
Keberaniannya masih ada, keyakinan pun tak pergi meninggalkan hati, hanya saja kali ini, ia merasa tidak berdaya setelah mengetahui hal di luar kendali sang saudara. Betapa miris kebenaran di balik sikap manja yang kini berubah keras kepala. Siapapun tidak akan menyangka badai datang dari keputusan salah satu anggota keluarga.
Ingin sekali menghampiri kedua wanita di depannya yang masih fokus berbincang dengan anak-anak tapi apa kebenaran bisa dirubah tanpa menimbulkan perdebatan sengit? Jujur saja situasi sudah memanas dan jika sampai menambah percikan api, maka bisa dipastikan terjadi kebakaran yang membakar ketenangan seluruh anggota keluarga Putra.
Bagaimanapun anak-anak bisa terkena imbasnya juga dan untuk menghindari lebih banyak ketidakberdayaan, ia hanya bisa meminimalisir keadaan dan berusaha menjaga kedamaian keluarga untuk sementara waktu. Apa yang akan terjadi nanti harus menjadi keputusan yang memiliki keadilan tanpa memihak salah satu dari pihak saja dan untuk itu, sang paman harus segera kembali ke Indonesia.
"Anak-anak, kenapa masih dibiarkan bermain? Ini waktunya sarapan dan yang lain udah nungguin kalian dari tadi, loh. Ayo, kita ke ruang makan sekarang!" Bryant melambaikan tangan kanan dan melebarkan senyuman, ia terbiasa bersikap santai meski pikiran dipenuhi kerumitan.
Melihat kedatangan sang papa yang mengharapkan kedatangan mereka membuat anak-anak melepaskan diri dari pangkuan kedua mamanya. Celotehan manja terdengar renyah menghadirkan suasana hangat untuk sebuah keluarga nan harmonis. Bahkan Ara dan Bunga hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan anak-anak yang selalu menyatukan seluruh anggota keluarga.
"Lihat itu, Ma!" papa Angkasa mengkode mama Bella agar berbalik melihat ke arah belakang yang mana tampak putranya sudah dikuasai kedua anak termuda dari keluarga Putra.
Tubuh kekar seorang pria dewasa hampir tenggelam hanya karena dua raga yang memeluk erat si pria. Sudah mirip teletubbies saja yang membuat Bryant berusaha tetap tenang dan membiarkan kedua anaknya bersandar manja dengan celotehan riang gembira. Kebersamaan anak dan ayah bahkan tak pernah membedakan ikatan di antara mereka.
"Ka, duduk sini!" Bunga menarik kursi untuk Ara membiarkan bumil menempati tempat di kursi biasa, lalu ia sendiri berpindah ke sisi lain sedangkan Bryant harus kewalahan dikelilingi anak-anak.
__ADS_1
Ara menurut dan duduk dengan hati-hati, kemudian ia menyiapkan sajian sepiring nasi beserta lauk dan pauk untuk kedua mertua yang sudah menjadi orang tuanya sendiri. Setiap sesi makan di keluarga lebih mengutamakan saling berbagi kasih sayang sehingga pelayan jarang turun tangan apalagi berkeliaran di area ruang makan pada jam jamuan. Tradisi sederhana yang bisa mengeratkan hubungan satu sama lain.
"Nak, bagaimana keadaanmu? Apa kehamilan memasuki usia lima bulan masih membuatmu merasa lesu?" mama Bella memulai obrolan ringan agar mengetahui kondisi kesehatan Ara apalagi setelah pulang liburan masih belum melakukan pemeriksaan ulang ke dokter kandungan.
Diletakkannya sendok ke atas piring tanpa menimbulkan suara bising seraya tersenyum menyambut keingintahuan sang mama dengan hati haru sebagai biasa, "Alhamdulillah Ara ngerasa normal, Ma. Mungkin ngidam main salju udah keturutan jadi debay nya gak rewel lagi."
"Ka Ara gak ngidam yang lain gitu? Siapa tahu mau menguras isi dompet ka Bry," goda Bunga melirik ke arah kakak laki-lakinya. Sang kakak yang dijadikan bahan bakar pembahasan wanita hanya bisa tersenyum simpul tanpa niat balas dendam kepada adiknya.
Ide Bunga bisa diterima tetapi untuk menghabiskan isi dompet seorang pria pemilik harta bisa menjadi masalah di luar harapannya. Lagipula setiap kebutuhan sudah terpenuhi bahkan Bryant tak pernah memperhitungkan apapun selama demi kebahagiaan seluruh anggota keluarga. Harta yang berlimpah menjadi anugrah keluarga dan bukan untuk dibuang secara percuma.
"Ka Ara selalu gitu," Bunga mencebik tapi hatinya merasa lega karena ia tak salah menilai kakak iparnya. Bryant beruntung memiliki Ara sebagai pasangan dimana kebahagiaan bukan berlandaskan harta semata, "Ma, Pa, menantu pertama kalian lupa kalau keluarga kita udah punya banyak cabang panti sosial. Gimana kalau beberapa cabang dikelola ka Ara? Bunga rasa kemajuannya bisa semakin meroket."
"Eh, nanti yang jagain anak-anak siapa?" elak Ara secara spontan menolak ide baik adik ipar nya. Ia merasa belum mampu untuk mengurus urusan luar apalagi mengemban tanggung jawab besar dengan resiko banyak kehidupan di bawah pengawasannya.
__ADS_1
Pembelaan Ara sontak saja membuat yang lain saling pandang mengerti kekhawatiran bumil tanpa banyak bertanya. Selama ini, tidak ada paksaan untuk melakukan sesuatu di luar kehendak hati bahkan setiap urusan bisa dipastikan dilakukan sesuai keinginan hati. Baik sebagai orang tua, saudara dan suami, setiap anggota keluarga memiliki kebebasan menentukan pilihan hidup masing-masing.
"Nak, apa yang dikatakan Bunga memang baik untuk kehidupan keluarga kita. Papa cuma berharap sebelum kamu memutuskan untuk menolak maka ada baiknya memikirkan saran Bunga secara keseluruhan. Setelah mendapatkan keputusan final baru dibicarakan lagi, di sini kalian semua bagian dari keluarga Putra dan memiliki hak sama rata. Ingat itu!" jelas papa Angkasa yang selalu bijaksana dan tentu Ara sungkan ingin mendebat pernyataan darinya.
Sesi sarapan bersama tak mengubah kebersamaan keluarga yang selalu berusaha untuk berbagi harapan dan memeluk kehangatan di antara mereka. Keharmonisan itu datang ketika sebagai anggota keluarga saling menciptakan suasana yang menyambut ketenangan dan keterbukaan secara berdampingan dimana tidak ada tekanan apalagi keegoisan hati. Akan tetapi hal itu terasingkan untuk dia yang sibuk mengurung diri di dalam kamar semenjak dua hari terakhir.
Apa arti dari kehidupan jika tanpa pengorbanan? Bahkan hal terkecil yang terjadi di dunia selalu memiliki sebab dan akibat maka pengorbanan menjadi kepastian. Begitulah yang mengubah alur takdir seseorang selain menentukan pilihan sebagai awal sebuah persimpangan jalan agar bisa mencapai tujuan.
Namun, beberapa manusia hanya memikirkan hal mendasar tanpa menjabarkan makna dari kehidupan. Seperti dimana hanya fokus mencari nafkah sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sedangkan manusia pemilik tujuan lebih menargetkan hal-hal di luar ekspektasi. Terkadang demi mencapai sesuatu sudah siap kehilangan banyak hal berharga dari hidupnya.
Situasi yang sama juga mengajarkan seorang istri untuk memutuskan kehidupan masa depan rumah tangganya. Tidak peduli seberapa keras sang suami menentangnya, wanita itu masih kekeh pada pilihan hati setelah terlalu lama melakukan perenungan diri. Kini baginya tidak ada hal lebih penting dari mewujudkan keinginan hati yang juga menjadi harapan terakhir dalam hidup.
Keputusannya final dan tak bisa diganggu gugat meski mendapatkan ancaman yang cukup menyulitkan dari sang suami. Wanita itu masih memilih menggenggam keyakinan atas pengorbanan yang siap dirinya lakukan tetapi mengingat takdir tak bisa dilepaskan begitu saja, ia harus berusaha keras membujuk pasangannya. Entah sampai kapan melewati jalan nan terjal tanpa sandaran.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar yang masih diabaikan, baginya tidak ada tempat untuk kelalaian selain penerimaan dari orang-orang di luar kamar. Diam menjadi pembuktian atas keinginan hati meski sadar ia terlalu keras terhadap semua orang. Apakah di sisa kehidupannya masih memiliki waktu untuk menciptakan kebahagiaan sederhana?
__ADS_1
"Kenapa kalian tidak mengalah saja dan biarkan aku menyelesaikan tugas terakhir tanpa penyesalan," gumamnya sembari menatap ke arah luar dimana langit biru tertutup kabut hitam meski tak mendominasi lingkup penyebarannya.