
Setelah memberikan titipan warga, bunda Widya mempersilahkan penghuni lama asrama VVIP agar kembali ke kamar dan bisa beristirahat dengan tenang. Apalagi mengingat acara malam nanti akan sangat menguras tenaga dan membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Selain itu kedatangan pemuda itu sangatlah di nanti semua orang.
Waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa bersambut sinar sang mentari yang tenggelam menuju peraduan malam. Suasana sedikit mulai ramai sebab anak-anak kuliah sudah waktunya kembali ke asrama masing-masing. Meski begitu tetap saja asrama VVIP terlihat lebih tenang dari area lainnya.
Bagaimana tidak tenang ketika dari kelima kamar yang berpenghuni hanyalah tiga kamar saja, sedangkan dua kamar lain masih kosong. Selain itu kedua penghuni kamar juga merupakan mahasiswa dan penghuni yang ketiga yang berada di kamar tengah merupakan seorang dosen yang kebetulan juga mengajar di universitas Yarsi.
Dari kejauhan mulai terdengar suara musik dangdut yang berasal dari area belakang rumah utama pemilik asrama. Seperti yang dikatakan oleh bunda Widya di mana malam ini akan ada pasar malam dadakan. Tidak bisa dibilang dadakan juga, sebab sudah direncanakan dan pasar malam dimulai sejak pukul tujuh belas atau bisa dikatakan pukul lima sore petang.
Sementara saat ini jarum jam menunjukkan pukul lima lebih sepuluh menit. Bunga yang memang sudah janjian dengan pemilik asrama meminta waktu setidaknya pukul setengah tujuh malam, membuat gadis itu memiliki waktu untuk bersiap diri. Sekaligus melaksanakan salat sebelum menikmati dunia luar.
Sehingga kali ini, benar-benar bersemangat ketika mempersiapkan diri dengan penampilan yang semaksimal mungkin yaitu tampil apa adanya bahkan wajah tidak ia rias dengan make up selain memakai pelembab skincare saja dan bibir dilapisi lip balm tanpa warna.
Hal yang paling menonjol dari dalam diri gadis itu adalah matanya yang berwarna hazelnut. Pesona akan selalu tampak walau tidak memakai riasan sebab dari sananya juga Bunga terlahir dengan wajahnya yang cantik dan menggemaskan. Pertemuan antara ia dan bunda Widya di waktu yang tepat karena seringkali wanita tidak suka jam karet.
"MasyaAllah, kamu cantik banget Bunga. Boleh tahu rahasianya?" tanya bunda Widya menggoda remaja itu yang membuat Bunga tersipu malu menampilkan rona merah di kedua pipinya.
Ia memang terbiasa mendengar kata cantik dari orang-orang yang melihatnya. Akan tetapi ketika mendapatkan pujian dari seseorang yang tulus sungguh hati bisa merasakan bahwa pujian tersebut tidak memiliki maksud yang buruk, "Terima kasih, Bu. Apa tidak sebaiknya kita berangkat sekarang?"
__ADS_1
"Ayo, kita berangkat! Kebetulan juga sepertinya pasar malam sudah mulai rame, jadi lebih baik jika kita tidak kemalaman," Bunda Widya menggandeng lengan kanan Bunga. Wanita itu benar-benar sengaja ingin menjaga si remaja dengan hati-hati seperti anaknya sendiri.
Keduanya berjalan kaki sebab untuk mencapai pasar malam justru lebih dekat jika melewati gang sisi utara dekat asrama tipe dua. Apalagi terlihat juga beberapa anak asrama ingin ke pasar malam sehingga kali ini cukup ramai seolah mereka satu rombongan.
Mendapatkan teman baru dengan sesi perkenalan singkat hanya sekedar menyebutkan nama dan juga di mana tempat kuliah sudah membuat hati Bunga berbunga-bunga. Gadis itu merasa memiliki kehidupan baru yang jauh dari kata kesepian.
Jika biasanya setelah shalat maka ia akan langsung turun untuk menikmati makan malam seorang diri. Kemudian kembali ke kamar untuk mengerjakan tugas, tapi tidak malam ini. Baginya malam ini adalah malam pertama yang membuat dia bisa melihat gelapnya angkasa ditemani suara canda tawa menuju tempat yang menyediakan beragam kehidupan sederhana.
Bunga merasa hidup dengan perasaan bahagia seperti telah menemukan sesuatu yang hilang dari dalam dirinya sendiri. Ya, kehidupan inilah yang ia inginkan. Kawan, bermain, obrolan, keramaian, dan juga mengenal dunia luar.
"Guy's, aku mau cari beberapa barang untuk keperluan kelas seni. Siapa yang mau ikut?" Vivian si gadis semester tiga jurusan bisnis yang mengajukan pertanyaan agar tahu siapa sana kawan seperjuangan, membuat Bunga berniat ikut tetapi tangan ditahan oleh bunda Widya.
"Aku akan menyusul kalian nanti! Bunda Widya sudah janji mau ajak keliling pasar malam, jadi kalian duluan saja!" jawab Bunga pasti karena gadis itu tidak ingin membuat penghuni asrama yang lain berpikir yang bukan bukan.
Terlebih lagi jelas sekali terlihat bunda Widya menjaga dirinya. Ia sadar bahwa sikap wanita itu dikarenakan papanya sendiri. Sudah pasti papa Bima membuat si pemilik asrama agar ikut bertanggung jawab atas keberadaannya selama tinggal di asrama. Menebak situasi bukanlah hal sulit sebab ia sudah seringkali mengalami kejadian serupa.
Setelah mendapatkan jawaban darinya, ketiga remaja yang merupakan penghuni asrama tipe dua berjalan menjauh darinya. Rasanya lega karena tidak ada yang menatap ia dengan tatapan mata aneh hingga suara lembut bunda Widya kembali merenggut kesadarannya.
__ADS_1
"Bunga, apa yang kamu ingin cari? Mari biar bunda tunjukkan tempat-tempatnya!" bunda Widya mengulurkan tangan mempersilahkan Bunga berjalan di depan dan juga sudah melepaskan genggaman tangan. Wanita itu membiarkan Bunga bebas di pasar malam sebab semua tempat memiliki penjagaan dari warga sekitar.
Bunga mengangguk lalu ia berjalan maju beberapa langkah sejenak menelusuri seluruh area pasar malam dengan tatapan mata dan ternyata lumayan luas. Bahkan sampai ujung sana dirinya sedikit kesulitan untuk melihat para pedagang sedang berjualan apa. Selain itu ia datang ke pasar malam karena membutuhkan beberapa pakaian normal.
Pakaian yang bisa dikenakan sehari-hari dan akan ia kenakan setelah menemukan pekerjaan nanti. Jika penampilan sudah aman, maka tidak akan mengalami kesulitan lagi. Karena penampilan merupakan penilaian pertama dari orang-orang yang melihat secara visual.
"Saya ingin membeli beberapa kaos dan juga celana yang sekiranya nyaman untuk digunakan di rumah. Kira-kira di mana penjualnya, ya, Bu?" tanya Bunga membuat bunda Widya tersenyum.
Wanita berhijab itu berjalan terlebih dahulu memandu Bunga yang mengikuti langkah kakinya. Langkah kaki berjalan terus maju melewati beberapa pedagang dari pedagang makanan, pedagang aksesoris yang terlihat ingin sekali ia beli hanya saja masih mengingat bahwa dirinya tidak ingin berfoya-foya. Sehingga memutuskan untuk tetap teguh pada pendirian.
Akhirnya setelah melewati beberapa pedagang, bunda Widya berhenti di sebuah gerai dasaran penjual berbagai jenis pakaian yang terlihat begitu lengkap. Ada pakaian yang tergantung maupun juga di dalam kotak-kotak kaca yang bisa mereka pegang untuk dipilih sesuai keinginan hati.
"Kalau Bunga mau beli pakaian, di sini bisa jadi tempat langganan, loh! Soalnya ibu juga selalu membeli pakaian dari toko ini, apalagi selain harga yang murah barangnya juga tidak murahan. Coba lihat kaos satu ini!" bunda Widya mengambil sebuah kaos yang memang untuk wanita remaja kekinian dengan lengan terbelah dua tetapi masih terlihat sopan hanya saja warnanya merah merona.
Bunga menggelengkan kepala. Gadis itu tidak ingin pakaian model atau yang trending karena sebab ia hanya membutuhkan beberapa kaos longgar serta celana jeans yang bisa dia kenakan untuk beraktivitas selama seharian. Belum lagi jika berhasil menemukan tempat kerja meski hanya paruh waktu.
Sebenarnya tidak ingin mengecewakan pilihan bunda Widya hanya saja dirinya juga tidak bisa memilih pakaian yang sudah sering dirinya kenakan, "Bunga mau yang biasa saja, bunda. Permisi mbak, saya ingin semua jeans berwarna hitam dan ukuran yang sama, bisa?"
__ADS_1
Bunga memanggil seorang wanita yang duduk tak jauh dari mereka dan dari penampilan jelas wanita itu pemilik dari tempat ia memilih pakaian. Seperti permintaannya si wanita memberikan beberapa jeans dengan warna hitam, bahkan juga menyediakan jenis aneka tipe yang membuat Bunga sedikit kebingungan memilih apa yang harus ia kenakan nantinya.
"Hehehe, maaf, apa semua bisa dipakai dan nyaman untuk aktivitas seharian, ya?" tanya Bunga sedikit canggung yang membuat bunda. Widya dan si penjual tertawa bersama-sama sebab ekspresi si remaja sedikit takut, cemas seolah bakal dimarahi saja.