
Keberanian Felix menyatakan keinginan hatinya menyentak kesadaran seluruh anggota keluarga bahkan tak terkecuali Vir yang menganggap saudaranya itu sudah kehilangan akal sehat. Biasanya bersembunyi tetapi malam ini dengan lantang mengutarakan niat merajut masa depan. Sungguh tidak menyangka saja.
Terkejut wajar tetapi yang dilakukan Felix bersambut tatapan mata tak suka. Si gadis yang menjadi pusat perhatian justru memalingkan muka dengan rasa kecewa, "Apa kamu sudah gila? Aku ini jodoh Vir, tuan muda pertama dan dia saudaramu. Paman, jelaskan pada putramu agar tidak bermimpi di siang hari."
"Ghea, apa kamu pikir tuan muda pertama bisa menjadi suamimu? Ayolah, di dalam keluargaku bukan rahasia lagi tentang gadis yang dicintai Vir. Harapan mana yang ingin kamu genggam?" ujar Felix tanpa ingin berbicara omong kosong.
Meski sudah lama tidak di kota Jakarta, ia tetap tahu semua yang terjadi dengan saudaranya itu. Secara sengaja tentunya dan jika sudah menyangkut Ghea, maka apapun bisa dilakukan meski papanya sendiri selalu lebih mementingkan tuan muda pertama. Seumur hidup menjadi bayangan seorang saudara dan itu rasanya seperti orang gila.
"Felix! Apa-apaan kamu, nak," seru papa Adrian tak habis pikir dengan kelancangan sang putra yang dimatanya bukan menyelesaikan masalah tapi justru membuat memancing pertikaian antar keluarga.
Tertawa lepas mendengar percobaan sang papa yang pasti sudah siap membela tuan muda pertama, "Kenapa denganku, Pa? Apa ada yang salah? Ouh, pasti karena tidak patuh sama keputusan papa kan."
__ADS_1
"Jangan khawatir, Pa. Aku cuma ingin Ghea tahu kalau di rumah ini hanya aku yang mencintainya. Sejak lama menahan diri, tapi malam ini jika masih diam maka masa depanku bisa hancur. Satu hal yang paling berharga dalam hidup seorang Felix Adrian tidak untuk disia-siakan. Vir, bukannya kamu setuju dengan hal ini?" sambung Felix yang juga melemparkan permintaan persetujuan pada tuan muda pertama.
Tindakan Felix sangat ceroboh. Pemuda itu melupakan perjanjian saudara dan hanya karena takut tidak bisa bersanding bersama sang pujaan hati, ia rela bertindak gegabah. Pada kenyataannya tidak salah berterus terang hanya saja mengingat situasi, maka sudah pasti Ghea tidak akan menerima pernyataan pemuda satu itu.
Cinta tidak bisa dipaksakan, apalagi berharap mendapatkan balasan yang sama. Akan tetapi memahami arti cinta tak ubahnya mengerti emosi hati milik diri sendiri. Kerumitan tak terelakkan menjadi kesederhanaan tanpa penjelasan maupun sentuhan.
Ditatapnya Vir dengan tajam, tangan mengepal, bibir terdiam menunggu penjelasan. Sejahat apapun orang-orang di dunia ini, ia hanya patah ketika orang terkasih melumpuhkan kepercayaan yang selama ini menjadi penghubung hati mereka berdua. Sejauh mana keyakinan diri merenggut sisa rasa di antara fakta dan kenyataan.
"Paman, Vir mohon jangan salah paham dengan Felix. Bagaimanapun kualifikasi tuan muda kedua tak kurang dariku dan cintanya memang tulus untuk Ghea. Mungkin caranya terlalu gegabah, tapi cobalah beri kesempatan pada keduanya," berat rasanya harus menjadi penengah tetapi ia sadar masalah kali ini begitu sendiri dan tidak bisa dibiarkan hingga berlarut-larut.
Pernyataan Vir jelas, padat dan singkat. Semua yang hadir di acara makan malam hanya bisa menghela napas panjang. Perselisihan hati lebih pelik hingga kemungkinan menjadi pertikaian. Siapa yang bisa menjadi penghalang ketika cinta sudah berbicara.
__ADS_1
Menghentakkan kaki, lalu bangkit dari tempat duduknya, "Kalian berdua kelewatan, apa keluarga ini anggap aku barang yang bisa dilempar sesuka hati? Ck, jangan harap semua berakhir disini. Paman Adrian, Ghea pamit pulang."
"Ghea!" panggil Felix, pemuda itu ikut beranjak meninggalkan tempat ternyamannya tetapi langkah tertahan tangan yang menghadangnya.
Papa Adrian harus menghentikan kelancangan putranya tanpa perlu memikirkan masalah eksternal. "Ikut Papa ke kamar sekarang!"
Ketegasan tak ingin mendapatkan penolakan bersambut tarikan tangan yang membawa langkah kaki menjauh dari ruang makan. Meski suara pengalihan terdengar menyedihkan, ia tak sekuat papanya yang bersikeras menginginkan kepergian tanpa bisa melanjutkan niat hatinya. Tatapan nanar menatap kepergian Ghea hanya bisa ditahan.
Sementara Vir memilih diam melanjutkan makan malam. Kali ini, ia tidak ingin terlalu jauh ikut campur. Bagaimanapun Felix harus menjelaskan segala sesuatunya pada sang paman dan berusaha sendiri memenangkan kepercayaan Ghea agar mau dipinang, sedangkan ia akan mencari jalan menemukan solusi untuk meminta maaf pada gadis pemilik mata hazelnut.
Tapi tiba-tiba sentuhan tangan yang menggenggam bahu kanan mengalihkan perhatian. Apalagi tatapan mata tanya menunjukkan rasa ingin tau, ia sadar selama beberapa waktu semua orang bungkam agar tidak menambah ketegangan. Akan tetapi penjelasan tidak bisa menyudahi kebenaran yang membelenggu hubungan.
"Jika ibu kedua ingin tahu, Vir cuma bisa bilang Felix memang jatuh cinta dengan Ghea sejak awal pertemuan. Sedari itu juga saudaraku mengingatkan agar aku tidak menjadi pengkhianat, tapi takdir siapa yang bisa mengatur? Ghea justru memiliki perasaan untukku. Situasi ini terlalu rentan dan mungkin paman bisa menemukan jalan tengah," jelas Vir begitu singkat tanpa ingin memberi tanya ulang dibenak ibu keduanya.
Ibu kedua, panggilan sayang yang mewakili hati. Sebagai tuan muda pertama, ia hanya bisa menyematkan nama tanpa ingin mengurangi rasa hormat. Cinta dan perhatian tidak bisa diragukan hanya saja semua itu bukan harapannya. Apa yang ia miliki tak seorangpun tahu. Akan tetapi bukan berarti mengabaikan hak seorang ibu untuk mengetahui kebenaran dari putranya.
Terlebih lagi hubungan orang tua dan anak tak sebaik yang terlihat. Keluarganya terlihat damai tapi bagi siapapun yang bisa mendekat pasti melihat kekacauan. Meski tidak ada pertumpahan darah hanya karena kekuasaan. Tetap saja selalu tersedia bahan bakar yang bisa membakar keyakinan semua orang. Dimana tampak terang benderang tetapi nyatanya gelap gulita.
Pengakuan tak bisa diubah karena itulah kebenarannya. Malam ini menjadi saksi bahwa kisah cinta segitiga tidak pernah terjadi dengan sengaja. Meski begitu akan ada banyak ketegangan sebelum semua yang terlibat memahami keinginan hati dan memutuskan melanjutkan kehidupan.
Sementara di sisi lain sambutan hangat seorang istri menghadirkan senyuman tampan suaminya. Hiasan kamar begitu indah menenangkan tetapi juga menggoda iman. Apa semua disiapkan untuk menyambut malam kebersamaan?
"Mandi dulu, Sayang. Aku sudah siapkan makan malam spesial, buruan nanti keburu dingin makanannya," tangan melepaskan genggaman dari lengan kekar yang ia hantarkan hingga pintu depan kamar mandi.
__ADS_1