
Akbar menggelengkan kepala, pria itu mencoba meyakinkan Ara bahwa dirinya baik-baik saja. Padahal hati dirundung cemas karena sejak sore hari tidak mendapatkan kabar dari Anggun. Entah apa yang sedang dilakukan oleh sang istri pertama di rumah kontrakan hanya sendiri di cuaca tak baik.
Suara derai hujan yang bersambut gelegar petir kian menyesatkan rasa tak karuan semakin dalam dan hati ingin segera meninggalkan meja makan meski belum memulai jaminan makan. Situasi yang dia hadapi tidak bisa dibenarkan tetapi juga tak mungkin diabaikan mengingat masih berpura-pura sangat mencintai istri keduanya.
Mau, tak mau, ia membalikkan piring yang membuat Ara kembali bersemangat dan dengan sigap melakukan pelayanan sebagai seorang istri. Kesibukan wanita itu yang tengah menyajikan makanan dimanfaatkannya untuk mengirim pesan singkat agar istri pertamanya segera melakukan panggilan suara. Hanya itu harapan terakhir supaya dirinya terbebas dari sikap manis istri kedua.
Namun harapannya seketika pupus begitu melihat pesan yang dikirim hanya centang satu dan itu berarti si pemilik ponsel tengah tak ingin di ganggu. Rasa penasaran datang menyapa menjadi tanda tanya, tapi jika sang istri pertama tidak ada. Bukankah tidak masalah seandainya menikmati kebersamaan dengan istri kedua?
Pikiran jahat mulai menyerbu menggerogoti akal sehat, meski secara hukum agama dan negara tetap saja sah. Kecuali niat di balik senyum evil dengan tatapan manis menatap sang istri kedua, "Terima kasih, Ara. Mau makan berdua?"
"Kembali kasih, Mas Akbar. Ara makan sendiri, ya. Mas itu harus makan banyak biar tenaganya selalu kuat, apalagi seharian sibuk ngurusin kebun. Mari makan, mas!" Ara mengajak Akbar untuk memulai makan malam bersama yang di awali dengan doa bersama.
Keduanya mencoba tetap tenang menikmati setiap suapan makanan yang terasa nikmat dan lezat. Tidak ada obrolan selain suara dentingan sendok dan garpu yang saling berbenturan melakukan kerjasama di atas piring pertempuran. Suasana malam kian temaram hingga tiba-tiba teralihkan suara ketukan pintu yang mengejutkan.
"Mas Akbar janjian sama temen kah?" Ara menghentikan aktivitasnya dan berniat beranjak untuk memeriksa siapa yang datang, tetapi suaminya mengibaskan tangan memintanya agar tetap diam.
Pria itu berdiri dan tanpa menjawab pertanyaan Ara, ia melangkahkan kaki menjauhkan diri dari meja makan. Hatinya berdebar seolah bisa merasakan siapa yang datang. Perasaan membimbing kedamaian menuju penyatuan bersambut seulas senyum tampan begitu membuka pintu depan.
__ADS_1
"Malam, suamiku," Anggun menyapa Akbar dengan penuh semangat meski harus memelankan suaranya agar tidak kedengaran sampai dalam. "Assalamualaikum, mas. Apa Ara ada di dalam?"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, masuk dulu. Di luar dingin dan pakaian kamu basah gitu, ayo!" Akbar melebarkan pintu agar Anggun bisa lewat tanpa harus menunggu lama, dibiarkannya langkah kaki sang istri kedua datang menyongsong hari baru kehidupan mereka.
*Aku harus tahu alasan Anggun menyetujui rencanaku. Padahal tadi siang masih kekeh menolak seolah tidak mau hidup seatap dengan madunya.~batin Akbar seraya menutup pintu*.
Kali ini, ia sengaja memelankan langkahnya dan memberikan waktu kepada dua sahabat untuk saling bertegur sapa. Bahkan begitu sudah ikut berkumpul di ruang makan tetap diam menyimak rintihan cerita palsu Anggun yang berhasil menyentuh hati Ara. Jika dipikirkan lebih jauh lagi, istri kedua benar-benar payah.
Orang lain saja bisa melihat senyum sinis di balik kesedihan Anggun yang juga memendam kebencian dari sorot mata seorang sahabat, tapi Ara hanya mampu melihat rasa sedih menusuk dada. Polos? Baginya malah terkesan bodoh dan karena itulah, ia bisa dengan mudah mengendalikan keadaan tanpa harus bekerja keras.
"Ay, ini kan rumahmu. Mas manut saja, lagian kasihan juga kalau harus cari kontrakan malam-malam gini," pungkas Akbar sebisa mungkin bersikap masa bodo atas keberadaan Anggun yang justru mengedipkan mata ke arahnya.
Wanita nakal. Begitulah Anggun baginya, nakal yang bisa membuatnya mabuk kepayang bahkan tak bisa berpaling dari kenikmatan. Tanpa Ara sadari bahwa rumah tangga harmonis versi sederhananya akan semakin terhempas tanpa meninggalkan jejak. Malam dingin berselimut penghianatan mengubah alur kehidupan menjemput masa depan.
Setelah melakukan obrolan panjang kali lebar, Ara mengantarkan Anggun ke kamar bawah yang memang jarang pernah di tempati. Kamar tamu itu kini menjadi kamar milik sahabatnya, sedangkan ia dan sang suami memilih kembali ke kamar. Tidak ada yang melanjutkan makan malam, apalagi setelah mendengar cerita yang begitu menyedihkan.
Rasa lelah yang mendera tak kunjung membuat matanya terpejam. Ia merasa kehidupan selalu memberikan ujian tak terduga, "Mas, apa kita bisa membantu Anggun. Misalnya dengan memberikan modal untuk usaha, bagaimana?"
__ADS_1
"Apa kamu begitu sayang dengan sahabatmu itu?" Akbar menundukkan pandangan, ia mengalihkan perhatiannya menatap Ara yang sudah berbaring di atas ranjang, sedangkan dirinya masih duduk menyandarkan punggung ke belakang.
Ara pun ikut mengubah posisinya agar bisa melanjutkan perbincangan yang memang diperlukan. Tidak ada rasa malas berpindah tempat dan ikut duduk di sebelah Akbar yang masih menunggu jawaban darinya. Setahunya sang suami tidak begitu mengenal Anggun karena hanya bertemu beberapa kali saja yaitu saat hari pernikahan, resepsi, dan pertemuan ketiga adalah malam ini.
"Anggun, dia adalah satu-satunya sahabatku, Mas. Bisa dibilang sudah aku anggap sebagai saudara perempuan sendiri, lagian kamu tau ayah cuma punya anak satu. Jadi penting bagiku untuk membantu kehidupannya agar lebih baik. Apa itu mengganggumu atau ... "
"Bukan begitu, istriku. Aku senang karena memiliki pendamping hidup yang baik hati dan suka menolong, tapi apa itu tidak menyinggung perasaan Anggun?" Akbar mengubah posisi duduknya hingga berhadapan dengan Ara, ia genggam kedua tangan wanita yang ada di depannya dengan sayang.
Tatapan mata saling memandang mencoba menenggelamkan diri menyatukan rasa yang tak biasa. Meski tidak berujung pada jalan sama dan sekedar melanjutkan sesi obrolan semata, "Maksudnya begini, seandainya kamu bantu Anggun dan tiba-tiba kasih uang buat modal usaha. Apa yang bakal dia pikirkan?"
"Mas belum bantuin udah suudzon, loh. Anggun itu baik banget, dia juga pasti ngerti kalau maksud di balik pemberian kita agar bisa merubah nasib kehidupan. Bukan bermaksud pamer atau menghina juga, percaya deh kalau sahabatku itu mengerti tanpa harus dijelaskan secara gamblang.
"Selain itu, Ara juga dengar kalau Anggun punya pacar dan sebentar lagi pasti memerlukan biaya banyak kalau hubungan sampai ke jenjang serius. Sebelum itu, bukankah lebih baik kita membimbing agar dia bisa menyiapkan masa depannya!"
Penuturan Ara yang sangat peduli dengan kehidupan Anggun justru menjadi tamparan keras untuk Akbar. Pria itu tak bisa berkata-kata lagi karena hati nuraninya tercabik-cabik tak berarti lagi. Ia yang berniat menghancurkan hidup istri kedua demi membahagiakan istri pertama.
Sementara sang istri kedua malah ingin mengangkat harkat martabat dari wanita yang sudah bersiap merenggut semua hak seorang anak sekaligus sebagai pengkhianat. Siapa yang waras di antara mereka bertiga? Ketidakadilan berselimut ketulusan menghantarkan keraguan di balik kebisuan Akbar.
Ara menyenggol lengan suaminya, "Mas Akbar, kok malah melamun. Ada apa, mas?"
__ADS_1