Karena Cinta

Karena Cinta
Part 129#SIBUK ATAU DISIBUKKAN?


__ADS_3

Satu hoby nya bisa memberi bantuan untuk orang terdekat tentu itu lebih baik. Apalagi jika dapat menyenangkan hati banyak orang. Waktu yang dihabiskan bahkan tidak dianggap percuma karena setiap gerakan raga bisa menyeimbangkan pikiran dan mempertajam indra.



Memasak sendiri di rumah memang mengasyikkan dan memiliki banyak manfaat. Selain membuat pengeluaran lebih hemat dan lebih sehat, ternyata manfaat lainnya, memasak juga baik untuk kondisi mental seseorang. Hal tersebut sebagaimana terlihat dari sejumlah penelitian yang ada.


Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan Michael Kocet, Profesor dan Ketua Departemen Pendidikan konselor di The Chicago School of Professional Psychology, di mana penelitiannya menunjukkan bahwa memasak memang baik untuk jiwa.


“Definisi awal untuk terapi kuliner adalah: Teknik terapi yang menggunakan seni kuliner, memasak, keahlian memasak, dan hubungan pribadi, budaya, dan kekeluargaan individu dengan makanan untuk mengatasi masalah emosional dan psikologis yang dihadapi oleh individu, keluarga, dan kelompok,” ujarnya, dikutip dari Everydayhealth.


Sebuah studi kecil pada jurnal Frontiers in Psychology tahun 2021 juga menemukan bahwa orang yang memasak mendapatkan kebahagiaan dan relaksasi saat melakukannya.


Perlu diketahui sejumlah alasan mengapa memasak bisa bermanfaat untuk kesehatan mental karena memang bisa dijadikan sebagai terapi. Dikutip dari Verrywellmind, sebuah studi yang dilakukan pada 2014 mengilustrasikan hubungan kesehatan mental yang buruk dan pola makan yang tidak sehat.


Ketika seseorang memasak masakan sendiri, maka dirinya bisa mengatur apa saja bahan yang baik yang digunakan. Oleh karena itulah ketika seseorang bisa mengatur pola makan yang sehat, hal ini bisa berpengaruh kepada kesehatan mentalnya. Semua itu disebabkan adanya berbagai aktivitas yang membuat seseorang terhubung dengan banyak orang.


Seperti membeli bahan kepada tukang sayur, hingga berinteraksi untuk mendapatkan resep masakan tertentu. Selain itu aktivitas yang lain semakin meningkatkan interaksi sosial seperti dorongan ingin agar hasil masakan dicoba oleh orang lain ataupun orang tersayang.


Penelitian yang terbit pada Januari 2016 di Journal of Nutrition education Behaviour, para peneliti mensurvei 8.500 remaja di Selandia Baru. Peneliti menemukan bahwa kemampuan memasak, berhubungan positif dengan hubungan keluarga yang lebih baik, kesejahteraan mental yang lebih baik dan tingkat depresi yang lebih rendah.


Studi menunjukkan, memasak dan membagikannya ke orang lain bisa meningkatkan kepercayaan diri seseorang. Bahkan studi menunjukkan kepercayaan diri ini bisa meningkat signifikan setelah memasak. Hal ini terjadi karena munculnya perasaan puas berhasil menciptakan sesuatu yang nyata yang bisa dinikmati orang lain.


Tentu saja tidak terlepas dari aspek lainnya. Dimana rutin adalah hal yang sangat bermanfaat bagi otak sehingga bisa menjadi bentuk psikoterapi. Terapi ritme interpersonal dan sosial merupakan bentuk psikoterapi paling umum yang dipakai pada mereka yang mengalami bipolar.


Oleh karena itu, membangun rutinitas memasak bisa membantu untuk mendapatkan kesehatan mental yang lebih baik. Studi menunjukkan bahwa memasukkan aktivitas kreatif dalam kehidupan sehari-hari bisa secara signifikan meningkatkan suasana hati dan kesejahteraan.


Saat memasak ada banyak kreatifitas yang bisa dibuat, karena itu memasak baik untuk meningkatkan suasana hati. Terlebih lagi setiap perkembangan yang bermula dari hobi bisa dikembangkan sebagai inovasi. Seringkali resep baru tercipta karena rasa penasaran.


Kreativitas tanpa batasan. Hal ini menambah rasa percaya diri dan akan membuat jiwa semakin yakin memiliki kemampuan yang bisa dibanggakan. Akan tetapi bagi putri, istri dan seorang ibu, memasak sudah menjadi hal kebiasaan karena rutinitas harian. Begitu juga dengan Ara dimana wanita itu menikmati tugasnya kali ini.



Entah sudah berapa jam disibukkan oleh pekerjaan dapur. Kedua tangan tidak pernah diam dengan kegesitan yang bisa membuat siapapun takjub seolah-olah peralatan di dapur merupakan teman bermain si wanita itu. Begitu cekatan dan selalu fokus menakar bahan makanan.

__ADS_1



Sementara di sisi lain, Anggun baru menyelesaikan dekorasi kamar sesuai dengan permintaan Ara. Kini kamar utama tampak indah bertabur kelopak bunga mawar mewar dengan beberapa hiasan yang jatuh menjuntai di tepian ujung ranjang. Lilin putih tersebar membentuk pola lingkaran menjadi hiasan tambahan.



Mendengus kesal setelah berjuang dan terus memikirkan bagaimana malam nanti akan berlalu. Apapun yang diinginkan Ara harus ia cegah hanya saja saat ini masih diam dan membiarkan sang sahabat kelelahan. Setidaknya kesempatan bisa dimanfaatkan pada waktu yang tepat.



Merentangkan kedua tangan seraya menguap lebar, "Huh, selesai juga, aku bantu Ara di dapur atau tidur saja, ya?" Anggun berpikir sejenak, ia bingung harus melakukan apalagi agar bisa mempertahankan kepercayaan sahabatnya yang bodoh.



"Ck, ngapain mikir trus, sih? Pura-pura masih sibuk dekor aja, gampang kan," gumam Anggun akhirnya memutuskan tetap di kamar.



Pekerjaannya sudah selesai tapi jika mengingat harus bertempur di dapur, maka lebih baik menjauh. Waktunya duduk dan melupakan semua ketegangan, wanita itu justru merebahkan diri di sofa dan mencoba memejamkan mata agar bisa menjemput alam bawah sadar. Rasa lelah tak seberapa tetapi langsung menghempaskan sisa kesadarannya.




"Sebaiknya aku bergegas cek ulang persiapan syukuran dan panggil Anggun agar makanan ini bisa di antar ke tempat acara tepat waktu. Ya, begitu saja," satu per satu kotak kardus yang berisi makanan diperiksa sekali lagi.



Untuk urusan makanan Ara memang sangat teliti dan berhati-hati. Wanita itu memang berharap suatu hari nanti membuka restoran sendiri dan bisa menikmati waktu bersama keluarga tanpa harus memikirkan masalah keuangan sedikitpun meski perkebunan yang diwariskan sang ayah sudah mampu mencukupi kebutuhan keluarga saat ini.



"Satu, dua, tiga, empat, ... " suara hitungan dimulai dan terdengar sampai ruang tengah dimana itu mengalihkan perhatian seseorang yang baru saja kembali bekerja.

__ADS_1



Langkah kaki awalnya berniat langsung ke kamar tapi suara familiar mengubah arah perjalanan yang mana menuju dapur dan tidak sabar melihat pemandangan di dalam sana. Hingga dengan mata kepalanya sendiri menyambut kesibukan Ara yang menghitung kotak kardus warna biru tua.



Saking sibuknya sampai tidak mendengar kedatangannya, "Ada apa dengan Ara? Aku tidak melewatkan sesuatu kan atau dia mengirim pesan untuk mengatakan hal penting?" tangan buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku celana, lalu ia memeriksa riwayat panggilan dan pesan.



Akan tetapi tidak hal penting bahkan semua pesan hanya dari orang lain dan bukan istrinya. Rasa penasaran yang datang membuat ia tak tahan untuk masuk ke dapur dan mendekati Ara, "Ekhem! Lagi ngitungin apa kamu, sayang?"



"Jajanan Betawi, Mas. Kapan kamu pulang? Kok aku gak dengar, ya," sayur Ara sesaat mengalihkan perhatian dari tumpukan kardus. Wanita itu meraih tangan Akbar yang ia kecup khidmat sebagai tanda bakti seorang istri, "Mas mau kopi atau tes manis? Ara bikin langsung, nih."



"Kopi aja, tapi antar ke kamar. Boleh kan?" balas Akbar dengan kedipan mata merayu Ara seperti biasa.



Namun ketika mendengar suara Akbar menyebutkan kata kamar, Ara teringat jika saat ini kamar utama masih dalam keadaan bukan untuk ditunjukkan pada suaminya. Entah apa yang harus dilakukan agar bisa menjauhkan prianya dari kejutan nanti malam hingga tiba-tiba ia ingat perkataan Anggun sebelum memulai pekerjaan dapur.



"Ara bikinin kopi buat Mas Akbar cuma bisa gak kita minum sore di taman belakang saja? Sudah lama juga tidak ngobrol berdua, gimana, boleh, ya?" pinta Ara sedikit menunjukkan tatapan mata memelas agar suaminya setuju tanpa banyak bertanya.


.


.


.

__ADS_1



Yuk, mampir karya temen othoor ☺


__ADS_2