
Pernyataan Sava seperti tamparan keras yang tanpa aba-aba menyadarkan separuh angan di dalam diri Denis. Pria muda itu tak mengerti kenapa kehidupan sang sahabat berubah haluan begitu cepat, padahal selama mereka berdua mengenal seringkali terdengar pujian manis untuk kedua orang tua Alsava. Lalu kini, bagaimana gadisnya akan melalui hari setelah kebenaran hidup menjadi kenyataan mutlak.
Tak tega melihat keterpurukan Alsava, Denis kembali merengkuh tubuh sahabatnya ke dalam dekapan seraya membelai kepala. Ia berharap apapun yang dirinya lakukan bisa memberi sedikit kekuatan di tengah ketidakberdayaan sang sahabat meski sadar tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mengubah suasana hati. Terlebih lagi keadaan menuntut keberanian memeluk sisa asa.
"Sava, tenanglah! Selama aku masih bernapas, kita akan bersama-sama menghadapi setiap ujian di kehidupan ini. Maaf karena aku terlambat datang, sekarang katakan apa yang mau kau lakukan!" Denis harus bangkit untuk membuat sahabatnya tetap baik-baik saja, apalagi ia sangat menyayangi wanita yang kini diam di dalam pelukannya.
Persahabatan bukan sesuatu yang bisa diukur oleh materi tapi hanya mengalir bak nadi di dalam raga. Setiap ikatan memiliki tempat dan maknanya masing-masing meski terkadang di tengah hubungan terkoyak oleh badai ujian kehidupan. Tak peduli seperti apa hari esok karena yang menjadi awal adalah masa saat ini.
__ADS_1
Menghela napas pelan, lalu mendongak hingga tatapannya menatap netra yang terlihat begitu peduli akan kondisi kehidupannya. Ia bisa merasakan duka dan kesedihan milik Denis dan itu karena luka yang ia rasakan. Hati sangat mengenal jika pria di depan mata memiliki kasih sayang untuk selalu berdiri di sisinya. Akan tetapi kehidupan masihlah panjang dan ia ingin berjuang tanpa menjadi beban seseorang.
"Tidak ada yang ku inginkan, Den. Jika hasil dari ujianku sebulan lalu positif maka kehidupan baru menunggu, kamu tahu impianku masih sama dengan menjadi pelukis terkenal. Seni yang bisa menjadi kehidupanku saat ini dan aku berharap tidak ada pengkhianatan. Bagaimana dengan rencanamu?" balas Sava yang sudah merengkuh ketenangan di balik sisa rasa.
Melihat perubahan emosi hati sang sahabat membuat Denis tersenyum lega, "Aku berencana menculik wanita tercantik di dunia dan mengajaknya berkeliling melihat putihnya salju di Korea. Sudikah tuan putri Alsava menjadi tawanan pangeran yang merindukan kebersamaan di tengah keramaian dunia."
Denis mengulurkan tangan kanannya tanpa melepaskan pandangan dari netra sendu yang menyita seluruh perhatiannya, ia tidak mengharapkan lebih dari persahabatan. Apalagi ketika hati sadar benar menyayangi sang sahabat layaknya seorang saudara. Lebih dari ikatan mereka, nyatanya masih ada jarak tipis di antara jiwa.
__ADS_1
"Ck, aku tidak tahu isi kepalamu yang kecil ini dipenuhi apa, Sava." Denis terkekeh mendengar pertanyaan sahabatnya, ia tidak paham kenapa selalu arah sama yang menjadi pembahasan. Padahal sebagai sahabat maka jelas tahu benar jika tentang wanita, ia benar-benar tidak memperhitungkan selama kakaknya masih betah hidup sendiri.
Pelukan di lepaskan tapi kedua tangan berpindah ke pinggang dengan bibir maju yang justru membuat Denis merasa gemas melihat tingkahnya hingga si pria tanpa sungkan menarik hidungnya, "Auuw, sakit, Den. Tuh tangan gercep amat, kebiasaan lama gak berubah." diusapnya hidung mancung agar rasa panas sedikit berkurang.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pertanyaan Sava, hanya saja bukan waktu tepat untuk membicarakan soal pasangan hidup. Di tengah kebersamaan, hatinya masih bisa merasakan kesedihan milik kakaknya. Semenjak mengetahui cinta bisa menjatuhkan keyakinan, ia sendiri begitu keras menjauhkan diri dari segala bentuk romantisme. Bukan takut jatuh cinta, ia hanya ingin melihat keajaiban atas nama cinta.
Langkah kaki berjalan melewati Sava, tatapan mata lurus ke depan menatap tirai yang bergoyang tetapi tak ada fokus padanya, "Aku hanya mengenal cinta sebagai saudara dan sisanya di luar jangkauan. Sementara ini masih aman karena aku ingin kakakku yang bisa melepaskan masa lajangnya. Jadi, sampai masa itu tiba, kamu jangan bahas tentang cinta denganku."
__ADS_1
...🍂🍂🍂...
One of the most beautiful qualities of true friendship is to understand and to be understood.