Karena Cinta

Karena Cinta
Part 148#PULAU BAYANGAN


__ADS_3

Pertanyaan balik yang diajukan sang pemimpin baru membuat pak Chen sungkan. Pria yang memiliki jabatan sebagai kepala semua divisi itu tampak mencari kata-kata untuk membalas sesuai dengan posisinya hanya saja rasa di hati justru menambah kegugupan. Apa yang terjadi padanya?



Sejenak tidak ada obrolan tetapi nyatanya tetap masih ada bisikan samar yang mempertanyakan keadaan di sekitar. Rupanya bibir para karyawan tak suka tinggal diam. Entah apa yang harus dilakukan meski ia sendiri tidak memperdulikan hal sepele seperti omongan orang-orang.



"Jika Pak Chen memang tidak memiliki kepentingan, aku permisi. Silahkan kalian lanjutkan pekerjaan masing-masing karena di sini tidak ada tontonan!" perintahnya tanpa mengharapkan perbincangan panjang kali lebar.



Terkadang membiarkan hal tidak berarti terlewat begitu saja sangatlah penting. Apalagi manusia lebih sering mementingkan egonya masing-masing sehingga tidak memiliki waktu memikirkan hal-hal di sekitarnya. Sudah merupakan kepastian dimana dunia ini dipenuhi kebaikan tetapi juga diselimuti keburukan.



Langkah kaki berjalan menjauh dari orang-orang menyambut kedatangan dimana ia akan fokus menyelesaikan pekerjaan. Tidak peduli seberapa banyak ketegangan yang ada di dunia ini, nyatanya ia sendiri memerlukan kehidupan tanpa keseriusan meski terkadang tidak bisa memisahkan antara kewajiban dan keinginan hati.



"Tuan, Anda mau diantar kemana, pulang ke mansion atau menikmati pemandangan kita?" Pak supir tanpa sungkan langsung menanyakan tujuan tuannya, ia terbiasa bersikap apa adanya tanpa memikirkan kondisi hati sang tuan.



Lagipula pekerjaannya bukan hanya sebagai supir pribadi dan tentu saja memiliki tempat tertentu di dalam kehidupan si pria muda yang sudah duduk di belakang tetapi langsung memejamkan mata menikmati peristirahatan. Sepertinya begitu lelah karena mengurus pekerjaan yang ditinggalkan tuan besar.



"Zam, carikan tempat yang tenang dan jauh dari peradaban. Minta orang kantor antar semua berkas di ruanganku ke tempat baru ku nanti. Sekarang jangan ganggu aku!" jelas tuan muda tak ingin mengatakan begitu banyak kata.



Selain mematuhi tanpa bertanya, ia tak mengharapkan keluhan apapun. Semua harus dilakukan sesuai dengan pesanan dan membiarkan sang tuan untuk menikmati waktu sendirian. Akhirnya memutuskan untuk fokus ke jalanan.


__ADS_1


Perjalanan tidak begitu menyulitkan sebab melewati area dengan struktur jalanan yang mulus tanpa banyak hambatan. Lalu lalang kendaraan bahkan terbagi menjadi beberapa ruas jalan sehingga waktu yang diperlukan tidaklah menambah penundaan sampai tempat tujuan. Permintaan mendapatkan penginapan di luar peradaban maka harus meninggalkan perkotaan.



Dua jam empat puluh menit berlalu tanpa ada keluhan dari sang tuan yang masih terpejam menikmati kesendirian menjelajahi alam mimpi, hingga tiba-tiba terasa sebuah guncangan dari arah luar menghentikan semua bayangan. Tidak tahu apa yang terjadi tetapi cukup mengejutkan bahkan getaran membuat gelombang perasaan memeluk kegelisahan.



"Tuan, Anda tidak apa-apa?" Pak supir menoleh ke belakang, ia khawatir dengan kondisi tuannya yang pasti terusik oleh gelombang air di bawah mereka.



Perlahan membuka kelopak mata, "Hmm, apa semua aman? Sebenarnya kamu bawa aku kemana?" tatapan mata menyeimbangkan secercah sinar agar bisa memperhatikan area sekitar.



Ia tidak tahu bawahannya akan menunjukkan tempat seperti apa tapi setelah memperhatikan setiap sudut di luar mobil. Maka perkiraannya adalah posisi saat ini berada di atas sebuah kapal. Kenapa harus melakukan penyebrangan? Padahal jika mengatakan tujuan mereka kemana, maka bisa menggunakan helikopter pribadi.



"Tuan, di depan sana ada sebuah pulau. Namanya pulau bayangan, apa tuan ingat dengan orang-orang yang dikalahkan saat pertarungan? Nah, tempat itu sudah menjadi rumah bagi semua orang buangan. Bisa dikatakan, itulah wilayah milik tuan muda."




Penjelasan yang diberikan cukup mencengangkan sebab selama ini, ia pikir, semua orang dibebaskan tanpa ada syarat. Lalu bagaimana orang-orang mau tunduk meski setelah dikalahkan? Tidak bisa memprediksi apakah semua itu benar atau hanya sebuah jebakan tapi mengingat siapa yang mengatakan kejujuran, maka masih bisa dipertimbangkan.



"Benarkah? Kita lihat saja nanti, bagaimana sistem keamanannya?" sebagai tuan muda mungkin memiliki kekuasaan tapi untuk seorang pemuda, ia tak lebih mengandalkan insting berburunya.



Hukum alam selalu ada begitu juga dengan hukum rimba. Siapa, dimana, kapan, dan bagaimana kehidupan berjalan akan selaras dengan nasib masing-masing. Orang-orang bisa mengenali kekuatan lawan dan juga kawan. Belum lagi harus mengerti keberuntungan tidak selalu menyertai setiap kesempatan yang ada.

__ADS_1



Pulau bayangan merupakan sebuah pulau yang tidak berpenghuni awalnya tapi setelah berusaha mendapatkan hak untuk menempati. Pulau itu secara perlahan di ubah menjadi rumah sekelompok orang-orang buangan dan tentu saja memiliki tingkat keamanan yang bisa menjamin keselamatan semua orang. Hanya saja, kehidupan di pulau lebih mengandalkan sumber daya alam sekitar.



Hilzam atau yang lebih sering dipanggil Zam menjelaskan lebih detail tentang pulau bayangan, pembagian wilayah dan orang-orang di dalam pulau tempat tujuan sang tuan. Pria itu begitu semangat sampai melupakan keberadaan mereka berdua yang masih di dalam mobil dengan menyebrangi danau.



Meninggalkan guncangan air yang terus menari menghibur alam, di antara semilir angin menembus keheningan menyita perhatian seseorang. Entah sudah berapa lama terdiam menatap bingkai foto pernikahan yang masih tampak begitu baru. Apa guncangan dari badai rumah tangga tidak bisa dihentikan?



"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Pria bodoh itu semakin sulit diatur dan ini benar-benar mengganggu mood ku. Ck, s!alan!" tangan mengepal, lalu diayunkan hingga menimbulkan kebisingan yang mengalihkan perhatian banyak orang di sekitar.



Tidak peduli apa yang terjadi padanya, tapi tatapan orang-orang tampak sibuk mencocokkan dengan wajah di balik layar televisi. Mirip, bahkan sepertinya memang orang yang sama. Apakah seorang model terkenal tidak memiliki teman untuk sekedar dijadikan teman makan siang?



"Itu kan, Hazel. Si model yang baru aja dapat tanda tangan kontrak dengan brand perusahaan terkenal. Iya, gak, sih?" celetuk seorang pria muda yang memiliki profesi sebagai wartawan lokal.



Wajah memang sangat familiar bahkan iklan di layar televisi selalu hilir mudik menampilkan si model. Dari segi kecantikan memang lah patut membuat para wanita cemburu. Begitulah konsumsi publik ketika memandang seorang model terkenal dengan karir cemerlang. Orang pasti mengatakan, sempurna.



Tangan dengan cekatan menyalakan ponsel ke mode kamera belakang dengan perekam video yang langsung diaktifkan, "Sttt! Kita buat vlog aja, siapa tahu jadi trending."



"Hadeh, kalau mau trending mending siaran langsung aja. Ngapain harus sembunyi, gimana kalau kita ke sana samperin modelnya trus wawancara eksklusif? Oke, gak tuh?"

__ADS_1



Percakapan para pejuang recehan tampak begitu serius hingga fokus teralihkan dari sasaran. Dimana Hazel yang mulai menyadari adanya ketidaknyamanan segera meninggalkan tempat mencari ketenangan. Wanita itu bergegas menjauhkan diri dari area publik yang bisa menyita lebih banyak kekacauan atas emosi hatinya.


__ADS_2