Karena Cinta

Karena Cinta
Part 73#PERTEMANAN, LANCANG!


__ADS_3

Kedatangan Daffa bersama beberapa pemuda tetap tidak membuat Daffi beranjak dari tempat duduknya. Pemuda satu itu malah menunjukkan senyum lebar seraya menggaruk kepala yang tak gatal. Seperti biasa, dia hanya suka bercanda dengan semua orang.



"Bulan, apa adik ku mengganggumu?" langkah kaki berhenti di dekat meja para gadis remaja, tetapi tatapan mata tertuju pada Bunga.



Si gadis mata hazelnut yang sempat menggegerkan pasar malam karena jatuh tak sadarkan diri di saat masih menikmati semangkuk bakso dan menurut informasi terpercaya. Sang gadis yang ia panggil Bulan itu menempati asrama milik bunda Widya. Setiap informasi sudah bisa dianggap valid karena selama dua hari dirinya juga melihat gadis itu keluar masuk ke area asrama.



Daffi mengernyit tak paham, "Ka, jangan main panggil nama orang sembarangan, deh! Emangnya si geulis namanya bulan, ya?"



"Tunggu dulu, apa kalian sudah saling kenal?" sahut Yumi penasaran, apalagi teman barunya hanya terlihat begitu populer di antara para pemuda yang selama ini menjadi geng penyemangat desa.



Bunga tersenyum tipis sekedar menghargai kepedulian Daffa padanya, "makasih sudah perhatian, but aku okay," tatapan mata tenang tanpa ada emosi dari dalam hati.



"Good, dia," Daffa menunjuk ke arah Bunga tanpa ragu bersambut tatapan mata teduh nan mengharapkan balasan sayang. "Bulan, hanya untukku! Jadi, kalian panggil nama aslinya saja!"



Pengakuan narsis Daffa seketika menjadi tawa para gadis yang baru menyadari bahwa pertemuan di kedai haruslah ada perkenalan resmi. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Yumi mengulurkan tangan kanan ke arah Daffi. Gadis bongsor itu memulai hubungan baru dengan tawaran pertemanan.



Tak satupun dari kedua belah pihak keberatan sehingga dengan senang hati saling berjabat tangan seraya menyebutkan nama panggilan masing-masing. Pagi yang indah menghantarkan suasana hangat menyambut dunia baru. Siapa yang tahu hari esok?


Setiap insan yang bernyawa hanya mampu merencanakan dan menjalani detik ini, sedangkan detik berikutnya mengikuti ketetapan takdir Sang Ilahi. Sama seperti kehidupan Bunga, gadis itu bersyukur dipertemukan dengan banyak anak muda selama di asrama. Satu per satu keinginan hati terwujud hingga tak terasa dua minggu telah berlalu.

__ADS_1


Suasana ruang makan tampak begitu khidmat. Apalagi semua orang berkumpul menjadi satu di acara jamuan istimewa. Setelah sekian lama, akhirnya ada waktu untuk berbagi kasih sayang. Kebahagiaan terpancar mengawali malam nan terang di dalam aula hotel yang telah disewa selama empat jam.



"Nak, mau tambah dagingnya, lagi?" tawar seorang wanita yang tak bisa beranjak dari tempat duduk spesialnya. Wanita itu merasa malam ini kesempatan dirinya agar bisa kembali bersatu dengan sang putra.



Hati tak sanggup menjauhkan diri dari belahan jiwanya yang selama, lagi. Sungguh, jika diminta sejuta kali ia memohon pasti akan dilakukan. Hati mana yang tak hancur ketika menyadari kekosongan jiwa semakin menghempaskan kebahagiaan sederhana dalam hidup keluarganya. Ia hanya ingin semua orang bersatu seperti dulu. Sesederhana itu.



Tangan mengangkat piring, ia berniat menerima tawaran sang mama tercinta tapi tiba-tiba ada tangan lain yang menahannya. Tatapan mata teralihkan ke arah sang penahan yang menatapnya begitu tajam tak ingin memberikan kesempatan untuk menyenangkan hati orang tua. Hati berharap, istrinya bisa mengerti tetapi sayang. Semua itu hanyalah harapan semu.



"Istrinya masih hidup dan sehat, aku bisa melayani suamiku!" sindir Hazel tanpa memikirkan kata-kata yang keluar dari mulutnya, bahkan Bryant tertegun tak bisa mendebat pembelaannya.




Pernyataan Hazel hanya ingin menunjukkan bahwa wanita itu memiliki kendali atas Bryant. Akan tetapi, si menantu pertama sudah melewati batas. Bukan karena kebenaran status melainkan tidak memiliki tata krama kepada orang yang lebih tua dan itu benar-benar memuakkan.



Diletakkannya sendok dan garpu kembali ke atas piring, lalu beranjak dari tempat duduk seraya mendorong kursi ke belakang yang menimbulkan suara derit tak bertuan. Wajahnya datar tanpa seulas senyum samar tersungging menghiasi kelopak bibir mawar. Tatapan mata tajam menenggelamkan sang lawan dalam kebisuan sesaat.



"Nyonya Hazel Bryant Putra yang terhormat. Lidahmu terlalu licin, apa harus ku potong dan menjadikannya hidangan penutup? Ingat posisimu, kau itu cuma istri keponakan ku saja, dan bukan orang penting bagi keluargaku! Bry, ajari istrimu sopan santun.



"Ka, jangan dengarkan wanita tidak waras sepertinya. Putra kesayanganmu sudah dewasa dan dia tidak buta, apalagi tuli. Biarkan otaknya bekerja dan bukan cuma ngikutin hati," Al membungkam Hazel tanpa memberikan kesempatan menantu pertama melakukan pembelaan kedua.

__ADS_1


Hati tercabik-cabik mendengar kelancangan Hazel. Ia tahu, kakak iparnya sangat kehilangan Bryant sebagai kesayangan di hati semua orang. Seorang ibu tak bisa melepaskan cinta meski anak-anaknya pergi tak menoleh ke belakang. Hati ibu selalu tertuju pada harapan sederhana.


Tidak ada yang bisa disalahkan atas keadaan keluarganya karena semua terjadi begitu saja. Meski begitu, ia tak pernah sekalipun menambah beban keluarga. Apalagi di saat suasana kian memburuk, sayangnya berkat satu raga bernyawa tapi tak berakal maka dunia keluarga terbelenggu dalam kesedihan.



Lagi pula, siapa yang mau berhadapan dengan wanita gila seperti Hazel? Di depan Bryant bersikap baik bak kelinci nan imut, tapi di belakang siap mencakar mirip kucing garong. Terlebih lagi begitu kemayu seolah wanita malam yang berusaha mencari pelanggan.



"Sorry, Om. Ma, maafin istriku, ya. Kita pamit dulu, assalamualaikum," Bryant bangun dari tempat duduknya. Pria itu benar-benar tidak tahu harus melakukan apa setelah yang dikatakan Hazel.



Sebagai suami, maka ia ikut bertanggung jawab atas tindakan di luar batas sang istri. Lalu, kenapa sebagai anak justru hanya diam membisu? Lagi dan lagi terjebak dalam janji yang sudah ia berikan. Ketidakadilan pada mamanya bisa dihindari, tapi seorang anak hanya menjadi penonton tanpa bisa menegakkan keadilan.



Langkah kaki berjalan cepat menjauh dari aula tempat acara makan malam. Kepergian Bryant tanpa membawa Hazel yang sibuk merapikan penampilan seolah bersiap tampil di panggung sandiwara. Wanita itu menatap wajah setiap anggota keluarga Putra dengan seksama. Apalagi ketika memperhatikan wajah tampan sang pria khayalan.



Hati menjerit ingin berlari memeluk raga kekar si pemilik mata tajam. Tatapan menusuk yang justru semakin menjatuhkannya dalam rasa cinta buta, "Terima kasih untuk jamuannya," ia bangun tetapi dengan sengaja membusungkan dada yang membuat si gadis mata hazelnut menusuk steak di atas piring dengan kuat.


C!h, dasar wanita penggoda. Awas saja rebut kesayanganku dan khianati ka Bry. Gemes, andai nyincang orang gak dosa.~gerutu Bunga tak bisa menahan kekesalan hatinya karena ulah Hazel yang memang mirip wanita murahan.


Tidak habis pikir saja dengan istri kakaknya itu, apalagi ia tahu bahwa sang kakak sangat berusaha menjadi suami baik di segala kondisi. Berusaha menerima istri jadi-jadian yang menyusahkan semua orang, bahkan pamannya saja sampai turun tangan membalikkan ancaman sangar.



"Hazel!" Mama Bella memanggil menantunya hingga membuat Hazel menghentikan langkah kaki yang mulai menjauh dari meja makan, sang menantu berbalik membalas tatapan matanya. "Kamu, memang istri dari putraku, tapi bukan pasangan yang bisa melengkapi kehidupan Bryant."



"Suatu hari nanti, anakku akan sadar dan tidak sudi lagi melihat wajahmu. Apalagi menjadi pendampingmu. Camkan itu! Terima kasih atas bantuanmu, selamat tinggal." Mama Bella melambaikan tangan menyambut kepergian si menantu pertama yang tak tahu adap.

__ADS_1


__ADS_2