Karena Cinta

Karena Cinta
Part 151#NAIF


__ADS_3

Sebenarnya hati tidak baik-baik saja. Siapapun pasti akan terluka melihat adegan mesra pasangannya bersama wanita lain apalagi yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri. Sakit seperti baru saja tertikam belati tajam tetapi kesadaran berusaha menekan perasaan yang tidak ingin dirinya tunjukkan.



Naif. Begitulah dirinya yang dengan sengaja menempatkan diri seperti wanita bodoh. Bukannya mempertanyakan kelakuan suami bersama sang sahabat, ia justru menunjukkan sikap lembut ditemani seulas senyuman. Siapapun pasti akan menganggap karena cinta akhirnya dibutakan.



Sementara yang menyebabkan rasa sakit tersenyum puas di dalam hati setelah berhasil melukai wanita saingannya, "Ara, bener yang di bilang Mas Akbar. Tadi aku kelilipan makanya minta bantuan biar bisa lihat lagi, maaf ya, malah jadi buat salah paham."



"Gak kok, aku tau, kalian berdua sudah menjadi saudara juga. Sebenarnya aku mau ajak mas Akbar buat lihat perkebunan. Apa kamu juga mau ikut?" tanpa ingin meneruskan perdebatan yang membahas topik sensitif, Ara lebih mengendalikan diri dan mengalihkan obrolan ke tujuan awal.



Jika boleh jujur, hatinya terasa begitu panas ketika tak sengaja melihat adegan mesra di depan mata. Niat hati hanya ingin memberi kejutan pada suaminya dengan pulang dari pasar lebih awal tapi justru menemukan pagutan mesra yang disajikan tanpa memikirkan dosa. Apa pengkhianatan memang bukanlah hanya khilaf semata?



"Gak deh, aku mau tidur aja. Nanti malam harus kembali kerja, kenapa kalian gak jalan bareng? Sudah lama juga tidak punya waktu bersama kan? Mas Akbar, sebagai suami harus pintar memanjakan istri. Jangan kecewain sahabatku, loh." ucap Anggun memutar balikkan keadaan tanpa perasaan meski ia sadar akan perubahan ekspresi Ara.

__ADS_1



Lagipula dirinya memang sengaja merampas bibir Akbar tepat bersamaan dengan kedatangan Ara. Apapun yang dilakukan sudah sesuai perhitungan hanya saja hati geram karena madunya masih enggan melakukan pemberontakan. Padahal ia berharap bisa menciptakan situasi rumit agar memudahkan rencana yang sudah ditetapkan.



Bahkan Akbar sendiri masih belum menyadari akan tindakannya yang sengaja menghasut Ara dengan kemesraan. Pria itu hanya menaruh rasa penasaran tanpa memperdulikan keadaan rumah tangga yang bisa dikatakan sebagai batu loncatan. Sehingga memanipulasi keadaan sangatlah mudah mengingat karakter dari kedua insan yang menjadi pion permainan.



Akbar mengulurkan tangan kanan seraya menatap penuh kasih sayang memandang wanita yang tersenyum tulus padanya, "Ayo, aku ajak kamu jalan-jalan!" sikap manis yang ia tunjukkan tanpa kepalsuan meski selalu memiliki niat yang tidak bisa disingkirkan dari benak pikiran.




Tidak ada niat untuk mengungkapkan kegelisahan hati tetapi juga berusaha mengakhiri rasa sayang yang masih memenuhi jiwa. Penolakan memang telah dilakukan meski kenyataannya ia terasingkan oleh kebenaran yang enggan diterima oleh kesadaran. Cinta memang menyakitkan.



Suara langkah kaki menjauhkan diri dari ruang keluarga meninggalkan dua insan yang saling lempar pandang. Tidak ada percakapan hingga memastikan si pemilik langkah benar-benar sampai tujuan dan mereka terbebas dari pengawasan. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya terdengar suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali.

__ADS_1



"Anggun, aku rasa, setelah hari ini, kamu pindah ke kost dulu. Firasat ku tidak enak setiap kali Ara melihat kedekatan kita. Sementara waktu lebih baik jaga jarak," ujar Akbar setelah memikirkan suasana rumahnya, pria itu masih mengingat perubahan sikap dari sang istri kedua.



Jika biasanya Ara sukarela mendekat dan memberikan perhatian, akhir-akhir ini justru selalu menghindar bahkan setiap malam pasti tidur lebih awal tanpa memberikan kesempatan melakukan obrolan ringan seperti sebelumnya. Hati ingin sekali bertanya tapi mengingat keberadaan Anggun di rumah sama, hal itu justru semakin menambah jarak antara ia dan Ara.



Ditariknya kerah kemeja Akbar hingga membuat si pria tertegun membalas tatapan matanya, "Jangan macam-macam denganku, Mas. Tujuan kita hampir selesai dan tugas mu harus segera diakhiri. Ingat, dia cuma istri keduamu dan aku, istri pertamamu."



"Kamu!" dihempaskannya kedua tangan Anggun tanpa perasaan. Selama ini selalu mengalah tapi sampai kapan harga dirinya dikendalikan? Sebagai seorang pria sekaligus suami, maka ia harus memiliki sikap.



Tatapan yang saling beradu memancarkan ketidaksetujuan atas saran yang diajukan. Kedua insan itu hanya peduli dengan ego masing-masing bahkan menyingkirkan sisa rasa hormat yang seharusnya menjadi batasan terakhir. Siapa yang terjebak? Mereka hanyalah boneka permainan roda kehidupan.


__ADS_1


"Aku suamimu, seorang istri harus menurut. Jadi sudah kuputuskan, mulai besok kamu pindah ke kost!" tegas Akbar dengan jemari menunjuk wajah Anggun.


__ADS_2