Karena Cinta

Karena Cinta
Part 78#HARAPAN KANDAS


__ADS_3

Kedatangan seorang pria dengan tubuh kejar yang entah dari mana benar-benar mengejutkan. Ibu Ipeh bahkan langsung memarahinya, tetapi yang dimarahi malah sibuk memandangi Bunga. Gadis mata hazelnut itu masih terduduk dalam diam seraya menggelengkan kepala bersambut helaan napas panjang.



"Mark, minta maaf sama bu Ipeh, sekarang!" tegas Bunga memberi perintah pada di pria kejar yang berpenampilan petani sederhana.



Lihat saja sepatu boots berlumpur dengan caping yang melorot melingkar di lehernya. Ia sungguh tak menyangka jika keluarga masih mengawasi dari jarak dekat. Terlebih lagi sampai membuat seorang bodyguard multitalenta berubah menjadi petani biasa.



Mark bukanlah pria sembarangan karena pria itu memiliki kekuatan fisik lebih baik dari para penjaga lainnya. Bisa dikatakan sebagai kepala bodyguard yang juga salah satu anak buah sang paman. Meski ada pertanyaan, tetap saja tidak perlu dipertanyakan.



"Apa Non baik-baik saja?" Mark mengabaikan permintaan nona mudanya, ia tak ragu untuk mengutamakan tugas dari perintah yang diterima.



Jika orang mendengar cara Mark berbicara, maka pasti berpikir pria itu tipe lelaki kasar. "Aku baik-baik saja, tapi kamu harus bertanggung jawab benerin pintu yang rusak olehmu. Bu Ipeh, maaf atas sikapnya."



"Astagfirullah, apa dia bodyguard mu? Sepertinya ibu salah minta bantuan, maaf. Melihat kejadian barusan, pastinya harta tidak begitu dipentingkan oleh mu, Nak," tutur pasrah bu Ipeh membuat Bunga merasakan kesedihan mendalam dari dalam hatinya.


Ia pikir, gadis di depannya adalah pekerja kedai bakso yang memiliki kehidupan sebagai anak kuliahan. Jujur saja tidak menyangka bahwa gadis itu selalu diawasi bahkan dijaga oleh seorang bodyguard. Meski bukan seperti cerita sinetron, tetap saja bukan area bisa menawarkan kerjasama.


Bunga tersenyum simpul mendengar pernyataan bu Ipeh. Ia sendiri tak enak hati karena kedatangan Mark justru menjadikan suasana canggung. Apalagi pria minim ekspresi sudah berlagak seperti patung tiga dimensi yang tak mau digoyahkan.


__ADS_1


"Santai saja, Bu. Mark cuma jalanin tugas dari papa, sebaiknya Bunga pamit dulu. InsyaAllah besok kesini lagi, permisi. Mark, ayo!" gadis itu memilih berpamitan. Ia tak mau menambah ketegangan, lagi pula semua informasi harus dikumpulkan terlebih dahulu.



Langkah kaki yang menjauh membuat bu Ipeh lemas. Harapan yang ia pupuk seketika terbang tanpa ada arah tujuan. Sebelum mendapatkan cara untuk mengembalikan Agam pada kehidupan normal, bagaimana bisa tenang? Sayangnya kesempatan hilang di depan mata.



Sementara itu, Bunga dan Mark berjalan beriringan meski memiliki jarak tiga langkah berbeda. Tidak ada obrolan sampai keduanya berhenti di salah satu saung milik warga. Rumah gubuk beratap jerami yang terlihat khas menjadi tempat berteduh sesaat agar bisa saling berdiskusi.



"Apa Non marah?" Mark bertanya pada Bunga tetapi tanpa menatap gadis yang duduk di sebelahnya.



Si mata hazelnut masih memikirkan apa ia bisa membantu seorang ibu mengenai kondisi putranya. Hati merasa harus melakukan sesuatu agar mengubah kehidupan orang lain menjadi lebih baik, tapi tidak dengan memanfaatkan wajahnya. Rencana harus dibuat tanpa menimbulkan masalah baru.


"Mark, anak ibu tadi mengalami gangguan jiwa. Gangguan jiwa merupakan permasalahan internasional bahkan World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa yang termasuk dalam gangguan jiwa antara lain depresi, gangguan bipolar, skizofrenia dan psikosis, demensia, dan gangguan perkembangan.


"Hanya saja, kupikir dalam kasus Agam. Pemuda itu mengalami depresi berat. Apa kamu bisa temukan dokter spesialis untuk anak ibu Ipeh?" Bunga mulai mempertimbangkan situasi dan ilmu pengetahuan yang ia tahu.


Gangguan jiwa sendiri merupakan kondisi kesehatan dimana individu tersebut mengalami perubahan dalam pola pikir, emosi, atau perilaku maupun gabungan dari ketiga perubahan tersebut (American Phsychiatric Association. 2015). Gangguan jiwa berhubungan dengan distres atau masalah dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau masalah keluarga.



Gangguan jiwa juga meliputi berbagai masalah dengan tanda gejala yang berbeda. Secara umum, gangguan jiwa ditandai dengan beberapa kombinasi dari pola pikir abnormal, emosi, perilaku, dan hubungan dengan yang lain (WHO).



Sementara itu, gangguan jiwa menurut Depkes RI adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, sehingga dapat menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial (Departemen Kesehatan RI, 2000).

__ADS_1


Permintaan Bunga langsung diterima tanpa ada kata. Mark dengan cekatan menelepon anak buah di markas yang memiliki tugas mencari informasi orang-orang tertentu. Info pasti di dapat tanpa harus menunggu lama, termasuk daftar catatan dokter spesialis yang menangani pasien gangguan jiwa.


"Silahkan, Nona pilih rekomendasi dokternya sendiri!" Mark menyerahkan benda pipihnya kepada Bunga, dimana sang tuan muda langsung menerima.



Kesibukan gadis itu teralihkan pada layar yang berisi beberapa daftar dokter ternama. Bahkan termasuk biaya selama perawatan yang cukup membuat pihak keluarga geleng-geleng kepala. Mungkin sebab itulah, tak banyak orang memasukkan anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa ke pusat pengobatan intensif.



"Data ini sekedar tulisan. Aku perlu bertemu beberapa dokter secara langsung. Apa bisa lakukan temu janji malam ini? Dan ya, sekalian jemput bu Ipeh serta Agam!" putusnya tanpa ragu dan tidak gegabah juga.


Obrolan keduanya masih berlanjut seolah bukan menjadi majikan dan atasan. Meski terdengar suara perintah, tetap saja tanpa penekanan karena Bunga tak suka kekerasan. Meninggalkan keseriusan dari wajah kedua insan. Di sisi lain terjadi kesalahpahaman.


Pintu rumah yang rusak, membuat Vir dan Daffa saling pandang. Kedua pemuda itu masuk ke dalam rumah bu Ipeh tanpa permisi. Padahal tuan rumah belum mempersilahkan dan sedang sibuk di belakang menyiapkan makanan untuk anak semata wayangnya.



Jemari di depan bibir mengkode agar Daffa tidak membuat suara. Vir yang berjalan di depan melangkah begitu perlahan seraya memperhatikan keadaan sekitar. Terlalu sunyi hingga sayup-sayup terdengar suara nyanyian dari arah belakang.



"Eh, kok ada yang nyanyi? Bukannya si ibu bisu, ya?" Daffa penasaran sekaligus kaget dengan pemandangan di depan mata, dimana seorang wanita terlalu asyik berdendang sampai tidak menyadari kehadirannya dan Vir.



Niat hati ingin terus melanjutkan perjalanan. Sayangnya justru mendadak di kejutkan dengan bunyi benda jatuh dari arah sebuah kamar. Suaranya cukup keras tetapi bersambut suara jeritan orang kesakitan. Suara itu mengalihkan perhatian semua orang termasuk bu Ipeh.



"Agam!" seru bu Ipeh melepaskan gelas dari tangannya.

__ADS_1



Wanita itu berlari tergopoh-gopoh tanpa memperdulikan keberadaan Vir dan Daffa. Langkah kaki cepat sampai tangan bergetar tak sanggup memasukkan kunci ke lubang pintu. Melihat itu, Vir bergegas mengambil alih dan membukakan kunci yang membuat pemilik rumah melirik sekilas tanpa kata.


__ADS_2