
Perjalanan yang tidak begitu panjang tetapi cukup menyita perhatian Al sebagai seorang paman, sedangkan di sisi lain seorang pemuda berjalan cepat menyusuri area halaman depan kampus yang teramat luas. Langkah kakinya tak seorang pun berusaha menghentikan.
Hati gelisah menikmati detak jantung yang berpacu begitu cepat bersambut deru napas tak beraturan, "Pasti Bunga ada di kelasnya," gumamnya semakin mempercepat gerak tubuh agar mencapai tempat tujuan sebelum waktu istirahat membubarkan para mahasiswa.
Tersisa sepuluh menit lagi, ia berpikir sudah datang secepat mungkin hingga bisa menginjakkan kaki di wilayah fakultas. Akan tetapi gerakan dari tindakannya terlalu mudah ditebak sehingga membuat Al bergerak selangkah lebih maju dengan menjemput Bunga lebih awal dari jadwal seharusnya.
Lirikan mata terus memperhitungkan detik demi detik tetapi langkah semakin terasa berat di saat dirinya mendekati kelas Bunga. Perasaan bersalah atas tindak pencemaran nama baik yang telah dilakukannya menyesakkan emosi di dalam hati. Ia benar-benar seperti pria bodoh yang tak memiliki pendidikan apapun.
Maju mundur meneruskan langkahnya sebab keputusan yang sudah diambil haruslah sesuai dengan keinginan hati serta tak lepas kendali. Meminta maaf bukan perkara mudah hanya dengan mengulurkan tangan karena kata maaf sendiri harus benar-benar dari kemauan diri sendiri.
Orang bilang, jangan pernah mengucapkan maaf bila hati saja tidak ikhlas. Seseorang akan mengakui kesalahannya, lalu menikmati penyesalan dan memastikan tidak akan mengulang kesalahan yang sama di masa mendatang. Satu kata dengan begitu banyak makna mengikuti niat di balik permintaan maaf tersebut.
Sayup-sayup terdengar suara dosen yang sedang menjelaskan materi pelajaran pagi ini, "Karakteristik manusia yang mempunyai motivasi tinggi untuk menjadi pemimpin tampak dalam tingkah laku yang dilandaskan pada suatu keyakinan yang sangat mendalam bahwa apa yang dilakukannya merupakan bagian dari ibadah kepada Allah."
__ADS_1
"Siapa yang tidak ingin menjadi pemimpin? Bahwasanya pemimpin merupakan suatu panggilan yang sangat mulia dan perintah dari Allah yang menempatkan dirinya sebagai makhluk pilihan sehingga tumbuh dalam dirinya kehati-hatian, menghargai waktu, hemat, produktif, dan memperlebar sifat kasih sayang sesama manusia.
"Anak-anak, selalu ingat akan solidaritas kelompok sebagai dasar kehidupan yang dilandasi oleh iman dan akhlak mulia seperti yang dicontohkan Rasulullah Saw, dapat memberikan implikasi terhadap tatanan kerjasama kemanusiaan (ta’âwun al-ihsan). Apabila teori tersebut dihubungkan dengan kegiatan kepemimpinan, maka akan dapat mendorong masyarakat untuk bersatu dan aktif partisipatif dalam proses pembangunan di semua sektor kehidupan."
Penjelasan mengenai kepemimpinan yang merupakan pelajaran agama dari seorang dosen lemah lembut. Pak Zulfi selalu mengedepankan pemberian materi secara panjang lebar yang membuat sebagian anak di dalam kelas merasa bosan. Akan tetapi beberapa mahasiswa juga tampak begitu memperhatikan dengan seksama.
"Sebagai pemimpin maka akan memiliki motivasi. Motivasi ini untuk ambil bagian dalam suatu proses kepemimpinan sangat beragam sebagaimana halnya motivasi seseorang untuk melaksanakan ibadah, seperti shalat, puasa, dan sebagainya. Keragaman motivasi atau latar belakang niat seseorang dalam bertindak adalah suatu hal yang tidak terelakan dan secara hukum tidak dipersalahkan.
"Sejarah sendiri menjelaskan kepada kita, ketika Nabi Muhammad saw berhijrah bersama para pengikutnya, beliau mengatakan bahwa motivasi dan keikutsertaan para pengikutnya itu beragam, ada yang bermotifkan kekayaan, dan ada juga karena dorongan wanita yang ingin dinikahinya. Semuanya itu dibenarkan, hanya saja kualitas partisipasi yang terbaik dan tertinggi dalam pandangan agama Islam adalah karena Allah swt.
"Hadis yang berbunyi: innama al-’amal bi al-niyyât dan seterusnya, membenarkan keragaman motivasi tindakan. Oleh karena itu, masalah partisipasi tokoh masyarakat dalam perhelatan pemilihan kepala daerah baik presiden, gubernur, bupati maupun wali kota pun demikian. Motivasi partisipasi itu harus diciptakan.
"Dan menurut Abdurrahman bin Abd al Salam al Syafi’i dalam kitab Nuzhat al Majalis wa Muntakhab al Nafais bahwa motivasi seseorang untuk melaksanakan kepemimpinan sebagaimana juga melaksanakan ibadah selalu beragam. Minimal ada tiga motivasi utama, apa ada yang tahu apa saja motivasi ketiganya?"
Namun kedatangan seorang pemuda mengalihkan perhatian semua orang yang mana terpatri pada raga di depan pintu, "Pertama, motivasi ekonomi karena ingin mendapat imbalan material yang bernilai. Kedua, motivasi dari rasa takut karena takut mendapat ancaman akhirat dan ingin surga. Ketiga, motivasi ikhlas atas landasan iman tauhid yang amat murni, lillahi ta’ala."
"Vir, kenapa ke kelas junior? Kelasmu ada di sisi lain," sapa Pak Zulfi begitu menyadari nama pemilik wajah tampan yang bertamu di kelas mengajarnya.
Sebagai salah satu dosen lama, dia cukup mengenal pribadi mahasiswa satu itu. Akan tetapi memang tidak pernah berkomentar selain menyimak huru hara yang di puncak kehidupan banyak orang. Apapun yang ada di masa lalu sudah berakhir dan ia bukan hakim.
__ADS_1
Pandangan mata menelusuri seluruh isi kelas yang rupanya hanya ada para mahasiswa asing. Rasa kecewa tak bisa disingkirkan ketika apa yang diharapkan sudah hilang dari jangkauan. Tidak perlu menebak karena jelas semua terjadi sesuai dengan gerak cepat sang lawan.
Pak Zulfi meletakkan penggaris yang baru saja digunakannya untuk membuat tabel susunan politik dengan jabatan di sebuah instansi pemerintah. Setiap ilmu harus memiliki dasar, penjelasan dan juga bukti nyata. Lalu, ia melangkahkan kaki berjalan maju berniat menghampiri Vir yang termenung dengan tatapan mata kebingungan.
Baru saja tiga langkah dan tiba-tiba Vir membalikkan badan. Pemuda itu kembali meninggalkan keramaian tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sikap tak biasa bahkan sampai mengabaikan seorang dosen. Sepertinya begitu tertekan oleh sesuatu yang tidak bisa dijabarkan oleh siapapun.
Tangan mengepal menyimpan emosi dari dalam hati. Entah harus kemana untuk menyelesaikan masalah antara ia dan Bunga. Terlebih lagi, si gadis mata hazelnut pastikan sudah kembali bersama keluarga. Apakah mungkin pulang ke asrama atau justru ke kediaman Putra?
Tanda tanya besar hanya bisa dirinya simpan tanpa mampu melepaskan pertanyaan. Bahkan pikiran ikut tenggelam berusaha mencari jalan keluar atas apa yang sudah terjadi agar bisa menemukan solusi dari permasalahannya. Ketika sudah menyadari kesalahan, kenapa masih ada halang rintang?
Tidak tahu apa keinginan dari pihak lawan tapi ia merasa pengacaranya juga pasti menurut dengan menerima keputusan darinya. Lalu, apa masih belum mendapatkan konfirmasi persetujuan atas semua syarat yang akan dijalankan oleh dirinya sendiri. Jika iya, mungkinkah kepergian Bunga untuk antisipasi dan sebagai bentuk perlindungan dari pihak keluarga?
Semilir angin yang menerpa menyambut kedatangannya, membuat hati terkesiap dengan raga terhenti di depan jendela besar yang menghadap ke area parkiran. Tangan terangkat menyentuh kaca tebal di depannya, "Aku cuma mau minta maaf, kenapa sulit sekali. Apa harus meminta bantuan teman-teman? Tidak. Masalah ini cukup antara kita saja, Bunga."
__ADS_1