
Kebersamaan tak antara kedua insan melebur asa yang tertinggal di tengah kehangatan meski kenyataannya mereka berdua tetap asing untuk satu sama lain. Terkadang lawan yang sebanding tak menunjukkan kesombongan melainkan menyajikan apresiasi bentuk penghargaan atas kepercayaan diri. Bukankah perselisihan juga mampu berdamai walau hanya sesaat?
Begitulah keadaan dari dua insan yang dengan tenang menikmati sajian makan siang bersama. Meninggalkan kebersamaan tanpa nama, disisi lain di balik keramaian orang-orang yang lalu lalang tampak seorang gadis tenggelam memainkan jemari begitu lincahnya menari di atas kanvas. Pandangan mata lurus kedepan tengah fokus menatap sekuntum bunga mawar berduri.
"Indah tetapi tidak bisa digenggam," dengan kesadaran penuh ia genggam bunga mawar yang ada di depannya hingga membuat sang pelukis mengucapkan namanya.
Suara panggilan yang baginya akan selalu memiliki makna sama. Apalagi setelah menyetujui menunda liburan demi melakukan perjalanan hanya berdua saja, "Apa tidak ada objek lain yang bisa kamu lukis, Sava? Aku benci bunga mawar berduri."
"Tuan cemberut, kau itu slalu mengatakan hal sama di setiap kesempatan. Mawar yang indah tapi kamu juga membenci tanaman tak bersalah. Ayolah, apa masih menyimpan rasa pada mantan yang tidak berharga? Buang saja ke tempat sampah!" ia kesal dengan sikap sahabatnya yang begitu tak bersahabat.
Ia pikir, dirinya yang sangat memerlukan healing sehingga mengajak Denis liburan di puncak dan membatalkan ke Korea. Sayangnya kini gagasan menyenangkan berubah menjadi kemurungan, lalu siapa yang patut disalahkan? Ia paham bila hati patah milik sang sahabat selama ini hanya dibalut tanpa diobati.
Namun kenyataan tidak akan berubah meski sejuta do'a dirinya panjatkan. "Ka!" ditariknya tangan kanan Denis secara perlahan. "Kamu sendiri yang demen membuka luka lama dengan menorehkan luka baru. Apa ini sepadan dengan pengorbanan yang menjadi beban di pundakmu?"
"Apa sahabat terbaikku begitu bodoh sampai tenggelam hanya karena patah hati. Atau akal sehatmu benar-benar terkontaminasi?" Sava mengeluarkan sapu tangan dari saku celana kiri, kemudian membalutkan ke tangan kanan Denis yang terluka karena tertusuk duri.
__ADS_1
Mungkin sahabatnya memang tidak menyukai indahnya bunga tetapi sebagai seorang pelukis, ia sendiri akan memilih tinggal di lingkungan yang penuh keindahan alam. Hal wajar jika mengenal alam menjadi salah satu jalan di antara banyaknya jalan untuk merangs4ng indra demi meningkatkan penjiwaan di setiap esensi kehidupan. Terlebih lagi perkembangan seni modern di Indonesia telah dimulai sejak tentara Jepang masih menduduki Indonesia, tahun 1942.
Yang mana setelah kemerdekaan, perkembangan bidang seni di Indonesia telah berkembang dengan sangat baik. Tahun 1946, atas inisiatif Sudjojono, Trisno Sumardjo, Sunindyo, dan Suradji didirikan organisasi bernama Seniman Indonesia Muda. Kemudian, tahun 1947, pelukis lain seperti Affandi dan Hendra, di Yogyakarta, membentuk perkumpulan Pelukis Rakyat sebagai pecahan dari SIM.
Selain itu, pertumbuhan seni tari dan musik juga tidak tertinggal. Masa Revolusi Indonesia, seni tari telah mengalami beberapa perubahan, terutama pada teknik penyajian. Sedangkan untuk seni musik, pasca-kemerdekaan telah banyak tercipta lagu-lagu perjuangan. Kemudian ritme dan irama musik juga sudah mulai mengalami perubahan.
Bahkan Pelukis Rakyat mengalami perkembangan paling banyak, dibantu dengan para tokoh pemerintah. Para anggota di Pelukis Rakyat tidak hanya berkesempatan untuk menjual lukisan mereka, melainkan juga lapangan mereka diperluas dengan seni patung. Beberapa hasil seni patung yang diciptakan adalah patung dari Jenderal Soedirman yang terletak di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Yogyakarta.
Dalam kehidupan sehari-harinya, para manusia prasejarah tersebut tidak pernah terlepas dari seni. Berdasarkan hasil penggalian arkeologi di Eropa, Afrika dan Asia, manusia prasejarah merupakan pelukis dan pematung pertama di dunia. Hal ini semakin diperkuat dengan data dokumen sejarah serta penelusuran budaya yang punah.
Lukisan tertua di dunia Mengutip dari situs New Scientist, lukisan gua tertua di dunia ditemukan di Sulawesi, Indonesia, tepatnya di gua batu kapur Leang Tedongnge. Lukisan gua ini diperkirakan berusia 45 ribu tahun lebih. Lukisan gua tersebut menggambarkan tiga ekor babi dengan beberapa stensil tangan. Temuan menakjubkan ini pertama kali ditemukan oleh Adam Brumm beserta timnya, pada 2017.
__ADS_1
Tiga ekor babi tersebut dilukis dengan panjang lebih dari satu meter, menggunakan pigmen oker merah. Menurut Adam Brumm, lukisan gua ini terlihat seperti babi kutil Sulawesi atau Sus celebensis, yang ternyata merupakan hewan buruan utama di Sulawesi, pada ribuan tahun yang lalu. Berdasarkan penelitian Adam Brumm bersama timnya, formasi mineral dari lukisan gua tersebut setidaknya sudah berusia 45.500 tahun.
Bahkan bisa jadi, lukisan tersebut berusia lebih tua dibanding formasi mineralnya. Hingga saat ini, lukisan gua di Leang Tendongnge, Sulawesi, Indonesia masih menjadi lukisan tertua di dunia. Sebelumnya, para sejarawan dan arkeolog pernah menemukan lukisan gua yang dianggap tertua di dunia, yakni di Spanyol.
Dilansir dari situs Lobo Pop Art, arkeolog dan sejarawan menemukan lukisan gua di Gua Nerja, Malaga, Spanyol. Kira-kira usia lukisan tersebut lebih dari 42 ribu tahun. Awalnya para sejarawan dan antropolog mengira jika lukisan pertama dibuat oleh Homo Sapiens. Namun, penemuan lukisan pertama dan tertua di dunia berhasil mengubah anggapan atau pemikiran mereka.
Dengan sejarah yang menjadi awal inspirasinya, bagaimana ia akan meninggalkan niat hati untuk mengasah kemampuannya. Ia paham dan sangat mengerti kondisi hati Denis hanya saja sang sahabat juga harus berjuang untuk sesuatu hal berharga dengan melepaskan masa lalu. Apalagi sebagai saudara memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan.
Denis menghela napas pelan seraya melepaskan tangannya dari genggaman Sava. Tatapan mata menelisik kembali menatap bunga yang kini ternoda oleh darahnya, "Sava, katakan padaku satu hal. Apa kamu akan memaafkan mama dan papamu setelah apa yang terjadi?"
"Itu ...," bibir kelu tetapi hati bergetar menyapu rasa yang nyatanya masih menyudutkan hatinya. Apa jawaban bisa ditemukan ketika ia menyadari tak semudah membalikkan telapak tangan. Mungkinkah sang sahabat hanya berniat melumpuhkan pendapat dari sudut pandangnya saja atau itu sebatas rasa takut di dalam jiwa.
__ADS_1
Tidak ada kata yang terucap bahkan tatapan mata meredup mengakui ketidakberdayaan. "Lupakan itu, Ka! Aku tidak ingin merusak suasana atau kamu lebih suka melihatku terpuruk?"