Karena Cinta

Karena Cinta
Part 39#Jawaban Bunga


__ADS_3

Para mahasiswa bersorak mengubah suasana kelas menjadi begitu semarak karena mendengar permintaan si pemuda dingin. Bisik-bisik tak bisa dihindari, apalagi melihat keseriusan di wajah Mahavir yang begitu lantang mengharapkan Bunga bisa menjadi kekasih hati. Ini bukan cinta, melainkan tawaran kesepakatan.



Dari permintaan yang diajukan sudah jelas hanya ingin menjadi pasangan selama sebulan saja. Gila, sih. Alasan pertama mereka belum saling mengenal, alasan kedua masih terikat pada alasan pertama dan alasan terakhir cinta tidak bisa dipaksakan.



Bukannya merasa sok cantik, tapi ketika hati sudah memilih. Maka tak seorangpun bisa menggeser posisi sang raja dari tahta di dalam hatinya. Satu hal bisa dipastikan yaitu hanya Alkan Putra yang menjadi penghuni nomor satu sejak ia mengenal kata cinta di dunia fana.



Belum juga menjawab sudah terdengar bell tanda jam kuliah berakhir. Kegemparan yang sempat terjadi seketika teralihkan dan itu membuat Bunga bernapas lega. Ia tidak harus terlibat dalam permainan kata yang bisa saja menjebak dirinya. Lagi pula ada hati yang harus dijaga.



Tanpa memperdulikan tatapan penantian semua teman sekelas. Gadis itu justru memasukkan semua buku kembali ke dalam tas dan tak lupa menyimpan kotak pensil ke bagian sisi kanan tas. Lirikan mata memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, ia tahu jika sang kakak pasti sudah menunggu di bawah.



Bu Rahayu juga menutup pelajaran dengan suara yang sedikit kaku karena canggung. Wanita dewasa itu rupanya juga takut karena keberadaan Mahavir yang masih stay berdiri di depan pintu. Setiap reaksi dari orang-orang terdekat sudah cukup menjadi penilaian pribadi dan tak ingin jatuh pada keadaan yang tidak bisa dimengerti.



Langkah kaki berjalan meninggalkan bangku, "Semoga ka Bry sudah ada di bawah," gumamnya penuh harap karena ia tak suka dengan banyak drama apalagi melibatkan hati dalam konflik cinta tanpa nama.



Semua mata memandang Bunga yang terlihat santai berjalan mendekati pintu. Gadis itu benar-benar tidak menganggap Mahavir ada, sikapnya membuat napas semua orang tertahan. Mereka was-was akan kelanjutan kegemparan yang masih belum terjadi.



Tiga langkah terakhir sebelum melewati Mahavir, tiba-tiba Bunga menghentikan langkah kakinya. Gadis itu terdiam menatap si pemuda yang tampak berharap mendapatkan jawaban memuaskan darinya. Tatapan penuh harap terpancar dari sorot mata, tapi apa dirinya harus peduli?

__ADS_1



" .... "



Baru saja ingin menanyakan pertanyaan yang sama tapi tiba-tiba Bunga mengibaskan tangan memberikan isyarat agar dirinya menyingkir dari tengah pintu. Entah kenapa langkah kaki menurut dan melepaskan tempat strateginya dalam bertindak hingga bersambut langkah sang gadis yang maju ke depan.



"Relationships are not a deal. Find another girl that you can play with to your heart's content because I'm not your stuffed toy."



Suara tegas dan jelas tanpa ada keraguan langsung menendang gendang telinga yang mendengarnya. Memang benar hubungan bukanlah untuk sebuah kesepakatan, tapi siapa bilang ia membutuhkan seorang gadis untuk dijadikan mainan? Bahkan selama ini selalu menolak antrian gadis yang bisa diajak ke atas ranjang tanpa bayaran.



Bukan sombong tapi memang begitulah kenyataannya. Speechless dengan jawaban Bunga hingga ia tak menyadari gadis yang menarik perhatiannya sudah menjauh pergi meninggalkan kelas. Bahkan para mahasiswa saling pandang satu sama lain.




Bunga terlalu nekat, tapi salut juga karena tidak terpengaruh pada kebenaran yang tersaji di depan mata. Sementara Mahavir langsung melangkahkan kaki menyusul gadis pemikat hati yang sudah menjauh bahkan melewati lorong pertama dari kelas bu Rahayu. Langkahnya cepat dengan tangan mengepal menahan kekesalan akibat kegundahan emosi.



Sementara Bunga yang memilih masuk ke dalam lift merasa aman karena pintu besi sudah tertutup dan mulai turun ke bawah. Ia bukan takut hanya saja tidak ingin mencari masalah. Lagi pula masih sadar bahwa pemuda yang baru saja ditolaknya bukan pemuda sembarangan.



Dari sikap saja sudah cukup menggambarkan kepribadian. Pengamatannya tidak akan salah ketika menyangkut karakteristik seseorang yang sudah terlibat dalam kejadian tak terduga. Apapun akhir dari penolakannya pasti akan berdampak hal lain dan ia sendiri hanya bisa berjaga-jaga untuk tetap menjadi diri sendiri.

__ADS_1



"Assalamu'alaikum, ka Bry. Bunga sudah selesai kuliah. Jadi dimana aku menunggumu, Ka?" tanya Bunga mengirimkan pesan suara melalui aplikasi whatsapp agar bisa segera dibalas sang kakak.



Ia pikir pesan suara akan dibalas besok karena mengingat kesibukan sang kakak, tapi notif pesan di layar ponsel menghadirkan kelegaan dari dalam hati. "Syukurlah, kakak memang pahlawanku!"



Bahagia karena balasan Bryant memintanya untuk segera ke parkiran kampus dan itu berarti sang kakak sudah stand by menunggu dirinya. Suara dentingan lift bersambut pintu besi yang bergeser, lalu ia buru-buru melangkahkan kaki berjalan meninggalkan ruangan kotak besi. Berjalan cepat tetapi bukan berlari menjauh dari masalah.



Rona wajah bahagia karena sebentar lagi bisa pergi jalan-jalan dan melupakan kejadian tak terduga saat menikmati waktu di dunia perkuliahan. Akhirnya setelah berjalan kurang lebih selama lima menit, ia menemukan mobil milik Bryant yang terparkir cantik di bawah pohon beringin. Melihat itu, dirinya bergegas menghampiri kendaraan yang mewah yang terlihat masih begitu mulus.


Mobil Toyota Corolla Altis yang menjadi pilihan sang kakak ketika ingin menikmati waktu dengan kendaraan nyaman yang memiliki gaya modern dan juga berkelas. Spesifikasi mesin Toyota Corolla Altis, ini ditenagai dua pilihan mesin Bensin berkapasitas 1798 cc. Corolla Altis tersedia dengan transmisi CVT tergantung variannya.


Corolla Altis sendiri adalah Sedan 5 seater dengan panjang 4630 mm, lebar 1780 mm, wheelbase 2700 mm. serta ground clearance 135 mm dengan harga yang dibanderol mulai dari Rp 538,9 Juta hingga Rp 264 Juta. Fantastis, tapi cukup bisa menjadi pilihan orang-orang yang memiliki cukup uang.



Diketuknya jendela kaca tempat si pengemudi karena dirinya hapal akan kebiasaan sang kakak yang lebih sering mengendarai kendaraan sendiri ketika bepergian dari luar, "Siang kakakku sayang, mau langsung atau kita ke cape depan dulu?"



"Masuk ke mobil!" Bryant tidak ingin adiknya berdiri di luar di bawah terik matahari yang menyengat. Apalagi pastilah gadis itu sudah lelah menjalani rutinitas sebagai mahasiswa baru.



Siapa yang bisa menolak perintah seorang kakak? Bukan perintah, tapi hanya permintaan kecil dan tanpa basa-basi menurut membawa langkah kaki berjalan memutari mobil bagian depan, lalu membuka pintu, kemudian masuk sambil melepaskan tas yang ada menggantung di pundaknya.


__ADS_1


"So, kemana kita akan pergi? Apa kakak sudah tahu tujuannya?" Bunga meletakkan tas di kursi belakang, tapi ia juga mengambil paper bag warna merah yang pasti berisi pakaian ganti untuknya.


__ADS_2