
Tidak peduli seberapa besar rasa cinta di hati, ia bisa memahami penderitaan dari sang saudara. Jika memang Vir hanya menganggap dirinya sebagai adik maka biarlah pemuda itu memperlakukan hubungan seperti mestinya tapi ketetapan hati selalu sama dan tak tergoyahkan. Tujuan berubah haluan cukup menyiksa diri.
Dilepaskannya raga yang selalu siap menjadi tempat bersandar di setiap kerapuhan hati melanda menyergap kepercayaan diri, "Aku mau istirahat dulu, jadi koko bisa lanjut istirahat juga. Permisi, koko."
"Hmm, jangan lupa datang tepat waktu untuk makan malam." Vir membiarkan Gauri melangkahkan kaki menjauh darinya, tatapan mata masih tertuju menatap kepergian sang saudara.
*Maafin aku, Gauri. Perasaan cintamu tidak layak untuk ku, janji lama harus ditunaikan dan aku yakin, dia bisa membahagiakanmu lebih dari kebersamaan kita. Sebelum semua terlambat sebaiknya aku bicara dengan paman dulu.~batin Vir yang sebenarnya sangat menyadari niat hati Gauri*.
Pemuda itu hanya berusaha senormal mungkin agar tidak ada keraguan. Bahkan rasa cinta untuk Bunga di hati tidaklah sebesar samudra, ia tahu benar hanya mengagumimu si gadis mata hazelnut. Akan tetapi rasa itu cukup menjadi alasan baginya menyudahi perjodohan dengan sang sahabat rasa adik.
Selain kepentingan satu sama lain maka tidak ada hal lebih besar atau penting. Tangan mengepal tetapi kaki melangkahkan kaki meninggalkan kolam renang. Suasana rumah seperti biasa tidak sepi atau ramai selain kesibukan para pelayan menyelesaikan pekerjaan masing-masing.
"Bi, paman di mana?" tanpa basa-basi bertanya pada seorang pelayan yang sedang disibukkan mengelap guci di dekat ruang makan.
Pelayan itu menundukkan pandangan begitu menyadari siapa yang datang menyapanya, "Tuan besar ada di ruang kerja, tuan muda."
"Ouh, ok. Makasih, Bi, silahkan dilanjut pekerjaannya!" sahut Vir kembali melanjutkan perjalanannya.
Langkah demi langkah melewati lantai putih nan mengkilap. Keluarga yang selama ini sering ia tinggal masih tenggelam di tempat sama. Apa waktu berhenti atau memang orang-orang di dalam rumah tersebut yang tidak mau berubah. Entahlah karena apapun itu bukanlah urusannya juga.
__ADS_1
Pelan tetapi pasti mengetuk pintu kayu jati yang ada di depannya, "Paman, boleh Vir masuk?"
"Masuk saja, Vir!" sahut suara dari dalam tetapi bukan ciri khas sang paman.
Suara lain yang cukup familiar di telinga membuat Vir langsung memutar knop pintu. Pemuda itu bergegas masuk ke dalam ruang kerja keluarga, "Kamu, disini?" ia tak menyangka bahwa gerak dari seorang pemuda yang ada di depannya begitu cepat.
"Apa tuan muda keberatan dengan kedatangan sahabat lama atau mau mengingkari janji? Aku harap tidak," tatapan mata tajam dilayangkan menyapu kejujuran yang masih dirinya ragukan.
Ia pikir Vir langsung memberitahukan kedatangan Gauri yang sudah ada di Indonesia padanya, tapi sungguh tak menyangka sang tuan muda masih diam tanpa kata-kata. Marah, kesal, itulah yang kini memenuhi hatinya. Ingin sekali meninju wajah sang sahabat lama yang berani menyembunyikan kepulangan sang kekasih hati.
Langkah tetap berjalan maju hingga sampai di dekat kursi lain yang ia tarik, kemudian tanpa permisi ikut duduk dalam pertemuan tak direncanakan itu. "Tuduhan yang kau layangkan bisa jadi keputusanku berubah. Janji adalah hutang, tapi di tengah penghinaan aku bisa memutuskan harapan. Bukankah paman pasti sudah menjelaskan segala sesuatunya?"
"Buktikan jika cintamu memang hanya untuk Gauri," lirikan mata menatap pemuda yang terlihat murka menahan amarah hati. Kedua tangan mengepal tetapi tidak bisa melakukan apapun di hadapan sang paman, "Tenanglah! Aku sudah mengatakan padanya tidak bisa menjalin hubungan lebih dari kakak adik. Sekarang, tugasmu membuat Gauri jatuh cinta."
"Apa kamu yakin, Gauri menerima keputusanmu itu?" balik tanya si pemuda memastikan langkah maju bukanlah sia-sia belaka. Meski sejauh apapun dirinya tidak akan pernah menyerah.
Sejujurnya hati menyadari ketika Gauri pasti masih memiliki sedikit harapan atas hubungan mereka berdua hanya saja tidak mungkin mengatakan pada si pemuda di depannya. Apapun yang sudah terjadi pasti mendapatkan perhitungan masing-masing tapi apakah semua akan baik-baik saja?
Menggelengkan kepala pelan seraya mengembuskan napas panjang, "Semua tergantung usahamu, aku hanya bisa memenuhi janji jika Gauri mencintaimu. Perjodohan ini untuk keluarga dan paman sendiri pasti setuju denganku. Bukan begitu paman?"
__ADS_1
"Apa kalian berdua masih waras. Gauri bukan barang yang bisa dilempar sesuka hati. Sebenarnya perjanjian macam apa yang sudah kalian lakukan?" tukas paman kesal dengan tatapan mata menyelidik menatap bergantian kearah dua pemuda yang duduk di depannya.
Tidak habis pikir saja baru merasakan ketenangan selama beberapa jam, lalu tiba-tiba dikejutkan kedatangan sang putra yang datang meminta pertukaran tempat dan ingin menggantikan posisi Vir. Jika mengenai pekerjaan di perusahaan sudah pasti langsung disetujui, hanya saja yang diminta justru mengenai perjodohan.
"Felix, Vir! Kenapa kalian berdua malah diam. Aku mau penjelasan dan bukan kebisuan kalian," sambung tuan Adrian semakin geram akan kebungkaman kedua pemuda yang ada di ruangan kerjanya.
Bukannya menjawab pertanyaan sang ayah, Felix justru tersenyum simpul menyiratkan sesuatu yang teramat dalam. Bagi pemuda itu, tidaklah penting harus memberikan penjabaran karena apa yang terjadi antara ia dan Vir hanya masalah sesama saudara. Akan tetapi mengingat status sebagai kepala keluarga, maka pikiran juga harus menerima bahwa saat ini dia sendiri di titik kritis posisi.
"Kalem, Pa. Felix bakalan cerita asal papa juga janji bakal batalin perjodohan Vir dan Gauri. Sebelum telingaku dengar janji dari papa, mohon maaf. Anak ini malas terus berdebat tanpa memiliki kepastian. Sudahlah, tidur lebih penting."
Raga beranjak dari tempat duduknya, pemuda itu benar-benar mengabaikan pertanyaan dari seorang ayah yang selama ini selalu menjaga serta melindunginya. Apa yang tersimpan di dalam hati, kenapa harus menceritakan semua itu secara cuma-cuma? Tentu harus dihargai sesuai dengan nilainya.
Selain kepercayaan diri, pemuda itu juga yakin bahwa Vir pasti ikut bungkam selama tidak ada persetujuan darinya. Sungguh janji kecil tetapi begitu berarti dan akan selalu menjadi ketenangan diri meski ia juga menyadari papanya siap melanjutkan perjodohan tanpa memikirkan perasaan cinta di hati sang putra sendiri.
"Paman, antara aku dan Felix sudah ada perjanjian darah. Sebagai saudara maka kami tidak bisa saling mengingkari. Vir sangat berharap paman mau mempertimbangkan perasaan Felix untuk Gauri dan membicarakan pertukaran posisi pada kedua orang tua adikku itu, cuma ini yang bisa aku katakan." ucap Vir sesaat sebelum ikut meninggalkan ruang kerja keluarga.
Tidak anak, tidak keponakan. Kedua pemuda yang memiliki darah sama dari satu keluarga itu sama-sama keras kepala. Jika sampai perjodohan dilanjutkan maka kemungkinan besar akan terjadi pertumpahan darah, tapi disisi lain sebagai seorang paman, ia juga bisa melihat gadis calon menantu keluarganya itu hanya mencintai satu pemuda yaitu Mahavir.
Apakah Felix bisa meraih hati Gauri? Jika selama ini yang menjadi tameng saja ada Vir dan putranya sama sekali tidak memiliki kontak hubungan erat dengan si gadis calon menantu keluarganya. Bimbang untuk memutuskan hari esok, sedangkan di tempat lain kesibukan telah berakhir tetapi berganti persiapan mandiri.
__ADS_1
"Alhamdulillah semua tepat waktu, jadi sekarang bisa menyiapkan keperluan suamiku. Semoga saja acara malam ini berjalan lancar, aamiin," gumamnya seraya menutup pintu kamar tapi tiba-tiba ada tangan yang melingkar memeluknya erat dari arah belakang.