
Sang kekasih benar-benar tidak membuatnya bisa bergerak sedikitpun, bahkan bukan hanya bibir yang terus membuat ia terbungkam tetapi tangan kekar merajalela menyusuri setiap jengkal tubuhnya. Amarah yang meluap menguasai hati perlahan mulai berubah menjadi keinginan untuk mendapatkan yang lebih.
Sentuhan prianya benar-benar seperti sengatan listrik yang membuat ia kehilangan akal, "Oh, please stop!" ucapnya lirih berusaha untuk menghentikan tangan yang tak mau berhenti memainkan squash kenyal yang masih beradaptasi dengan kekuatan genggaman tangan sang kekasih.
Namun bukannya berhenti, sang kekasih justru semakin gencar melakukan aksi yang membuat tubuhnya menggeliat bak cacing kepanasan dan mulai kehilangan kesadaran diri hingga tubuh terbang melayang berganti tempat kemesraan tanpa menghentikan pagutan bibir. Keduanya saling menguasai diri dan enggan melepaskan kenikmatan.
"Bukankah kamu ingin yang lebih? Jadi nikmatilah penyiksaan dariku!" tantang pria itu yang bersambut tatapan mata genit menatap ke dalam matanya, "Kita lihat apakah aku yang menjadi pemenang menguasai dirimu atau justru suamimu itu."
"Buktikan saja dengan tindakanmu! Aku tidak sabar untuk menikmati sentuhanmu, sayang," goda Hazel menarik tengkuk leher kekasihnya dan membuat pria di atasnya mengerti harus berbuat apa.
Direngkuhnya tubuh wanita itu semakin dekat dengan dekapan seraya mengusap punggung yang begitu mulus. Perlahan tapi pasti tubuh keduanya saling merapat bergesekan mengantarkan kehangatan dengan gelenyar aneh bersambut keinginan yang tidak bisa dihentikan.
Tanpa kata ataupun suara, pria itu mulai membenamkan diri menikmati aroma wangi dari tubuh sang kekasih yang benar-benar menghantarkan keinginan hati untuk menyelimuti raga Hazel dengan kehangatan belaian manja. Tangan mulai mengikuti arah perjalanan yang tak bisa dihentikannya.
Permainan baru saja dimulai di mana keduanya memberikan apresiasi yang sama-sama saling mengharapkan. Sentuhan demi sentuhan semakin menambah kehangatan di atas ranjang bercampur peluh kenikmatan awal. Pria itu menguasai raga wanitanya yang terlihat pasrah menikmati setiap sentuhan.
Hati merasa senang ketika mendapatkan tempat untuk melampiaskan hasrat tanpa harus memikirkan masa depan atau sekedar ikatan hubungan. Apalagi jika dia bisa memberikan treatment yang benar-benar membuat wanitanya melayang maka pundi-pundi uang akan mengalir memenuhi isi dompetnya.
Pekerjaan yang mudah karena ia bisa saja memberikan semua treatment tanpa terkecuali agar sang kekasih hati memahami jika dirinya lebih hebat dari pria yang berstatus sebagai suami. Bahkan ia sengaja memberikan yang terbaik agar kekasihnya itu tak pernah berpaling darinya meski itu untuk kembali pada seorang suami.
Suara lenguhan manja lolos dari bibir Hazel membuat prianya tersenyum dan terus melanjutkan permainan bibir di gua yang polos tanpa ada dedaunan berguguran. Ia sangat menikmati sebab raga yang dirinya kuasai selalu terawat dengan berbagai produk perawatan mahal. Sehingga tidak ada kata bosan untuk menghadiahi wanitanya dengan ilusi cinta olahraga ranjang.
Pergulatan masih terus berlanjut tapi tiba-tiba Hazel mengubah permainan. Wanita itu memilih untuk berada di atas sang pria dan dengan senang hati memberikan kecupan manja yang membenamkan wajah di atas dada bidang, bahkan tangannya sibuk berkelana menguasai pusaka yang tegak berdiri menantang di bawah sana.
__ADS_1
Suara lenguhan manja yang membuat pria itu kewalahan benar-benar membuatnya puas, "Ouh, Sayang, please more ... " pinta sang pria meronta mengharapkan lebih dari yang ia nikmati.
Hazel semakin bersemangat dan tidak menghentikan pergerakannya. Wanita itu terus memainkan pusaka milik sang kekasih sesuka hati sebagai hukuman atas kelancangan pria itu. Dirinya sadar tengah diperdaya oleh sang pacar, tetapi ia juga bisa membuat keadaan berbanding terbalik hingga sang kekasih akan lebih membutuhkan dirinya dibandingkan ia sendiri.
Permainan yang terus terbalik membuat keduanya semakin gila berusaha untuk memberikan kepuasan satu sama lain hingga tanpa sadar mulai menyatukan keinginan dan harapan dalam satu dekapan yang berirama. Penyatuan membuat keduanya melambung tinggi menikmati kenikmatan surga yang tak bisa dihentikan.
Suara derit ranjang kian terdengar bergema hingga keluar ruangan dan menyatukan melodi dalam kesaksian cinta tanpa suara yang memang sama-sama enggan menyudahi permainan. Suara erangan terdengar lebih keras dari sebelumnya bersambut pelukan hangat yang enggan untuk dilepaskan.
Yang pertama adalah pria yang menguasai, tapi untuk yang kedua justru Hazel sendiri. Kali ini, wanita itu justru membayangkan wajah pria lain yang membuatnya ingin sekali menikmati malam bersama sang bayangan. Entah kenapa dirinya tiba-tiba mengingat wajah itu yang justru menambah adrenalin dan membuat dia benar-benar ingin bisa menikmati kebersamaan bersama orang yang menguasai pikiran.
Ouh, paman Al andai semua ini terjadi bersamamu. Sudah pasti aku akan sangat puas melayani dirimu di atas ranjang.~batin wanita itu dengan gila membayangkan Al yang ada bersamanya dan memuaskan hasrat yang selama ini dipendamnya.
Selama ini dia memang menjadi istri Bryant. Hanya saja sejak melihat seorang paman yang memiliki tubuh lebih kekar dibanding suaminya sendiri. Otak traveling dan ia ingin sekali melihat pahatan tubuh dari pria yang terkenal acuh. Salahkah bila mengharapkan bisa tidur bersama Al meski hanya sekali saja?
Ia memang gila tetapi itulah keinginan hati dari lubuk terdalamnya. Wajar bukan? Sebab yang bisa menghabiskan malam bersama Al tentu sangatlah beruntung. Siapapun tahu, jika sang paman bukanlah hanya seorang pengacara di perusahaan keluarga. Pria itu memiliki sesuatu yang tidak bisa dianggap sebagai pria biasa saja.
Namun sayangnya, Al tidak akan sudi menatap ia sebagai seorang wanita. Apalagi sampai mengajak tidur bersama karena menurut sejarah, Al sangat menjaga diri dan anti dengan yang namanya wanita. Sekarang dengan memiliki kekasih bayaran, maka fantasinya tercapai tanpa menggila.
Tanpa disadari oleh sang kekasih bayaran ia menguasai pria itu seolah telah menguasai sang paman yang kini terus menguasai pikirannya. Sentuhan tangan dan bibirnya kali ini lebih frontal. Bahkan ia tak ingin berbalik dikuasai sehingga membuat pria yang ada di bawah kungkungannya merasa benar-benar kewalahan oleh akibat aksinya.
__ADS_1
Pria itu tak berdaya dan pada akhirnya membiarkan sang wanita menguasai seluruh permainan, "Sayang, apa yang kamu lakukan ... aarrgghh ini benar-benar gila," pria itu meronta mencoba untuk mengutarakan kenikmatan yang ia dapatkan.
Hazel sungguh membuat jiwa lelakinya terdesak tak bisa melawan dan kenikmatan yang didapatkan benar-benar diluar batas, membuat wanita itu hanya tersenyum dan kembali menikmati pusaka yang kini ada di dalam mulutnya. Tarikan tangan yang memintanya agar semakin mempercepat ritme permainan tentu dia kabulkan dengan memberikan sesuai keinginan.
Tangan pun enggan melepaskan kepemilikan hingga ia benar-benar menguasai pria itu sebagai mainannya sendiri. Hingga permainan terus berlanjut membuat keduanya semakin menggila dan tanpa ada keinginan untuk berhenti. Sementara disisi lain ada hati yang terus mengkhawatirkan keadaan Hazel. Ya, siapa lagi jika bukan suaminya, Bryant.
Pria itu baru saja pulang ke rumah setelah mengantarkan Bunga. Bryant yang terduduk diam di kamarnya sendiri dengan tatapan mata menatap keluar jendela. Hati benar-benar merasa aneh seolah cemas akan sesuatu, tapi tidak tahu apa alasannya. Bahkan setelah berulang kali menghubungi sang istri tidak ada jawaban ataupun kepastian.
Bagaimana dirinya bisa tenang ketika tidak mendapatkan kabar sejak kepergian sang istri, "Apa sebaiknya aku susul istriku saja, ya?" gumamnya bertanya pada diri sendiri.
Setelah berpikir sejenak berusaha untuk mengambil tindakan tiba-tiba sebuah ide melintas, tetapi jika ia memang ingin menyusul tentu saja harus memikirkan pekerjaannya ulang. Kecemasan Bryant wajar karena selama beberapa waktu tidak ada kepastian dari sang istri. Meski begitu, ia juga menyadari bahwa setiap tindakannya memang sudah terjadwal oleh peraturan perusahaan.
Meskipun ia sebagai seorang pemimpin tetap saja memiliki tanggung jawab yang tidak main-main dan selalu mencontohkan hal baik ada semua karyawannya. Selain itu ia juga mengingat sang paman yang tidak berada di Jakarta. Jadi tidak mungkin dirinya meninggalkan pekerjaan begitu saja.
Bukankah wajar meragukan sesuatu? Apalagi ia memiliki alasan yang tepat untuk meragukan sikap dan tindakan sang istri tercinta. Rasa lelah di tubuh tak sebanding dengan rasa lelah pikirannya. Padahal ia hanya ingin mendapatkan kabar dan satu pesan saja itu sudah cukup.
Bukannya merasa lebih tenang ketika sampai di rumah, perasaannya justru semakin khawatir hingga pria itu kembali meninggalkan kamar. Langkah kaki berjalan menyusuri lantai, lalu menapaki anak tangga satu per satu hingga sampai di anak tangga terakhir. Kedatangannya disambut hangat oleh seorang pelayan yang datang menghampirinya.
" Ada apa, Bi?" tanyanya mencoba memulai perbincangan karena dia tahu para pelayan seringkali suka terhadapnya.
__ADS_1
"Ini tuan!" Bibi menyodorkan undangan mewah berwarna silver berlapis emas kepada Bryant sang majikan yang diterima dengan santai oleh tuan mudanya, "Tadi pagi kurir mengantarkan undangan, katanya untuk nyonya dari acara fashion show reuni. Cuma berhubung nyonya tidak ada jadi Bibi berikan pada tuan sebelum lupa."