Karena Cinta

Karena Cinta
Part 115#DILUAR RENCANA


__ADS_3

Perhatian sengaja dirinya berikan agar sang suami bisa merasakan betapa ia mencintai pria yang telah menghabiskan waktu selama beberapa tahun bersama-sama. Hati memang tidak memiliki banyak cinta tetapi hak akan selalu menjadi yang utama. Logika pun menerima tanda cinta biasa.


Empat puluh lima menit telah berlalu. Tampak seorang pria keluar dari kamar mandi dan sudah mengenakan pakaian lengkap meski hanya celana pendek dipadukan kaos tipis yang terasa dingin melekat sempurna di badannya. Lirikan mata menyusuri seluruh area kamar yang sudah berubah penuh bunga dan cahaya lilin merah.



Tidak ada bedanya dengan kamar honeymoon. Apakah istrinya berniat ingin menggoda? Jika iya, hati merasa senang setelah sekian lama bisa memiliki waktu bersama pasangannya. Akan tetapi setelah memperhatikan seluruh area, kenapa tidak menemukan keberadaan wanitanya.



"Hazel!" panggil Bryant tanpa menggeser tubuhnya dari depan pintu kamar mandi, pria itu masih menunggu jawaban dari wanita yang sempat menyambut kepulangannya.



Satu menit terlewat begitu saja. "Sayang, jangan main petak umpet. Ayo, kita makan malam!"



Sekali, dua kali, Bryant masih berusaha tetap tenang dan memanggil ulang agar istrinya tidak bermain-main lagi. Akan tetapi wanita yang diharapkan entah kemana perginya. Tak ingin berpikir buruk, ia melangkahkan kaki berjalan pelan menyusuri lantai bersih memeriksa dari satu sudut ke sudut lainnya tetapi sayang hasil nihil.



Tangan kanan terangkat memijat pelipis yang tiba-tiba berdenyut hebat dengan rasa sakit di belakang kepala. Tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya karena pusing melanda mengalihkan perhatiannya, "Aku perlu tidur, pasti Hazel dapat panggilan darurat dari tempat kerjanya."



"Sudahlah, mending pikirin besok dan sekarang istirahat saja," sambung Bryant, ia tidak ingin ambil pusing dengan situasi di kamarnya.



Rasa sakit yang menyerang kepala benar-benar tidak bisa pria itu tahan terlalu lama hingga akhirnya merebahkan diri menikmati lembutnya kasur king size yang tertutup kelopak bunga mawar. Tidak ada lagi gangguan disekitarnya selain ketenangan yang menyapa tapi tanpa disadarinya seulas senyum manja berusaha meronta dari genggaman tangan kekar yang menguasai pinggangnya.



"Sttt, jangan gerak trus! Junior sudah tegak berdiri, aku gak mau kita bercinta di dalam lemari, ya. Apa kita bisa keluar sekarang?" suara lirih setengah berbisik terdengar begitu parau. Sudah jelas tak bisa menerima gejolak nafsu yang kian menghangatkan raga.

__ADS_1



Perlahan membuka pintu lemari, lalu keluar secara bersamaan. Di kamar luas dengan fasilitas mewah tentu saja memiliki banyak ruang terbuka. Sehingga kedua insan yang tanpa dosa itu beralih haluan ke balkon di luar ruangan sana. Gelapnya malam menambah suasana kian menggelora.



"Ummm, kamu gila, kenapa nekat ke rumahku. Bagaimana kalau Bryant bangun ... hentikan tangan nakalmu, honey," rintih Hazel sembari mengikuti irama permainan b!bir yang sibuk memanjakan dirinya.



Bukannya mendengarkan, pria itu justru semakin menggila melepaskan semua penghalang yang bisa menyulitkan perjalanannya. Ia sengaja berkelana tanpa banyak kata menerkam wanita di depannya berteman temaram malam berselimut hawa dingin yang semakin meningkatkan usaha menciptakan kehangatan raga.



Suara decakan manja begitu panas membara di luar sana tetapi tak sekalipun bisa mengetuk kesadaran seorang suami yang terbaring tenang menyelam menjelajahi alam mimpi. Akibat pengaruh obat bius yang sengaja disebarkan tentunya. Takdir bahkan bisa direnggut tanpa memeluk nasib yang menjadi sia-sia.



Terkadang di dalam kehidupan rumah tangga tidak banyak pasangan yang menyadari situasi pernikahannya. Setiap hal selama melewati fase perjalanan cinta dianggap biasa saja. Padahal semakin berusaha memahami pasangan sendiri maka akan ada titik balik yang memicu masalah pelik dari hal sederhana.



Dimana gejala dari ketidakharmonisan di dalam rumah tangga memiliki banyak cara. Beberapa bisa menjadi tolak ukur seperti di saat pasangan sendiri selalu menceritakan kelebihan orang lain yang pastinya lawan jenis kepada pasangannya sendiri. Atau ketika memiliki masalah justru sebagai pribadi biasa malah berharap agar pasangan bisa membaca isi otak dan isi hati kita.


Padahal sebagai sesama manusia harus menyadari bahwa pasangan hidup yang mendampingi bukan robot artifical intelligence yang bisa men-scanning diri pasangan dan bisa langsung tau semua tentang isi kepala di balik kebisuan nyata. Apalagi jika memiliki pasangan yang masih suka membahas-bahas masa lalu pasangan lama.


Orang bahkan sangat mencurigai ketika pasangan sendiri lebih akrab dengan HP dibandingkan akrab dengan orang yang ada di sisinya. Jika itu anak muda yang kemana-mana HP selalu dibawa dari bangun tidur sampai may tidur. Akan tetapi sikap orang dewasa tak berbeda yang mana saat lupa menaruh HP, langsung gelagapan dan dicari sampai ketemu.


Anehnya giliran pasangannya hilang, malah dibiarkan saja. Miris. Belum lagi tiba-tiba suka akrab dengan lawan jenis yang bukan mahram, entah di dunia nyata maupun dunia maya. Ini yang membuat hubungan pernikahan menjadi tidak sehat.


Apalagi di saat sikap menang sendiri sudah lebih mendominasi. Dimana selalu merasa paling benar dan tidak mau disalahkan. Ditambah lagi selalu menyalahkan pasangan tanpa alasan yang jelas. Lebih ekstrim lagi jika sampai menganggap bahwa pasangan yang mendampingi selama beberapa waktu menjadi penyebab kegagalan di dalam hidup diri kita.


Satu hal ini sangat kacau karena kenyataannya kegagalan dalam hidup penyebabnya bukan karena orang lain, tetapi penyebabnya adalah karena diri kita sendiri. Sampai-sampai dengan alasan sama lantas melalaikan tanggung jawab memenuhi kewajiban dalam rumah tangga.


__ADS_1


Terlalu indah untuk dikatakan tetapi tetap menjadi sebuah pengkhianatan. Kegilaan memang ada dan sudah dibuktikan tanpa bisa dipisahkan. Setiap jeritan kenikmatan akan menjadi milik kedua insan yang tenggelam memadu kasih tanpa ada gangguan. Sama seperti yang dilakukan sepasang manusia di sebuah perahu pertemuan.



Hanya saja tidak ada pergulatan panjang yang menyita waktu semalaman karena perjanjian harus segera di tentukan. Mengingat waktu semakin dekat, kedua insan itu memilih duduk sembari menikmati pelukan berselimut tirai merah bermotif naga seraya memperhatikan bulan bintang di atas angkasa.



"Kini semua hutang milikmu lunas. Jadi apa masih mau main di rumahku atau insaf? Kudengar pria satu ini sudah menikah dengan dua wanita sekaligus. Wah, hebat juga," seloroh sang wanita yang membiarkan kepala dibelakangnya bersandar pada bahu kanannya.



Tidak memungkiri akan adanya keuntungan yang saling melengkapi di antara mereka hanya saja selama hutang lunas. Maka semua kembali ke titik awal dimana sama-sama bebas tanpa ikatan atau bisnis apapun. Meski begitu bisa membuat masalah baru yang akan mengikat hubungan lama.



"Bulshi!t dengan pernikahan neraka ini, aku muak dengan situasi yang selalu mencengkam leherku. Asal kamu tahu, di rumah itu aku sudah seperti pion. Ck, menyebalkan." jawab si pria yang justru mengeratkan pelukannya.



Pengakuan bisa saja menjadi nyata tetapi tidak mengubah kebiasaan seseorang dalam sekejap mata. Sebagai wanita yang cukup memahami karakter si pria, ia tahu dan sadar bahwa pria itu terlalu naif jika menganggap dirinya mudah ditipu begitu saja. Katanya muak, tapi bisa menjadi kambing pelihara istri pertama.



"Hahaha, tuan penipu. Aku bukan wanita kemarin sore, so please, gak usah drama. Ngomong aja langsung apa yang mau kamu tawarkan kali ini, buruan!" celetuk si wanita menertawakan tingkah bodoh pria yang masih menguasai dirinya.



Meski tidak tahu akan sampai kapan mereka berdua selalu menjalin hubungan tanpa ikatan pasti. Satu hal bisa dipastikan karena berkat bisnis membuat mereka seringkali menghabiskan waktu bersama dengan cara tak biasa. Seperti malam ini harus mengasingkan diri dari keramaian kota hanya untuk berbagi kenikmatan sesaat di dunia.



Suara bisikan yang terdengar menyapa gendang telinga tiba-tiba menyentak rasa menghempaskan kedamaian hati. Mata membulat, bibir menganga, apa yang didengarnya sungguh di luar aturan hidup yang dia punya. Apakah pria yang mengajukan bisnis masih memiliki akal sehat?


__ADS_1


"Bisnis terakhir antara aku dan kamu, setelah semua terjadi sesuai rencana, barulah kita berpisah selama-lamanya. Aku juga janji tidak mengungkit rahasiamu lagi, deal?" tangan terulur di depan mata menunggu jawaban dari wanitanya.


__ADS_2