
Kekhawatiran yang melanda hati tiba-tiba tertahan oleh tarikan tangan sehingga membuatnya tak bisa memanggil penjaga. Dibantunya sang papa agar bisa kembali bernapas dengan teratur seraya terus mengusap punggung dan menahan raga yang terasa tak begitu berat. Kesadaran masih terjaga dan mungkin papanya hanya terkena serangan kejutan sesaat.
"Apa papa sudah lebih baik? Katakan pada Dio, pa!" Dio yang melihat wajah pucat papanya mulai kembali normal baru berani menanyakan keadaan sang papa meski hanya dijawab anggukan kepala pelan.
Ada rasa lega melihat perubahan dalam diri papanya hanya saja ia harus membujuk seorang ayah agar mau memeriksakan diri ke dokter pribadi keluarga. Bagaimanapun harus melakukan pencegahan agar hal sama tidak terjadi lagi tetapi mengingat setelah kepergian mamanya, sang papa bahkan tak sudi menatap bangunan putih dengan plang nama rumah sakit. Sementara dokter hanya melakukan pengecekan seluruh tes di tempat bekerja saja.
"Dio, boleh papa menginap disini semalam? Papa merasa tidak sanggup harus menempuh perjalanan pulang ke rumah." ucap lirih si papa dengan sisa kekuatannya untuk mengungkapkan isi pikiran kepada putranya.
Dio yang masih menyayangi papanya tak memikirkan konflik pribadi di antara mereka berdua. Sebagai seorang anak, ia membiarkan seorang ayah mendapatkan hak atas tempat dalam kehidupan putra sendiri. Sehingga ia membiarkan pria yang telah merawat dan membesarkannya itu untuk menetap di kediamannya dan hal itu demi kebaikan bersama.
Waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa siang berganti malam ditemani gelapnya awan tanpa bintang yang bersinar. Sayup-sayup terdengar suara rintihan tangis yang memilukan tetapi tak ada teman tuk menjadi obat penenang. Apa yang bisa dirinya lakukan ketika takdir secara berulang-ulang mempermainkan. Mungkinkah kehidupan hanya untuk orang-orang pilihan?
Sementara di sisi luar sebuah mobil baru saja datang tetapi membuat semua orang yang berjaga di luar berbaris rapi menyambut kedatangan tuan besar. Kepala menunduk, tubuh membungkuk setengah badan dan tak seorang pun berani bergerak dari posisi masing-masing sampai suara derap langkah kaki berhenti di tengah-tengah halaman depan. Aura dingin yang menyebar seketika merenggut kedamaian hati.
__ADS_1
"Bubar!" titah tuan besar dengan suaranya yang tegas menggetarkan keberanian para bawahan.
Para penjaga berlari teratur kembali ke tempat semula dan melanjutkan pekerjaan masing-masing, sedangkan tuan besar berjalan santai menyusuri lorong menuju pintu utama mansion bahkan pintu langsung terbuka sebelum sang penguasa mencapai titik tujuannya. Suasana tampak sunyi, senyap dan menegangkan.
"Selamat datang, Bos Altra. Mau ke ruang kerja atau bermain dengan tawanan?" Zack yang sudah menunggu di ruang tamu bahkan berdiri selama empat puluh lima menit akhirnya bisa bernapas lega begitu melihat kedatangan tuan besarnya.
Tak ada senyum yang menghiasi wajah Al, pria itu terlalu dingin menanggapi tawaran sang tangan kanan yang sudah pasti selalu bekerja keras demi kepuasannya. Akan tetapi, bibir enggan berkata-kata sehingga hanya kembali meneruskan langkah kakinya meninggalkan pintu utama, lalu menyusuri setiap jengkal lantai marmer berpola matahari dan diikuti Zack tanpa pengajuan tanya.
Kedua pria itu berjalan beriringan hingga mencapai sebuah pintu berwarna hitam dengan knop pintu tanpa gagang. Zack yang berada di belakang tiba-tiba beralih maju ke depan dan dengan sigap membukakan pintu yang menuju ruang pengawasan untuk mengawasi para tawanan. Seperti dugaan awal, kedatangan tuan besar untuk memastikan pekerjaan semua orang masihlah aman terkendali.
"Ruang merah, berisi tahanan untuk klien Rusia, kondisinya masih fresh belum tersentuh sedikitpun. Ruang putih, diisi tahanan dari klien Dubai, saat ini bisa dikatakan keadaannya kurang baik karena masa penangkapan melakukan pemberontakan jadi kaki kanan mengalami patah tulang dan mata kiri mengalami kebutaan. Ruang biru, tahanan satu ini seperti patung dan alasan dari klien Amerika kemungkinan agak berlebihan. Dari keempat tahanan, cuma satu tahanan di ruang hitam yang perempuan."
"Tuan, aku sudah mencocokkan sejarah dan informasi dari klien yang memberikan pekerjaan tapi anehnya tidak ada kecocokan apapun. Apa mungkin aku salah orang atau memang buruan pandai mengenakan topeng. Jujur saja, aku merasa ragu untuk pekerjaan satu ini," ujar Zack mengutarakan perasaannya dengan menyatakan keluhan tanpa rasa canggung membuat Al menjentikkan jari, lalu mengisyaratkan empat jemari.
__ADS_1
Melihat itu, Zack dengan sigap menutup semua kamera di ruang para tawanan tetapi hanya fokus ke ruang hitam dimana seorang wanita menjadi penghuni tetap semenjak delapan jam terakhir. Al sendiri mengambil earphones bluetooth yang tergeletak di atas meja dan itu terhubung dengan perekam suara di ruang tawanannya. Suara tangisan yang menyambut indra pendengar menyentak kesadarannya.
"Zack, bawa kemari informasi dari klien dan hasil penyelidikanmu!" Al tak mau melakukan kesalahan apapun meski pekerjaannya mendapatkan banyak penghasilan, ia harus berhati-hati karena musuh bisa saja mengintai bahkan memalsukan misi demi menjatuhkan namanya.
Jika menyangkut pekerjaan sebagai seorang mafia, ia tak mengenal gender tetapi juga tidak mengabaikan insting. Apalagi terjun di dunia gelap yang hanya mengenal kekejaman, maka dirinya harus tumbuh kuat dan terus maju dengan keberanian. Hanya saja dunia tak perlu mengenal bagaimana ia memperjuangkan kebenaran di tengah gempuran ketidakadilan. Sebab di dunia ini, apapun bisa terjadi.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Zack menyerahkan dua dokumen berbeda kepada Al. Kini sang tuan besar sibuk mempelajari informasi dan sejenak mengalihkan fokus perhatian agar menemukan jawaban atas rasa ketidaknyamanan yang mengetuk hati nuraninya. Semakin lama mendengar suara rintihan, ia bisa merasakan kepiluan.
Sementara Zack diam berdiri, pria satu itu menunggu perintah dari tuan besar untuk pekerjaan selanjutnya meski harus bersabar melakukan penantian. Lagi pula apapun bisa terjadi dan hasil akhir masih belum bisa ditentukan, apalagi para klien pun belum menghubungi mereka untuk penyerahan para tawanan.
"Zack, dimana kamu menangkapnya?" tanpa menoleh ke arah bawahannya, Al mengajukan pertanyaan yang membuat Zack kembali fokus pada waktu.
"Di Chennai, wanita itu sedang berlibur menikmati hari ulang tahun tapi tanpa teman ataupun keluarga. Seminggu sebelum bertemu, kegiatannya selalu diawasi jadi semua tercatat tanpa pengecualian. Apa ada yang salah seperti perkiraanku, tuan?" ujar Zack tanpa menutupi apapun karena apa yang dilakukan seluruh bawahan masih menjadi tanggung jawab atasan.
__ADS_1
Al merenung memikirkan setiap hal yang bisa menjadi kemungkinan termasuk dari lokasi penculikan sampai awal mula mendapatkan misi dari kliennya. Di tengah kesibukan memikirkan situasi, intuisi dan firasat tiba-tiba teralihkan suara dering ponsel yang berasal dari saku mantelnya. Dengan tenang mengeluarkan si benda pipih, lalu menggeser icon hijau di layar.
"Apa Anda sangat suka menjadikan orang awam sebagai kambing hitam?" tanya Al menyambut panggilan dari seseorang yang belum sempat mengucapkan salam perkenalan.