Karena Cinta

Karena Cinta
Part 214#SURAT WASIAT


__ADS_3

    Ketika angan berubah menjadi segenggam asa maka insan di dunia masih bisa percaya keajaiban itu nyata adanya. Dimana harapan semu tidak lagi dianggap kesalahan melainkan usaha mempertahankan semangat untuk tetap melanjutkan kehidupan. Begitu juga yang dirasakan Darren selama masa hidupnya.


    Meski takdir menghadirkan ujian berat yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, pria itu tetap tegar dan terus merangkak memperjuangkan setiap hak hingga pada akhirnya mampu berdiri sendiri tanpa sandaran. Akan tetapi waktu kembali merenggut rasa percaya dari dalam hati dimana ia mulai merasa setiap jalan menunjukkan sisi gelap yang tak berujung. Entah harus bersikap seperti apa untuk menyelaraskan kehidupannya kali ini.


    Bagi Darren setiap hal akan dimulai dari awal tetapi itu tidak berlaku untuk semua insan di dunia. Waktu akan terus berdetak menghantarkan sang surya kembali ke peraduan dan menyambut gelapnya malam yang berselimut awan tanpa bermandikan cahaya. Begitu cepat perubahan alam semesta hingga tak bisa diperhitungkan kala waktu berlalu begitu saja.


    Dua hari dari waktu yang telah ditentukan akhirnya datang tetapi di pusat keramaian hanya terlihat sedikit kehidupan. Entah kemana perginya orang-orang sampai tidak sempat menikmati waktu sekedar meliburkan diri dari rutinitas harian. Mungkin karena kesibukan setiap insan tak bisa disama ratakan.


    Gemerlap lampu taman cukup menyilaukan sepanjang jalan setapak sehingga membuat kedua insan yang menikmati malam mencari tempat duduk jauh dari area tengah air mancur. Pada akhirnya keduanya duduk di bangku kayu yang tergeletak di bawah pohon dimana pohon tua itu memiliki bunga putih bergaris merah muda. Jika bukan malam maka tempat itu pasti dipenuhi sinar matahari.


   "Aih, udaranya masih segar disini, Ka. Apa kakak sering mampir ke taman yang letaknya terpencil? Hayoo, kakak ngapain bawa aku kemari?" suara canda terlontar begitu saja tetapi juga mengawali obrolan di antara ia dan pria dewasa yang duduk di sebelah kirinya.


    Bukan sebuah jawaban yang diterima si pemuda dimana jemari besar tanpa aba-aba melayang di atas kepala. Pukulan ringan mengalihkan perhatiannya, "Kejam kau, Ka. Tau gini mending aku pergi ke klub saja." sebenarnya ia tidak tersinggung karena tahu bagaimana tabiat sang kakak, hanya saja masih belum mempersiapkan diri di saat menerima pukulan pelan.


    "Denis, sampai kapan kamu mau bercanda trus? Kita disini bukan untuk berbicara omong kosong, apa kamu tidak bisa bersikap serius di hadapanku. Sekali saja, buat posisi kita sama tanpa perlu memikirkan hubungan saudara. Apa kamu paham atau masih harus dijelaskan?" Darren menghela napas pelan, hatinya benar-benar tertekan tetapi masih berusaha untuk tetap tenang.

__ADS_1


    Untuk pertama kali dalam hidupnya ia mendengar nada bicara Darren tak biasa. Apapun alasan di balik sikap tegas yang melebihi batas sungguh sangat tidak ia suka. Apa yang lebih penting selain kebebasan dalam bertindak? Sang kakak selalu mengajarkan kasih sayang tapi malam ini kenapa menunjukkan sisi lain secara tidak terduga.


    Kesunyian malam di sekitar mereka berdua semakin menciptakan suasana yang mencekam. Semilir angin pun tak bisa menyingkirkan ketidaknyamanan dari dalam hati kedua insan yang saling membuang muka. Mungkinkah ikatan persaudaraan terlepas begitu mudahnya atau hanya kesalahpahaman semata?


    "De," Darren menggeser posisi duduknya lalu ia genggam bahu kiri Denis hingga adiknya beralih menghadap ke arahnya. Ia tahu barusan bersikap kasar, "Maafin kakak yang ngebentak kamu. Kita sudah sama-sama dewasa dan sekarang waktunya untuk meluruskan masalah yang menjadi problematika di perusahaan keluarga."


    "Jujur saja, kakak tidak ingin kamu memikul banyak beban dan membatasi kebebasan yang selama ini menjadi hidupmu cuma kita berdua sudah kehabisan waktu. Suka atau tidak, kita memiliki tanggung jawab untuk mengakhiri masalah internal yang sudah mulai menimbulkan pro dan kontra. Lagi pula hidup di dunia memang selalu tentang perjuangan dan pengorbanan."


    "Jadi apa bisa kita mulai bahas urusan perusahaan dan kakak harap, kamu bertindak sesuai dengan posisimu sebagai wakil direktur." tatapan mata tak lepas dari netra pasrah milik adiknya. Meski sadar semakin memaksakan kehendak, ia hanya berusaha melakukan kewajiban saja.


    "Oke lah," Denis melepaskan tangan kanan Darren dari bahu kirinya kemudian mengubah posisi duduk dan memusatkan pandangan ke depan dimana hanya ada rumput hijau yang terbentang.


    Meski hari telah malam nyatanya tak mengurangi tingkat ketajaman dari penglihatan. Begitu juga dengan perasaan yang harus dipertahankan ke jalur zona nyaman meski firasat mengatakan akhir dari perbincangan bukan hal menyenangkan. Akan tetapi persetujuan sudah diberikan dan ia tak bisa menghindari kebenaran.


    "Aku punya satu pertanyaan untukmu sebelum kita mulai diskusi malam ini, apa kamu sudah membaca isi surat wasiat kedua orang tua kita? Jawab dengan jujur karena jawaban bisa menentukan arah diskusi nantinya." jelas Darren yang menekankan pertanyaannya dengan harapan Denis tidak bermain-main setelah setuju atas permintaannya.

__ADS_1


    Hawa dingin tak mengurangi suhu panas yang menghangatkan hati. Rasa penasaran kembali menyapa apalagi pertanyaan sang kakak masih pada hal yang seharusnya terlupakan begitu saja. Kenapa datang pada surat wasiat yang ditinggalkan kedua orang tuanya? Apa begitu penting sehingga melupakan rasa percaya terhadap saudara.


    "Kakak itu sukanya memperjelas hal yang sudah jelas. Kalau aku sudah baca surat wasiat orang tua kita, apa menurut ka Darren malam ini dua saudara bisa duduk bersama? Feelingku tidak pernah salah jadi tidak minat cari tahu lebih jauh soal peninggalan papa dan mama." setiap kata yang diucapkannya tak memiliki maksud lain hanya saja sebagai seorang anak, ia tidak pernah berpikir sempit mengenai kedua orang tuanya.


    Seperti apapun kehidupan di masa lalu sudah tidak bisa diubah tapi jika hanya karena selembar kertas mengubah dunia nyata. Apalagi yang bisa diperjuangkan sebagai miliknya? Kehidupan di dunia juga begitu singkat dan akan lebih baik untuk tetap menjaga kebahagiaan sederhana tanpa meraih banyak cita-cita.


    "Tidak perlu menatapku begitu intens, Ka! Bagiku tidak ada yang lebih berharga dari ikatan persaudaraan kita dan kakak lebih memahami bagaimana diriku ketimbang aku sendiri. Lagian ka Darren terlalu sibuk mengurus pekerjaan sejak masih muda, gimana kalau liburan sebentar dan ikut adikmu bersenang-senang?" sambung Denis dengan topik lain yang ia anggap sebagai solusi terbaik dari permasalahan internal di perusahaan keluarga.


Penjelasan sekaligus pembelaan adiknya memang bisa diterima bahkan ia tidak memiliki keraguan sedikitpun. Akan tetapi masalah tidak bisa terus diabaikan meski ia masih mampu untuk menyelesaikan seorang diri. Jika dirinya belum membaca surat wasiat mungkin tak mempermasalahkan kehidupan Denis hanya berjalan penuh kebebasan.


"Denis, kakak minta maaf tapi setelah malam ini tanggung jawab perusahaan hanya akan menjadi milikmu seorang dan pergantian pemimpin sudah di sahkan oleh semua pemilik saham. Aku harap adikku menjadi pemimpin yang terbaik dan membawa perusahaan semakin berjaya. Selamat ya, adikku tersayang." do'a dan harapan ia utarakan setulus hati untuk Denis yang akan mengawali hidup baru.


Namun ucapan selamat yang terdengar seperti nyanyian burung camar membuat si pemuda termenung. Wajahnya yang biasa santai seketika hilang entah kemana, "Ka Darren ngomong apa, sih, kok ngelantur gitu? Bercanda boleh tapi napa bawa perusahaan segala bikin aku gk semangat."


"Bocah!" ditepuk nya kening sang adik yang masih menganggap dirinya hanya membual tapi ucapan serius selalu memerlukan bukti, sebab itu dikeluarkannya si benda pipih lalu dengan tenang menunjukkan berkas pemindahan jabatan yang sudah disepakati oleh banyak pihak di hadapan Denis.

__ADS_1


Barisan huruf yang tertera menyatakan begitu banyak poin tapi semua itu diabaikan kecuali tanda tangan atas nama kakaknya. Ia merasa tertipu dengan sikap tegas saudaranya sampai tidak bisa menyadari tindakan yang sekalipun ia tak akan memikirkan hal itu, apa jabatan memang penting untuk kehidupannya?


__ADS_2