
Rasa lelah yang mendera membawa langkah kaki berjalan menuju kamar mandi. Sejenak ingin berendam menikmati air dingin untuk meredam semua emosi di dalam hati yang bersambut kekacauan di dalam pikiran. Sendiri tanpa ada yang menemani.
Sementara di lantai bawah, para pelayan yang bekerja di kediaman Bryant justru tengah asik menonton sinetron di ruang santai karena pekerjaan mereka sudah selesai. Sebenarnya tidak banyak hal yang harus dikerjakan sebab semua tugas dibagi rata sehingga memberikan waktu longgar cukup untuk duduk bersama.
Antara ada dan tiada. Rasa yang membelenggu jiwa tak mampu berkuasa. Raga runtuh lemah tak berdaya tanpa derita bersambut derai air mata luka. Gemuruh dada menyebarkan panas tiada tara.
"Tega dirimu menduakan aku yang sudah berkorban jiwa dan raga. Apa kurangnya diriku, hingga kau kejam menorehkan sayatan pisau pengkhianatan dalam hubungan kita," rintihan suara pilu berujung tanpa suara.
Lara berbalut luka ditempa derita. Pilu yang ia rasa tak kunjung mereda, waktu berlalu tanpa asa memeluk duka nestapa. Hati sadar akan cinta buta yang selama ini menjadi kehidupannya. Lalu, bagaimana keluhan hati bisa diterima?
Si pemuda tampan tetapi tak rupawan seperti seorang pangeran berjalan menjauh dari wanita yang menatapnya dengan tatapan mata sendu, "Katamu cinta. Apa rumah di gang kumuh dengan jejeran baju jemuran di depan pintu disebut cinta?"
"Gue gak sudi punya pacar miskin kek elo! Lihat tampang gue," pemuda itu menunjuk ke arah wajahnya sendiri seraya tersenyum lebar memperlihatkan lesung pipi yang memang semakin menarik ketampanannya kian terekam.
Adegan yang terpampang di dalam layar dua puluh satu inci benar-benar mendebarkan. Apalagi ketika suara langkah kaki terdengar mengalihkan perhatian dua pemeran yang masih saling menatap antara cinta dan benci. Datangnya seorang wanita dengan penampilan begitu modis tetapi kurang bahan ditambah make up tebal mengubah suasana pagi.
"Ish, ish, itu cewek pakaian sisanya ketinggalan dimana?" Mbok Jum menggelengkan kepala seraya mengusap dada dengan tatapan mata setengah terbuka.
__ADS_1
Keluhan dari Mbok Jum, membuat Noni memutar bola matanya jengah, "Mbok, eta teh namanya gaul. Moso malah dikira ketinggalan pakaian. Nyonya aja pakaiannya sama kaya tuh artis, loh."
"Hehehe," mbok Jum meringis begitu diingatkan akan sang majikan yang memang juga seorang model. Tentu tidak jarang mengenakan pakaian serba minim bahan, "Mbok kan lupa, Noni. Sebenarnya itu jadi peluang pemanggil napsu, loh. Jadi mending pake pakaian normal saja!"
Mbok Jum hanya mengingatkan sebagai sesama manusia, apalagi Noni juga masih gadis dengan masa depan panjang. Sebagai wanita lebih tua bahkan usia bisa di atas ibu dari sang gadis pelayan. Maka ia berkewajiban memberikan peringatan dengan menganggap sebagai nasehat untuk putrinya sendiri.
Seperti yang diterangkan dalam sekilas obrolan pada masa terdahulu. Dimana Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta’ ditanya: “Bolehkah wanita menggunakan busana yang bercorak-corak?”
Mereka menjawab, “Tidak diperbolehkan wanita menggunakan busana yang bercorak yang bisa membuat mata lelaki tertarik. Karena busana demikian diantara yang bisa membuat lelaki tergoda dan terfitnah. Dan terkadang membuat seorang wanita dilanggar kehormatannya”.
Akibat ceramah singkat dari mbok Jum. Noni justru termenung memikirkan nasibnya yang begitu malang, ia jauh-jauh datang dari kampung hanya untuk mencari penghasilan tambahan. Jika dipikirkan sudah pasti rindu akan kebersamaan keluarga.
Namun, setiap kali mengingat rumah gubuk yang hampir ambruk. Ia merasa penderitaan si artis di dalam sinetron yang ia tonton sama persis seperti alur kehidupannya. Perbedaan cuma satu, si artis punya pacar tampan, sedangkan ia tidak pernah ada pemuda yang mau meliriknya.
Miris kan, ya? Padahal di dunia ini banyak sekali yang pastinya jomblo alias single. Termasuk si author yang menulis novel karena cinta. Eh, malah jadi keluar jalur.
Kehidupan baginya bisa dikatakan tidak adil. Kenapa ia memiliki pemikiran seperti itu? Ya karena terlahir dari keluarga miskin dengan ekonomi begitu rendah hingga untuk bisa menikmati sesuap nasi saja, ibunya harus menjadi buruh cuci piring di sepuluh rumah tetangga sendiri. Belum lagi sang ayah yang hanya bekerja sebagai penggali kubur.
__ADS_1
Sementara ia memiliki tiga adik kecil yang berusia balita karena ibunya tidak memiliki uang untuk suntik KB. Lengkap dengan jumlah anggota keluarga enam orang sehingga secara sadar sebagai kakak tertua ikut bertanggung jawab membiayai kehidupan keluarga. Disinilah ia mengais rezeki dan alhamdulillah menambah isi dompet tanpa khawatir tentang makanan lagi.
Sementara di kampung, ibunya bisa tenang menjaga ketiga anak balita yang pasti sudah mulai bermain aktif berlarian kesana kemari. Kehidupan memaksa agar ia bisa dewasa sebelum waktunya. Jadi untuk mengeluh, ia telah melakukan berulang kali. Pemikiran dan emosi hati milik Nona hanya gadis itu yang bisa memahaminya. Tidak terasa tiga puluh menit sudah berlalu dan ritual mandi Bryant sudah selesai.
Pria itu masih enggan mengganti pakaiannya sehingga hanya mengenakan handuk yang menutupi area khusus. Langkah kaki terhenti di depan jendela kaca mengarah ke balkon dengan tangan menggenggam cangkir berisi kopi yang masih mengepulkan asap putih. Rasanya nikmat dan hangat mengalir di kerongkongan.
"Sebaiknya aku ambil cuti hari ini," gumamnya menimang jadwal padat yang merayap seolah mengingatkan diri ia masih memiliki banyak tanggung jawab.
Ketika papanya masih menjadi wakil direktur dan ia yang magang. Pada saat itu masih memiliki waktu untuk sekedar ngopi bersama selepas pulang kerja, tapi begitu diri sendiri yang menjadi pemimpin sebagai direktur. Kehidupan mulai berubah secara drastis.
Kebiasaan pulang sore sebelum magrib seketika berganti pulang malam dan paling awal pun sekitar pukul tujuh. Waktu yang bisa dihabiskan sebagai me time saja hanya hari liburan, itupun jika tidak ada pekerjaan darurat. Semua baik, bahkan berjalan lancar tanpa ada kendala.
Apa yang menjadi dunianya selalu di support keluarga sehingga bisa dikatakan tidak mendapatkan kendala besar kecuali masalah dari klien saja. Sekali lagi mengenang masa lalu dimana kehidupan sibuknya bermula dan semua itu sampai pada malam naas.
Ingatan dimalam acara pesta kembali datang mengetuk memori. Untuk kesekian kalinya gambaran-gambaran masa itu bergulir bak layar tiga dimensi. Entah kenapa hati selalu gelisah setiap kali mengingat pertemuan antara ia dan sang istri.
Jujur saja, sampai detik ini masih ada keraguan hati setiap kali mengenang masa lalu. Ia merasa ingatannya seperti terpangkas karena kepanikan di tengah pemaksaan sang model yang kini sudah sah menjadi istri. Bukan suudzon, tetapi beberapa hal masih terlupakan dari dalam gallery kepalanya.
__ADS_1