
Bunda Widya mengusap punggung Bunga, wanita itu benar-benar berusaha membuat si gadis mata hazelnut tetap nyaman meski di keramaian. Bukan hanya sekedar karena permintaan papa Bima, sebab ia sendiri juga memiliki seorang putri yang tinggal di kota lain demi mengejar cita-cita. Sejak melihat gadis penghuni asrama baru VVIP, ada rasa senang dari dalam hati.
"Neng maunya yang seperti apa? Celana jeans panjang seperti ini!" si Ibu penjual menunjukkan jeans hitam dengan model pensil ke Bunga, "Mau buat jalan-jalan boleh, kalau yang tiga perempat ini pakai di rumah, tapi anak gadis sekarang itu malahan keluar pakai yang paling pendek."
Si penjual mencomot jeans yang memiliki bawah rumbia, "Jeans anak metropolitan katanya anak ibu. Padahal kalau orang tua lihat harus sering-sering elus dada sambi istigfar. Jadi neng mau yang mana?"
Rasanya itu berbeda dengan belanja di mall. Jika di mall para pembeli hanya bertanya ukuran, model terbaru, harga atau sekedar jalan-jalan. Maka di pasar malam seperti tengah berbelanja dengan orang terdekat. Ada canda tawa dan nasehat dari obrolan singkat ketika melakukan transaksi.
Bunga tersenyum tipis dengan binar mata sedikit meredup. Ia bukan tidak pernah membeli pakaian, tapi malam ini hatinya menyadari dunia terlalu luas untuk dijelajahi. Baru beberapa jam menjalani kehidupan mandiri, ia sudah bisa melihat begitu banyak perbedaan antara hidupnya dan orang-orang disekitarnya.
"Sebenarnya saya sedang membutuhkan beberapa pakaian. Jika bisa langsung di mix biar jadi satu pake atasan dan bawahan, tapi celana jeans hitam panjang semua. Apa ibu bisa membantuku memilih atasan sederhana, nyaman dan pastinya untuk dikenakan sepanjang hari," jelas Bunga mengutarakan keinginannya.
Cara penyampaian Bunga yang tidak ingin pakaian aneh, membuat si penjual manggut-manggut dan kemungkinan sudah memahami tanpa harus dijelaskan lebih jauh lagi. Bunga dan bunda Widya yang melihat tangan si penjual terangkat memberikan tanda bahwa mereka berdua harus menunggu.
Akhirnya kedua wanita beda usia itu mencoba memberikan waktu dimana mereka melihat si ibu penjual yang baru saja menunjukkan beberapa jeans disibukkan memilih beberapa kaos yang terlihat dengan warna netral. Kemudian wanita itu memasangkan satu persatu jeans dengan kaos yang sudah ia pilih.
Dari kelima jeans warna sama beda tipe telah dijodohkan dengan kaos longgar berbagai ukuran dan juga memiliki warna sesuai karena benar-benar tidak mencolok di mata. Pakaian pasangan itu sederhana, tidak terlihat kuno atau kekinian. Sangat cocok untuk dikenakan sehari-hari.
"Apa masih kurang, Neng? Kalau tidak sreg langsung bilang ibu saja!" si Ibu membiarkan pelanggan pertamanya untuk melihat hasil mix and match dari tangan pedagang pasar malam sepertinya.
__ADS_1
Mata berbinar melihat pilihan si ibu penjual sesuai dengan ekspektasi awal, "Nggak ada yang kurang, Bu. Kalau gitu tolong bungkus semuanya, ya, Bu!" ia sudah memutuskan untuk membeli semua pakaian yang sudah dipasangkan oleh si penjual.
Ketika seorang pelanggan sungguh-sungguh menghargai usaha seorang penjual, sesungguhnya sama-sama saling memberikan kebahagiaan sederhana. Bunga bisa melihat ibu penjual yang terlihat begitu bahagia bahkan dengan cekatan membungkus semua pakaian yang berjumlah lima pasang. Hati ikut senang atas kegembiraan orang lain.
Kali ini tidak ada paper bag melainkan hanya tas kresek berwarna merah yang berukuran sangat besar alias jumbo. Bunga dengan senang hati melakukan transaksi yang membuat keduanya saling menguntungkan. Bunda Widya ikut tersenyum melihat bagaimana penghuni baru asrama begitu bahagia hanya karena membeli lima pasang pakaian baru.
Wanita berhijab itu tidak tahu, jika apa yang dilakukan Bunga hanya memiliki satu tujuan yaitu mendapatkan kebebasan serta kebahagiaan sederhana. Semua kemewahan sudah dirasakan si gadis mata hazelnut. Bukan bosan, tapi ingin memenuhi hati yang kosong dengan pelajaran hidup di tengah luasnya dunia.
"Apa cuma itu dibutuhkan, Nak? Jika memang sudah, bagaimana kalau kita jajan dulu?" Bunda Widya menawarkan kegiatan selanjutnya kepada Bunga agar tidak pulang terlalu awal.
Pasar malam atau bazar malam adalah pasar jalanan yang beroperasi pada malam hari dan umumnya didedikasikan untuk memamerkan, menjual dan bersantap alih-alih pasar untuk bisnis sehari-hari. Pasar tersebut biasanya adalah pasar udara terbuka.
Kalau berkunjung ke pasar malam dan tanpa mendapatkan jajan dari para pedagang yang terlihat menjajakan begitu banyak jenis makanan. Bukankah kurang afdhol? Ya, begitulah pikiran bunda Widya. Akan tetapi wanita berhijab itu tidak tahu bahwa Bunga benar-benar menjaga makanan yang masuk ke dalam tubuh.
Ajakan bunda Widya membuat Bunga sedikit waspada. Bukan karena ia tidak suka makanan atau jajan hanya saja dirinya benar-benar belum pernah membeli jajan sesuka hati di tempat terbuka yang notabene banyak makanan berminyak. Selama ini ia selalu mendapatkan bekal sehat dan jika memang menikmati makanan luar, maka selalu di cafe atau restoran.
Ingin menolak pun dia sungkan sehingga dengan berat hati mengikuti langkah kaki bunda Widya. Langkah kaki berjalan melewati beberapa pedagang yang terlihat masih meneriakkan dagangannya agar para pengunjung melirik dan mau mampir membeli. Tampaknya semua pedagang mengobarkan semangat empat lima dan tentu berharap rezeki berlimpah di malam nan dingin tetapi berselimut kehangatan berkat banyaknya insan yang ada di satu tempat.
"Bunga suka jajan apa biasanya kalau di rumah?" tanya bunda Widya menoleh ke arah si gadis mata hazelnut. Ia tidak tahu apakah gadis itu bisa makan semua makanan atau memiliki alergi terhadap jenis makanan atau bahan yang diolah, "Ibu biasanya langganan makan bakso di kedai Mas Bro. Bunga bisa makan bakso?"
__ADS_1
"Bakso, ya, Bu? Boleh, ayo!" Bunga menyetujui keinginan bunda Widya tanpa ingin mengeluh.
Bakso bukan makanan yang sulit dicerna. Apalagi ia juga harus belajar makan makanan sama dengan orang-orang disekitarnya. Sombong? Tidak. Ia hanya ingin adaptasi dengan dunia dan lingkungan baru sebab selama tiga bulan ke depan hanya mengenal kesederhanaan tanpa kemewahan.
Padahal jika memperhatikan para pengunjung pasar malam, ia juga tahu para warga sekitar suka sekali dengan gaya modern. Termasuk dari segi penampilan. Fashion memang bisa dikatakan merata, tapi di tempat merakyat hanya akan menjadi angin lalu.
"Nah, ini dia bakso Mas Bro. Ayo, masuk!" Bunda Widya menarik tangan Bunga agar gadis itu masuk duluan ke tenda biru karena ia tidak ingin ada mata jahat yang jatuh menimpa si remaja.
Dimana di pojokan dekat bakso Mas Bro menjadi tempat nongkrong para pemuda desa. Bukan suudzon hanya saja sebagai warga asli, maka ia sangat hapal dengan tatapan mata yang hampir melompat sejak melihat kedatangan Bunga yang mendekati pedagang bakso. Begitulah resikonya menjadi gadis cantik.
"Selamat malam," seorang pemuda dengan penampilan sederhana yang mengenakan masker hitam meletakkan list menu ke meja dihadapan Bunga, "Silahkan sebut pesanannya, Neng!"
.
.
.
__ADS_1