Karena Cinta

Karena Cinta
Part 154#RINDU


__ADS_3

Setelah membayar sesuai dengan nominal yang tertera, Anggun bergegas keluar dari mobil taksi. Wanita itu terlihat begitu buru-buru melewati jalanan aspal yang terhubung dengan gang di radius sepuluh meter. Tujuan awal sudah bisa dipastikan untuk membuat kesepakatan, tetapi di tempat yang ia tuju hanya memiliki jalan masuk tanpa jalan keluar.



Tak peduli apa yang ingin diraihnya, jalan itu memeluk kesesatan dan hanya bisa menjadi akhir kebuntuan. Sementara di sisi lain, wajah sumringah tampak begitu jelas menjadi milik seseorang di mana setelah penantian selama beberapa hari akhirnya bisa kembali melakukan pertemuan. Rasa rindu di hati yang sempat tertahan kini bisa diungkapkan meski hanya dengan pelukan kekeluargaan.



Usapan kepala yang terasa hangat terus dirasakan menghantarkan kenyamanan, "Om, tumben baru mampir ke rumah papa. Sibuk banget, ya, makanya sampai lupa sama keponakan sendiri."



"Hmm. Putri kecil keluarga Putra makin dewasa, hal sepele tidak harus jadi gangguan kan? Sekarang apa kamu sudah belajar menangani yayasan yang ka Bella serahkan untuk dikelola?" Al yang datang setelah menyelesaikan sisa pekerjaan di luar urusan bisnis memang baru sempat mengunjungi kediaman Bima.

__ADS_1



Hal itu, ia lakukan juga agar memberikan Bunga ruang gerak dan waktu untuk mempertimbangkan segala sesuatunya di kehidupan saat ini. Satu harapannya di mana keponakannya itu bisa mengendalikan diri, emosi dan juga menetapkan keputusan dengan matang. Kedewasaan memang memerlukan banyak perjuangan.



"Untuk sekarang, Bunga masih belajar dari mama Bella. Semenjak ikut mengelola yayasan tentu banyak manfaat yang bisa ku kembangkan tapi masih harus bekerja keras jika mau seperti yayasan dari cabang utama. Lagian om pasti sudah dengar semuanya, kenapa masih menanyakan itu?" jawab Bunga tanpa bertele-tele yang membuat Al tersenyum samar tetapi masih bisa terlihat menambah kadar ketampanan sang paman.




"Al, kamu sudah lama datangnya?" Papa Bima mengulurkan tangan kanan yang disambut hangat oleh Al sehingga pria dewasa nan matang itu menyudahi usapan tangan di kepala sang keponakan.

__ADS_1



Ingin sekali menunjukkan kekesalan hanya saja bisa membuat papanya curiga atas perasaan yang selama ini dirinya sembunyikan. Apa boleh buat, sebagai seorang putri terkadang sulit mendeskripsikan emosi hati ketika itu hampir menyentuh masa depan. Sekarang hanya bisa diam dan menyimak obrolan pria dewasa.



"Bagaimana dengan masalah bisnis kemarin? Semua sudah clear, kan?" Papa Bima yang mengajak Al duduk di ruang tamu, membuat kedua pria itu hampir melupakan Bunga tapi tak dipedulikan si gadis mata hazelnut.



Dimana Bunga memilih ikut duduk dan menyibukkan diri membaca majalah yang tergeletak di atas meja. Lagipula baginya sudah cukup bisa mendengar dan sesekali menatap ke arah Al yang fokus dengan pembahasan bisnis bersama papanya. Sejauh yang ia tahu, mencintai seorang Alkan Putra sama seperti meletakkan tahta ke langit ke tujuh.


__ADS_1


*Para pria dewasa memang super cuek kalau udah ngurusin bisnis. Ada boneka secantik aku aja, masih tak dianggap. Nasib punya papa sama om yang sama-sama dingin. Sekarang gimana buat mereka santai, ya?~keluh hati Bunga yang semakin merasa bosan mendengarkan logaritma dari statistik pemasukan perusahaan*.


__ADS_2