovokasi gadis mata hazelnut yang masih enggan menatap ke arah dirinya.


    Situasi tak bisa dikatakan baik-baik saja dimana dua insan yang sejak awal pertemuan sudah saling menghindar bahkan masing-masing juga mengabaikan satu sama lain. Akan tetapi hari ini justru saling bertegur sapa dengan cara tak biasa. Tentu di luar dugaan semua kawan-kawannya.


   Bunga mendongak membalas tatapan mata Vir yang terlihat begitu kesal terhadap dirinya. Apa pemuda itu memang tidak bisa bersikap santai dan lembut terhadap seorang wanita atau memang tabiat aslinya di luar logika. Sungguh tidak menyangka nada bicara pun dibuat sesuka hatinya.


    "Sorry, barusan kamu bilang apa? Bicara empat mata tapi biar aku ingatkan sesuatu padamu Mahavir. Jika memang kamu ingin menyudahi proses hukum yang masih berlangsung maka penuhi syarat tanpa menambah masalah. Apa ini yang dimaksud caramu menyudahi masalah di antara kita?"

__ADS_1


    Logika saja seharusnya bekerja tapi entah ada apa dengan si pemuda hingga bertindak tak karuan. Padahal mereka berdua berada di rumah si kembar yang sedang bersiap mengadakan acara syukuran. Bukankah tidak sopan jika mengedepankan emosi hati hanya untuk mendapatkan kebebasan semata.


    Perseteruan antara Vir dan Bunga menarik perhatian semua kawan-kawannya, terlebih lagi Daffa. Dimana pemuda satu itu ikut menghampiri Bunga sampai memberi kode mata menanyakan ada masalah apa. Sayangnya baik si gadis maupun sang sahabat prianya enggan mengungkapkan kebenaran di antara mereka berdua.


    "Kalau kalian sama-sama diem trus buang muka, siapa yang bisa jawab rasa penasaran kami? Come on bersikaplah dewasa dan jangan seperti anak-anak begini," ujar Daffa mencoba mencairkan suasana tetapi sungguh tak tahu akan diterima atau justru semakin diabaikan tanpa pernyataan nyata.


    Hening. Baik Bunga maupun Vir seolah sepakat tidak ingin membuka mulut yang menyebabkan suasana kian menegang akan tetapi semua terlihat masih aman hingga suara dari arah pintu mengalihkan perhatian semua orang yang ada di ruang tamu depan. Terutama si model tampan yang langsung menoleh ke belakang.


    "Koko, ditungguin dari tadi, eh, malah gak keluar-keluar. Jadi pergi bareng gak, nih?" suara panggilan yang bersambut pertanyaan mengubah sedikit keheningan menjadi obrolan ringan meski tidak menyingkirkan tanda tanya di benak semua orang.


    Menghela napas panjang atas kedatangan Ghea yang tidak dirinya rencakan. Kenapa gadis itu tau ia ada di kediaman si kembar dan untuk apa berpura-pura datang seperti sengaja dijadikan sebagai alarm panggilan alam. Niat hati ingin membawa Bunga pergi dari pertemuan pun harus dibatalkan agar tidak menyakiti perasaan Ghea yang terlanjur sayang padanya.


    Ghea mengulurkan tangan di depan Daffi yang berdiri di depannya. Seulas senyum lebar ia sunggingkan tanpa ada keraguan, "Ghea, calon istri Koko Vir. Koko pasti blum cerita soal aku, tapi semua itu karena sebelumnya kami tinggal beda negara dan sekarang baru bisa bersama lagi."


    Sesi perkenalan cukup mengejutkan tetapi Vir tidak bisa menghentikan. Dengan bantuan Ghea yang menyibukkan semua orang mendengar kisah perjalanan mereka berdua. Ia sendiri justru menarik Bunga menjauh dari kawan mereka dan membawa gadis mata hazelnut keluar dari rumah si kembar tanpa banyak kata.


    Cengkraman tangan yang erat semakin terasa begitu menyakiti kulit tipisnya, "Vir, lepas!" seru Bunga tak ingin lagi di paksa mengikuti langkah kaki si pemuda gila. "Kamu salah gandeng orang, apa gak bisa lihat perbedaannya? Stop!"

__ADS_1


   Hati benar-benar kesal tak bisa menahan diri lagi, bagaimana pemuda itu bisa begitu tuli hanya karena melihat situasi bisa dijadikan alasan menjauh dari keramaian yang ada. Belum lagi berani menggengam tangan tanpa perasaan yang membuat dirinya menderita. Sungguh pemuda bar-bar.


    Langkah kaki terdiam dan tak lagi melanjutkan perjalanan, lalu ia lepaskan tangan yang selama beberapa saat dirinya genggam begitu erat bahkan masih bisa merasakan seberapa besar lingkaran pergelangan tangan milik Bunga. Kemudian berbalik menatap si gadis mata hazelnut yang sibuk mengusap tangan dengan bekas merah merona akibat ulahnya.


    "Bunga, atas semua kesalahan yang aku perbuat tolong maafin, semua itu memang kebodohanku karena tidak bisa bersikap dewasa. Kamu benar, seharusnya hari ini bisa bersikap lebih baik lagi tapi setelah beberapa hari mencari keberadaanmu seperti orang gila.


    "Jujur saja, aku kehilangan akal sehat. Tindakanku memang di luar batas dan juga menyakitimu, tapi percayalah hati tidak punya niat lain selain ingin meminta maaf secara langsung. Kita berdua tahu jarak menjadi alasan yang tidak bisa disingkirkan, coba katakan aku harus bagaimana sekarang!


    "Duduk diam menjadi penonton atau melakukan tugas yang harus ditunaikan. Kesalahanku memang fatal dan mungkin tidak termaafkan," Vir mengangkat kedua tangan, lalu merengkuh baju gadis yang berdiri di depannya tetapi enggan membalas tatapan mata penyesalan darinya.


    Tidak tahu harus berkata apalagi karena ia benar-benar kehabisan kata-kata. Akan tetapi hati masih ingin menyapa sekedar tuk menyatakan rasa yang tenggelam di dalam hatinya. "Bunga, aku berperilaku seperti orang bodoh, dan aku pantas mendapatkan kemarahanmu. Maafkan kebodohanku, dan beri tahu diriku bagaimana aku bisa menebusnya."


"Maaf kamu harus melihat sisi tergelapku. Aku masih berharap kamu akan menerima kekuranganku dan memaafkanku. Dan dengan hati yang terluka dan ego yang mengempis, dengan jiwa yang sedih dan kepala tertunduk, aku minta maaf yang sebesar-besarnya kepadamu tanpa syarat."


    Maaf dan memaafkan di dalam kehidupan sangat penting dan sudah seharusnya dilakukan oleh setiap orang, baik yang memiliki kesalahan atau tidak. Akan tetapi untuk mengakui sebuah kesalahan dan minta maaf bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Bahkan, tak sedikit orang yang merasa gengsi dan memiliki ego tinggi untuk meminta maaf terlebih dahulu.


Mendengar perkataan Vir yang mengungkapkan permintaan maaf dengan wajah tertunduk, Bunga menyadari bahwa melalui permintaan maaf tersebut sudah sedikit mendeskripsikan tentang penyesalan atas kesalahan yang diperbuat. Ia tahu, ada sisi kehidupan yang memang tidak bisa disembunyikan.

__ADS_1


    "Permintaan maaf ini bisa ku anggap serius asal kamu menyelesaikan syarat yang diminta pengacaraku. Sebagai seorang perempuan, aku akan mengingatkan pentingnya harga diri dan kehormatan. Selama ini memang aku cuma diam tapi postingan yang menjadi alasan ketegangan di antara kita harus dipertanggungjawabkan.


    "Aku tidak perlu menjelaskan panjang kali lebar terlebih lagi kamu sudah dewasa dan pasti paham maksud dari persyaratan yang pengacaraku berikan. Permisi, aku harus pulang," pamit Bunga seraya melepaskan satu per satu tangan yang membuat dirinya tertahan.


__ADS_2