
Setelah berbicara dengan seorang pria yang datang menghampiri Daniel, terlihat pria itu masih enggan untuk menjawabnya.
"Datanglah beberapa hari lagi, aku akan memberikanmu jawaban." ucap Daniel.
"Baik mas Daniel." jawab si pria.
Setelah pria itu pergi, tatapan mata Daniel menatap Arina.
"Kamu mau ke mana?" tanya Daniel.
"Mau pergi." jawab Arina.
"Mau pergi ke mana?" tanya Daniel kembali.
"Ya terserah kakiku lah mau ke mana." jawab Arina.
"Kalau ditanya itu jawab yang benar, kamu mau ke mana?" tanya Daniel.
"Aku mau ke warung, mau cari makan." jawab Arina sambil berjalan meninggalkan Daniel.
tanpa mengatakan apapun Daniel langsung mengikuti Arina yang berjalan, sedangkan Arina yang melihat hal itu nampak dia hanya terdiam. dia ingin melihat apa yang akan dilakukan Daniel dan apakah pria itu mau makan di warung pinggir jalan.
Di sebuah rumah makan atau warung sederhana Daniel dan Arina masuk, wanita itu harus membuat Daniel merasakan bagaimana rasanya menjadi orang sederhana seperti yang diperintahkan oleh ayah Ma'ruf.
"Apa kau yakin makanan-makanan disini bisa dimakan?" tanya Daniel.
Daniel benar-benar tidak percaya kalau tempat sesederhana itu memiliki makanan yang lezat. apalagi tempat itu terlihat benar-benar membuat Daniel sangat tidak nyaman.
"Kau tidak usah khawatir, tempat ini bersih dan juga makanannya enak." jawab Arina yang kemudian menarik Daniel dan membawa pria itu duduk di dalam warung makan.
"Diam di sini, aku akan memesan makanan. kau jangan sampai bergerak kalau nanti kalau bergerak di sini banyak preman, banyak wanita hidung belang, hati-hati!" ucap Arina yang membuat Daniel langsung terduduk.
"Dia kira aku ini wanita apa, pakek diancam." guman Daniel dalam hati yang kemudian menatap bangunan kecil namun terlihat bersih. sekitar 15 menit kemudian makanan pesanan Arina dan Daniel sudah datang,
"Sudah lama tidak melihat kamu Nak Daniel," seorang wanita yang terlihat begitu kenal dengan Daniel.
Arina menatap wanita tua itu, entah mengapa di desa Ini kebanyakan orang benar-benar mengenal Daniel, mereka begitu sopan kepada Daniel bahkan para wanita yang ada di desa itu terlihat sangat mengagumi Daniel.
"Iya bu sudah lama, habis pekerjaan di kota begitu banyak." jawab Daniel dengan bingung.
Arina menatap Daniel kemudian menatap wanita pemilik warung itu. Arina terlihat memperhatikan percakapan dua orang itu. Arina selama ini tidak pernah mengenal Daniel, tidak pernah tahu siapa Daniel. Daniel ternyata bisa bersikap sopan
"Siapa wanita ini Daniel?" tanya ibu pemilik warung.
__ADS_1
"Dia pembantuku." jawab Daniel asal.
"Pembantu, tapi dia cantik." ucap Ibu pemilik warung.
"Dasar pria gila, dia bilang aku ini pembantu. awas aja ya aku pasti akan memberikan balasan, berani-beraninya dia bilang aku pembantu." gerutu Arina dalam hati.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Daniel.
"Awas ya aku pasti akan membalasmu." jawab Arina.
"Bisa tidak Kau berikan senyum sedikit kepada Ibu pemilik warung ini, biar terlihat kalau kau itu sopan dan memiliki naluri kemanusiaan." sindir Daniel yang membuat Arina melotot.
"Kau kira aku ini turunan hantu, turunan setan tidak mempunyai jiwa kemanusiaan." jawab Arina yang kemudian menatap masakan yang sudah ada di depan meja.
Sorot mata Arina dan Daniel langsung menatap makanan sederhana yang ada di meja.
"Kau gila ya, masa aku harus memakan makanan ini. tidak ada menu lain apa?" tanya Daniel.
"Cobalah kau makan, orang yang kelaparan itu akan mensyukuri semua nikmat Tuhan." jawab Arina yang kemudian mencuci tangannya dan mulai memakan makanan yang ada di meja.
"Kenapa kau tidak memakai sendok, itu sangat jorok!" seru Daniel kembali.
"Ini namanya aku menikmati pemberian Tuhan, Kalau kau mau coba..,coba lah ini sangat nikmat." jawab Arina.
Sesaat kemudian terlihat Arina langsung mengambil sejumput nasi dan melihat Daniel yang terus mengomel tidak karuan. dengan segera wanita itu menyuapi Daniel dengan tangannya.
"Apa yang kau lakukan!" seru Daniel yang mulutnya sudah dipenuhi makanan dari tangan Arina.
"Jangan berani kau membuang makanan itu, kalau kau berani membuangnya nanti aku akan bilang pada Mbok Sri tidak usah membuatkan makanan. Aku mau lihat Apakah kau bisa memasak!" seru Arina yang membuat Daniel mengunyah makanan itu.
Entah mengapa dari hari ke hari terkadang Daniel mulai memahami Bagaimana kehidupan Arina, memang terasa nikmat makanan yang dibuat dengan sepenuh hati.
"Apakah enak?" tanya Arina kepada Daniel.
"Tidak terlalu." jawab Daniel yang terlihat berbohong.
"Apakah kau mau aku suapin lagi?" tanya Arina .
"Tidak," jawab Daniel.
"Kalau kamu tidak mau aku suapi tidak apa-apa, di sini tidak ada sendok jadi kalau kau makan makanlah dengan tangan." jawab Arina.
Daniel tidak pernah sekalipun makan nasi dengan tangan, tentu saja pria itu akan terdiam. karena hal itu Daniel tidak pernah mau melakukannya, dengan terpaksa Daniel menuruti perkataan Arina, pria itu membuka mulutnya sambil menunjuk mulutnya pada Arina.
__ADS_1
"Apakah apakah kau yakin kalau mau aku suapin?" tanya Arina.
"Cepat lakukan, aku tidak mau membuka mulutku terus-menerus." jawab Daniel.
Arina menyuapi Daniel sembari makan untuk dirinya sendiri, wanita itu nampak terus menatap semua pergerakan dari Arina. senyum Arina, wajah Arina ketika berkeringat dan bibir wanita yang benar-benar sangat seksi dan menggairahkan.
DEG...
jantung Daniel tiba-tiba berdebar tidak karuan kembali. Dia mulai membayangkan Arina dengan pemikiran pemikiran yang sangat liar, hal itu membuat wanita itu menepuk pipinya sendiri.
"Apa sih yang aku pikirkan, Kenapa otakku ngeres gini ya...," ucap Daniel yang kemudian meminum air yang ada di sampingnya.
"Uhuk..Uhuk.."
Daniel tersedak karena pemikirannya yang sedikit ngelantur, hal itu membuatnya tanpa sadar langsung tersedak makanan.
BUG..bug..
dengan segera Arina menepuk-nepuk punggung Daniel karena tersedak oleh makanan.
"Kau ini sedang memikirkan apa? bagaimana bisa kau sampai tersedak seperti ini?" tanya Arina yang kemudian mengambilkan es teh yang ada di meja.
"Entahlah, Apa mungkin karena aku kau suapi hingga mulutku ini tidak terima." ucap Daniel yang membuat Arina tersenyum.
"Kalau kau tidak terima Kenapa tidak dari tadi saja kau buang makanan itu." jawab Arina yang membuat Daniel langsung mencibirkan bibirnya.
"Sudah, aku sudah kenyang. nanti perutku bisa melar." ucap Daniel yang membuat Arina menyudahi menyuapi pria yang sekarang menjadi suaminya itu.
"Kamu kan bawa uang, sekarang bayar tagihannya. aku tadi keluar tidak bawa uang.' ucap Arina.
"Kok gitu?" tanya Daniel.
"Kamu mau hutang di sini? apa kamu tidak punya malu, orang kaya kok hutang di warung." cibir Arina yang membuat Daniel mengeluarkan dompetnya.
* Bersambung *
Mohon dukungannya pada novelku yang lainnya 😊😊😊
- Mawar berduri
- Terlempar ke dunia sang kaisar
- karena cinta
__ADS_1