
Jadwal liburan untuk berkunjung ke tempat menyenangkan tidak bisa dilanjutkan mengingat keadaan menantu kedua yang tiba-tiba tak enak badan. Semua orang mengkhawatirkan kesehatan Ocy sehingga memutuskan kembali ke K-Grand Hostel Gangnam. Mereka memilih menunda perjalanan demi kebaikan bersama dan memastikan keadaan setiap anggota keluarga.
Di tengah kebersamaan yang saling menghangatkan dengan cinta keluarga. Muel justru disibukkan menyiapkan berkas hasil pemeriksaan milik istrinya dan masih berusaha mengkonfirmasi jadwal operasi yang sudah lama ia siapkan tetapi setiap kali hampir berhasil meyakinkan Ocy, pada akhirnya berujung pembatalan karena munculnya berbagai alasan.
"Dok, apa semua sudah siap atau masih menunggu persetujuan dokter Mawar? Aku sudah tidak tahan melihat rasa sakit yang dideritanya, tolong percepat segala sesuatunya!" ujar Muel yang berada di kamar pribadinya sembari menjaga Ocy tanpa membiarkan anggota keluarga lain menemani sang istri.
Setelah kembali ke hostel, ia sendiri telah menyuntikkan obat penenang agar rasa sakit yang menyerang Ocy bisa diredam. Sebenarnya apa yang ia lakukan bukanlah solusi terbaik tetapi menjadi pilihan tepat selama beberapa bulan bahkan tinggal bersama keluarga semakin mengurangi ruang gerak untuk tetap bersikap tenang tanpa memiliki masalah. Padahal hati, pikiran dan jiwa seringkali terguncang oleh keadaan.
Kesibukan Muel menjadi satu alasan yang tidak bisa dijelaskan hingga membuat pria itu terpaksa bungkam di depan anggota keluarga. Sementara di ruangan lain, tepatnya aula pertemuan menjadi tempat kebersamaan seluruh anggota keluarga kecuali sepasang suami istri yang berada di kamar. Wajah-wajah familiar saling mengakrabkan diri dengan perbincangan hangat selayaknya keluarga harmonis.
__ADS_1
"Nak, bagaimana kabarmu? Sudah berapa bulan tidak bertemu tapi masih saja tampan, boleh papa tahu rahasiamu biar awet muda?" Papa Angkasa dengan santainya menggoda pria dewasa sepantaran anaknya yang duduk di sisi kanannya.
Darren terkekeh pelan mendengar godaan ayah dari sahabatnya itu, "Papa bisa aja, lagian masih awet muda papa juga. Iya gak, ma?" pria itu meminta persetujuan seorang istri untuk menilai suami yang teramat dicintai.
"Ekhem, ganteng, sih, tapi masih jomblo. Kapan ngenalin calonnya nih, tuan Darren Wiratama?" celetuk Bunga yang menanggapi obrolan kedua pria di depannya lebih santai lagi membuat Al menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
"Bunga, kakakku itu pasti sebentar lagi bawa calonnya. Tenang aja, begitu dia kenalin ke kita, sudah pasti lonceng pernikahan berdentang menjadi perbincangan. Bukan begitu, Ka Darren?" Ara akhirnya membuka suara setelah memperhatikan interaksi semua orang di sekitarnya.
Tidak peduli seberapa keras orang meneriakkan kata cinta dan pengorbanan, baginya ikatan bukan tentang perasaan di hati saja. Lebih jauh dari apa yang dirasakan, nyatanya masih ada banyak hal yang menjadi pertimbangan. Orang bilang kehidupan selalu melengkapi, lalu bagaimana bisa mengesampingkan banyak hal demi satu kebenaran.
__ADS_1
Terutama mengenal keyakinan akan hati yang tidak bisa diasingkan meski secara sadar menyadari adanya cinta tak berkepemilikan. "Lagian ka Darren masih muda, kenapa terburu-buru nikah kecuali kalau ... " belum juga usai melanjutkan ucapannya tetapi sudah teralihkan suara rengekan dari arah belakang.
Dimana kedua insan yang selama beberapa waktu disibukkan oleh permainan tiba-tiba mengeluhkan sesuatu sehingga menyita perhatian semua orang. Bryant, Al, Ara, Bunga, Darren, papa Angkasa, mama Bella berpindah tempat melihat apa yang terjadi pada kedua pewaris keluarga Putra generasi ketiga. Kedua anak itu tampak saling membelakangi dengan wajah masam tak sedap dipandang.
"Sayang, ada apa dengan kalian berdua?" Bunga yang mencoba mendekati Alma bersiap meraih tubuh mungil putrinya tapi belum juga merentangkan tangan, sang putri justru menggeser posisi duduk hingga membelakanginya.
Melihat itu, Al menghentikan langkah kakinya. Lalu ia juga mengisyaratkan agar yang lain melakukan hal sama. Anak-anak memang memiliki banyak kesempatan melakukan kenakalan bahkan tak jarang menjadi bahan ujian kesabaran untuk orang tua tapi setiap pertengkaran pasti memiliki alasan. Sebab itu harus diperhatikan dan menyelesaikan masalah yang ada agar tidak menimbulkan percikan kemarahan.
"Bunga, putri kita sudah besar bahkan di usia semuda ini sudah menjadi seorang kakak sulung. Sebagai seorang kakak, Almaira selalu menyayangi adiknya. Bukankah begitu Abidzar?" Al yang tak ingin menggunakan ketegasan memilih cara teraman untuk mengetahui permasalahan antara kakak beradik itu, setidaknya kedua pewaris keluarga Putra sudah terbiasa diajak berdiskusi setiap kali menemui persimpangan jalan.
__ADS_1