Karena Cinta

Karena Cinta
Part 107#SESI MANDI, KEDATANGAN GAURI


__ADS_3

Mahavir memasuki kamar mandi yang begitu mewah di dengan kolam pemandian pribadi. Tentu saja fasilitas mewadahi karena pemuda itu sudah berada di rumahnya sendiri setelah menikmati kebersamaan sesaat bersama teman kampus. Ia tidak ingin membuang tenaga dengan berlari seperti orang gila.



Meski selama ini jarang menggunakan kekuasaannya, tapi tidak untuk urusan yang sangat penting bagi kelangsungan hidupnya. Bagaimanapun ia harus menemui Bunga untuk meminta maaf secara langsung pada gadis pemilik mata hazelnut. Sejauh yang ia tahu, keluarga Putra memanglah salah satu pebisnis dengan reputasi nomor satu dengan keharmonisan keluarga.



Jadi tidak heran jika Bunga diperlakukan bak putri raja hanya saja pikiran masih bertanya-tanya. Kenapa gadis itu bisa tinggal di asrama seperti dirinya? Apalagi selama sebulan tidak sekalipun melihat para pengawal yang berjaga-jaga untuk melindungi putri keluarga Putra. Bukankah sedikit mencurigakan atau jangan-jangan gadis kesayangan keluarga juga sedang menikmati masa pendewasaan diri?


Hawa dingin menyapa menyentuh kulit menghantarkan rasa lega. Guyuran air shower cukup membantunya menetralisir emosi secara perlahan. Ya, mandi air dingin terbukti membuat tubuh terasa segar bahkan bisa membantu meredakan nyeri otot setelah berolahraga. Selain itu, ada beberapa penelitian yang mengungkapkan bila mandi air dingin dapat membantu dalam pengobatan kecemasan sebagai terapi air atau hidroterapi.


Kecemasan adalah kondisi kesehatan mental yang menyebabkan ketakutan dan kekhawatiran berlebihan. Walau kecemasan dan stres adalah hal normal dalam hidup, tapi jika berubah menjadi gangguan kecemasan malah dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Terkadang, gangguan kecemasan menyulitkan seseorang untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial.



Sama seperti yang tengah dirasakan Vir. Pemuda itu memerlukan esensi alam dengan cara sederhana untuk bisa mengembalikan ketenangan diri. Sebab tidak ingin menderita kecemasan kronis yang justru harus ditangani dengan berbagai cara oleh ahli kesehatan mental. Melakukan terapi komplementer seperti mandi air dingin dianggap dapat membantu dan melengkapi pengobatan.



Mandi air dingin untuk mengatasi kecemasan kronis berasal dari teknik pengobatan Ayurveda. Secara teori, mandi air dingin dapat membantu meminimalkan gejala kecemasan. Satu studi tahun 2008 yang meninjau peran hidroterapi dalam pengobatan depresi, melihat perbaikan gejala pada peserta. Perbaikan itu terjadi setelah beberapa minggu peserta menjalani hidroterapi yang terdiri dari sesi mandi air dingin selama 2 - 3 menit pada suhu 20° C.



Cukup membantu kan? Asalkan peserta mandi air dingin satu hingga dua kali per hari. Bahkan ada beberapa manfaat dari mandi air dingin untuk meredakan kecemasan. Pertama, mandi air dingin dapat menurunkan detak jantung hingga 15 persen pada orang depresi.



Sementara studi lain menemukan mandi air dingin secara teratur juga dapat meningkatkan sistem kekebalan. Pada orang yang mengalami kecemasan, tingkat peradangan di dalam tubuhnya meningkat. Kondisi itu membuat orang dengan kecemasan memiliki kemungkinan terserang penyakit lebih tinggi.



Manfaat lainnya, mandi air dingin telah terbukti membantu meningkatkan sirkulasi darah. Saat mendinginkan suhu tubuh, sistem tubuh merespons dengan mengalirkan darah segar. Di sisi lain, kecemasan menyebabkan peningkatan tekanan darah. Jadi secara teori, mandi air dingin dapat membantu menurunkan tekanan darah.



Mandi air dingin juga dapat meningkatkan endorfin, atau hormon perasaan senang di otak. Endorfin dapat meredakan gejala depresi dan kecemasan. Air dingin juga dapat menurunkan kortisol yaitu hormon pemicu stres. Dengan begitu kemungkinan terjadinya peradangan akibat stres juga menurun.



Terakhir, mandi air dingin dapat mengalihkan pikiran untuk sementara waktu dari hal-hal yang mungkin dikhawatirkan atau ditakuti. Selain itu, pemanfaatan hidroterapi untuk kecemasan juga hanya boleh beberapa menit setiap kali mandi. Setelahnya dilanjutkan dengan mandi air bersuhu normal.

__ADS_1



Namun bagi Vir, pemuda itu lebih menikmati setiap tetesan air yang jatuh menimpa raganya dengan mata terpejam mengumpulkan semua kenangan. Memori lama sengaja ia buka untuk kembali mengingat setiap kesalahan dan mencari jalan keluar dari masalahnya sendiri. Meski menjadi penyiksaan diri, ia sendiri tidak peduli.



"Jika aku jadi Bunga, apa selama sebulan bakal diam jadi penonton tanpa keluhan? Satu hinaan saja pasti membuat darahku mendidih dan melumpuhkan musuh menjadi kepastian, tapi gadis itu kenapa malah bersikap santai seolah tidak tahu apapun. Apa semua sudah direncanakan?"



Tidak tahu kebenaran yang mana bisa menyajikan kenyataan karena di tengah pertanyaan justru masa lalu kembali terulang. Tanpa sadar dulu yang pernah menjadi korban dan hari ini berubah sebagai dalang. Sekelebat ingatan datang menyapa mengetuk pintu hati yang hampir terlupakan.



Suara sorak para mahasiswa terdengar begitu keras bergema menggetarkan gendang telinga. Layangan penghinaan trus menyapu kesabaran hingga batas kewarasan menguji kebenaran. Tubuh gemetar tetapi tangan semakin mengepal menahan gelora panas di dalam dada.



"Hentikan!" teriaknya membungkam para penonton yang terus menunjukkan jemari ke arahnya seorang.



Ia tidak tahu kenapa bisa sampai separah itu, padahal rumor yang tersebar sama sekali hanyalah omong kosong belaka dari si pembual. "Apa kalian punya bukti kalau aku pengguna narkoba? Jika iya, tunjukkan dan serahkan pada pihak berwenang!"




Kasus yang membuat ia dan seorang mahasiswa lain harus berakhir perkelahian sengit. Kehidupan esok, siapa yang tahu? Pernyataan ini sungguh menjelaskan bahwa takdir memberikan ujian tanpa pernah menawarkan kata permisi.



Gemuruh di dalam hati kian merayap mencoba menguasai akal sehat tapi tiba-tiba terdengar suara dari luar memanggil namanya. Telinga masih mendengar begitu jelas tetapi ia sendiri tidak ingin beranjak dari posisinya saat ini. Sehingga hati tak peduli pada siapapun yang berniat mengusik kesendiriannya.



Sementara di luar kamar mandi, langkah seseorang berjalan mondar-mandir menunggu dengan tidak sabar. Baru saja tiba di Indonesia semalam dan begitu memiliki kesempatan menemui pemuda idaman. Justru sudah dikejutkan dengan cerita sang paman.



Rasanya begitu geram karena kakak kesayangan harus terlibat masalah hukum lagi. Padahal sudah sering diberi peringatan agar tetap bersikap tenang tanpa menimbulkan keributan. Selain itu, ia juga ingin tahu keseluruhan cerita dari Mahavir sendiri sebagai terdakwa sekaligus korban.

__ADS_1



"Koko, buruan keluar! Atau aku dobrak pintunya," seru seorang gadis muda yang sudah tidak tahan lagi dengan keras kepala Vir.



Bagaimanapun pemuda itu harus mengalah dari adiknya sendiri, jadi tanpa peduli dengan ketenangan di dalam kamar mandi. Si gadis berulang kali menggedor pintu sekuat tenaga, "Koko Vir, keluar!"



Suara ribut dari luar, membuat Vir menghela napas panjang. Ia lupa mengaktifkan peredam suara dan benar-benar tidak menyangka adiknya sudah kembali ke Indonesia. Padahal jadwal kepulangan masih empat bulan lagi. Tidak tahu bagaimana cara sang adik memutus kontrak kerjasama dengan klien di luar negeri sana.



"Mei mei, hentikan kelakuanmu itu!" jawab Vir mengeraskan suaranya yang bisa dipastikan sampai ke luar kamar mandi dan terbukti dengan keheningan.



Lega rasanya begitu gangguan sudah tidak ada lagi, tapi ia tetap harus keluar menemui adiknya yang keras kepala. Bergegas menyelesaikan mandi, lalu tak lupa menjaga emosi agar apapun intimidasi dari sang adik dapat mudah ditangani. Sifat keras kepala akan semakin keras jika sudah saling berhadapan.



Perlahan membuka pintu yang langsung disambut tatapan mata menelisik dari arah ranjang. Dimana seorang gadis berusia delapan belas tahun duduk bersila dengan tangan menopang wajah tetapi pandangan fokus ke arah pemuda di depan mata. Sudah jelas berusaha menguasai keadaan sebelum di luar kendali.



"Mei mei, kapan kamu sampai Indonesia?" Vir mengajukan pertanyaan sekedar ingin mengalihkan aura di dalam kamarnya yang sangat tidak bersahabat.



Bibir menggerutu tanpa memperdengarkan suara meski tatapan mata terus mengikuti setiap langkah kaki yang berjalan menghampiri lemari pakaian. Posisi kakaknya hanya mengenakan handuk yang menutupi aset masa depan, lalu bagaimana memulai obrolan di tengah kondisi seperti itu?



"Aku tunggu koko di tepi kolam renang dan jangan coba-coba kabur atau kuminta paman buat kirim kita kembali ke luar negeri, lagi," ujar si gadis yang beranjak dari posisinya. Ia tidak ingin memberikan kesempatan pada Vir untuk melakukan pemberontakan.



Langkah kaki yang berjalan menjauhi ranjang membuat Vir tersebut tipis. Adiknya itu masih memiliki toleransi dengan usia mereka. Ternyata menjadi dewasa cukup bagus karena dengan kepergian si gadis maka ia bisa bernapas lega selama beberapa waktu.


__ADS_1


"Apa Gauri bisa membantuku, ya?" tanyanya pada diri sendiri dengan sekelebat ide yang menyapa.


__ADS_2