
Hati kian merasa tak nyaman meski kehidupannya dalam keadaan baik bahkan tidak kekurangan suatu apapun. Akan tetapi apa yang datang memang tak lagi terhindar hanya saja semua kini terasa hambar. Ia tak mampu menyeimbangkan diri di tengah keegoisan diri atas keinginan terakhir hati.
Egois yang memeluk keras kepala membuat ia yakin akan secercah harapan meski pertentangan selalu menjadi penghalang terbesar. Entah dia sendiri akan menang atau justru harus menyambut kekalahan telak. Satu hal yang dirinya tunggu adalah keputusan final dari sang pujaan dimana waktu perenungan sudah terlewat sesuai permintaan.
"Ocy, buka pintunya!" seru suara panggilan dari luar yang terdengar mengkhawatirkan keadaan si wanita di dalam kamar.
Namun sayang, Ocy masih enggan menggubris permintaan Samuel. Wanita itu lebih menyukai duduk di dalam kamar tanpa teman. Setelah perdebatan terakhir, ia benar-benar melupakan perasaan tenang yang biasanya tak mudah tergantikan oleh keras kepala. Bagaimana menuntut hak ketika seringkali melupakan kewajiban.
"Katakan dulu, apa keputusan mu dan Nara! Apa kalian setuju menikah?" Ocy tak lagi bersikap lunak menyikapi situasi di dalam hidupnya, bagi dia masa depan harus direncanakan secara matang.
Seolah tak ada tempat untuk kesalahan sehingga membuat seorang istri melupakan posisi kepala keluarga tetap di pundak suaminya, "Mas, kenapa kamu masih kekeh menolak keinginan terakhirku? Apa di hatimu tidak lagi mencintaiku?"
Hati tak berniat meragukan perasaan yang dimiliki suaminya tetapi ia hanya ingin menempatkan Samuel pada posisi terbalik. Terkadang hati yang tersudut kan akan semakin berusaha menyingkirkan perbedaan meski untuk itu bisa berakhir ketidakpastian masa depan. Keyakinan hati hanya mencoba bertahan pada kebenaran yang ia yakini seperti tercantum di dalam sebuah hadist.
Artinya: Dari Muhammad yaitu Hasan bin Ali bin Abu Thalib cucu kesayangan rasulullah saw, beliau berkata: Aku telah hafal (suatu hadits) dari Rasulullah saw: Tinggalkanlah sesuatu yang meragukan kamu dan (beralihlah) kepada sesuatu yang tidak meragukan kamu. (HR. Tirmizi dan Nasa’i).
Hadits ini merupakan kaidah yang sangat penting dan dasar dari sikap wara’ yang merupakan poros dari ketakwaan, juga penyelamat dari keraguan yang menghalangi cahaya keyakinan. Jadi pada kesimpulannya adalah meninggalkan hal yang syubhat dalam masalah apapun dapat mengarahkan seorang muslim kepada sikap wara’ yang sangat potensial untuk menangkal bisikan syaitan.
Hal tersebut juga mendatangkan manfaat yang besar baik di dunia maupun di akhirat. Jika berbenturan antara yang meragukan dengan yakin, maka pilih yang yakin. Sebab orang yang meninggalkan syubhat adalah orang yang telah istiqamah dalam melaksanakan yang halal dan meninggalkan semua yang haram.
__ADS_1
Sesuatu yang halal, kebenaran, dan kejujuran akan mendapatkan kedamaian dan keridhaan. Sedangkan sesuatu yang haram, kebatilan dan dusta akan melahirkan rasa gundah dan kebencian. Seperti keputusan final atas keinginan hati yang dengan kerelaan membiarkan wanita lain menjadi istri kedua suaminya.
Bagi Ocy, permintaannya sangat wajar tetapi tidak untuk Samuel dan juga Nara. Kenyataannya dua insan yang hanya memiliki hubungan sebagai sahabat sekaligus rekan kerja itu lebih menghargai ikatan persaudaraan sehingga tidak terpikirkan merengkuh nama lain untuk status hubungan mereka berdua. Sungguh disayangkan terjebak keadaan yang enggan diasingkan.
"Ocy, buka pintunya! Sikapmu ini kekanak-kanakan tau," Nara tidak bisa menahan diri lagi atas kelakuan sahabatnya yang benar-benar di luar batas. Ia merasa terpojok hanya karena statusnya masih seorang diri tanpa pasangan, mungkin sang sahabat tidak lancang berpikir pernikahan jika ia menemukan pria lain di saat keadaan semakin penuh goncangan.
"Bagimu, sikapku tidak masuk akal tapi itu terserah kalian berdua saja. Jika sampai matahari tenggelam masih tidak ada jawaban, kalian tunggu saja apa yang bisa kulakukan." tidak lagi memusingkan setiap kata yang terucap dari bibirnya. Lagipula cepat atau lambat yang tersisa hanya harapan tanpa sinar cahaya.
Keras kepala membuat Ocy tidak lagi memikirkan nasib keluarga besar. Wanita itu sibuk merencanakan masa depan yang ia anggap sebagai jalan pintas bagi sang suami tercinta. Meski alasannya benar-benar tidak termaafkan, ia sudah siap menanggung resiko kebencian dari semua orang sebab setiap pilihan selalu memerlukan pengorbanan.
"Tenanglah, Nara. Gimana kalau untuk sementara waktu kita sepakati saja permintaan Ocy? Jangan salah paham dengan perkataanku," lirikan mata tak suka yang melayang menatap intens kearahnya membuat ia bergegas mengusir kesalahpahaman di antara mereka berdua, "Ocy cuma minta kita setuju dan masih belum menentukan waktu pernikahan jadi dengan kata lain masih bisa mengubah rencana tanpa sepengetahuan istriku."
__ADS_1
"Memang tidak mudah cuma situasi sudah seperti sekarang dan penolakan justru membuat Ocy semakin keras kepala. Wanitaku itu selalu pantang menyerah meski tahu akhir bisa menjadi bencana untuk diri sendiri atau kamu punya rencana lebih baik dariku?" Samuel hanya berusaha mengambil jalan tengah demi kebaikan bersama meski sebenarnya ia merasa seperti memanfaatkan Nara untuk kepentingan sendiri.
Sesaat memikirkan saran Samuel yang dari sudut pandangnya tidak sepenuhnya benar maupun salah. Selama beberapa tahun hidup berdampingan dengan anggota keluarga Putra, ia bisa memahami karakter setiap anggotanya dan pernyataan seorang suami tentang istrinya memang benar begitu kenyataan yang ada. Apa ia harus menyetujui mengingat situasi sudah memasuki persimpangan jalan atau kekeh memisahkan diri tanpa berniat ikut campur?
Jika saja posisinya bukan sahabat sekaligus saudara mungkin tidak banyak berpikir hanya untuk melepaskan ketegangan dari dalam pikiran. Mau, tak mau harus memikirkan solusi demi kebaikan semua orang. Akan tetapi, ia merasa tidak tenang bahkan kegelisahan kian menyudutkan emosi hati. Akankah kehidupan dan waktu merestui keputusan mereka berdua kali ini?
"Nara, kali ini saja, aku cuma bisa berharap pada belas kasihmu. Apa kamu mau menyetujui saran dariku?" Muel merengkuh tangan kanan wanita di sebelahnya yang terlihat masih memikirkan masalah mereka lebih seksama.
Hati merasa tak tega melihat ketidakberdayaan seorang suami yang harus mengalah demi tetap menyenangkan hati sang istri tercinta. Situasi membuatnya kian terjebak tetapi ia masih memiliki kesadaran untuk tetap bersikap biasa. Terlebih lagi di dalam kamar sana seharusnya Ocy mengerti bagaimana perasaan kedua insan yang sudah terjerat ke dalam keadaan nan rumit.
__ADS_1
"Oke, kita lakukan seperti saranmu tapi pastikan persetujuan ini tidak berakhir lebih buruk dari sekedar kata-kata saja." ujar Nara yang dengan enggan menghapus sisa rasa tak nyaman dari dalam hatinya.