Karena Cinta

Karena Cinta
Part 51#SEORANG IBU SEKALIGUS SEBAGAI ISTRI


__ADS_3

Sebagai orang tua ia hanya bisa berusaha menuruti keinginan hati sang anak. Meski dirinya sendiri merasa ragu tetapi dengan dukungan sang istri ia sudah mantap untuk melepaskan Bunga tinggal di asrama. Wajar ketika ada rasa yang tak biasa menyelimuti hati sebab dirinya juga manusia biasa yang juga merasa kehilangan ketika apa yang selalu ada di pandangan mata, tiba-tiba saja akan menghilang begitu saja.


Sebenarnya tidak begitu saja! Karena semua itu sudah ada rencana dan akhirnya setelah menyelesaikan perjanjian sesuai dengan kesepakatan. Mama Milea membantu Bunga untuk menyiapkan pakaian yang memang benar-benar sudah dipilah dengan baik. Dimana tidak ada pakaian yang begitu mencolok agar putrinya merasa lebih nyaman.


Sebab ia dulu pernah juga tinggal di asrama dan memiliki beberapa pengalaman tidak baik. Sehingga dirinya bisa memberikan antisipasi agar sang putri bisa selalu dalam keadaan baik-baik saja, sedangkan Bunga menyipitkan mata melihat mamanya mengeluarkan beberapa gaun yang sedikit terbuka dari kopernya dan mengganti gaun yang lebih sopan.



Bahkan gaun pengganti terlihat berlengan panjang dengan bagian dada tertutup, "Mama kenapa pakaiannya diganti?" tanyanya pada sang mama karena ingin tahu jawaban dari wanita yang telah melahirkannya itu.


"Nak, kamu boleh saja tinggal di asrama, tapi penampilan tetaplah sangat penting karena mama tahu di luar sana banyak gadis yang berpakaian lebih terbuka dari beberapa gaunmu ini!" Mama Milea menunjukkan satu gaun tanpa lengan dengan aksen mutiara melingkar di dada, "Gaun yang indah, tapi selama ini semua yang ada padamu hanya kami yang melihat dan bukan orang luar."


"Ingatlah ketika pandangan seorang pria sudah jatuh akan bertemu hawa napsu dan itu dimulai dari penampilan kita sendiri sebagai wanita. Kita harus sangat menjaga sebab itu akan lebih baik. Jika bisa menghindari satu faktor yang menjurus ke hal buruk, kenapa tidak? Semoga putriku paham dengan maksud Mama!"


Penjelasan sang Mama ternyata berkaitan dengan dunia para orang-orang di luar sana, ia tahu jika mamanya sangat protektif dan memang selama ini tidak pernah membatasi ia dalam memilih pakaian seperti apa. Dengan garis bawah masih tahu batasan dan kesopanan hanya saja untuk pertama kalinya sang mama selektif dan terlihat begitu pemilih.


Bahkan hanya bersangkutan dengan pakaian saja. Ia tidak mempermasalahkan Itu sebab apapun pakaian yang dipilihkan sudah tentu pakaian miliknya sendiri, "Pilih saja sesuai dengan ketenangan hati Mama, lagi pula semua itu hanya untuk menunjang penampilan dan Bunga pasti menjaga diri sendiri meski harus berpakaian sedikit terbuka."


"Cuma kalau Mama merasa tidak ingin aku tinggal di luar dengan penampilan terbuka, dan bisa dikatakan terlalu bebas. Apapun pilihan mama, Bunga nurut, kok,"


Jawaban Bunga membuat mama Milea tersenyum, lalu mengusap kepala sang putri dengan penuh perhatian dan kasih sayang, "Nah, ini baru putri mama. Sekarang lebih baik kamu mandi lagi dan bawa pakaian yang akan kamu kenakan. Satu lagi jangan pernah lepaskan jam tangan yang kamu kenalkan ketika di luar karena itu juga memiliki satu fungsi agar kita bisa tahu tempat koordinasi masing-masing!"


"Oke, siap bos! Seperti yang nyonya perintahkan. Oh, ya, apa papa yang akan mengantar atau hanya mama saja?" tanya Bunga sebelum pergi ke kamar mandi yang membuat sang mama berhenti mengusap kepalanya.


Wanita itu terdiam melihat wajah putrinya yang begitu bahagia. Ia sadar bahwa Bunga sangat-sangat mengharapkan kebebasan setelah sekian lama, tetapi hati masih mengharapkan agar ada keajaiban sehingga putrinya mau mengalah dan membatalkan keinginan hati tersebut.

__ADS_1


Namun ia tak ingin egois dan berusaha menepis emosi miliknya sendiri dan berusaha menyadarkan diri bahwa tidak akan terjadi apapun di kemudian hari, "Nak, kita berdua akan mengantarmu sampai ke asrama dan sekaligus membayar administrasi selama tiga bulan. Jadi kamu tidak perlu memikirkan bagaimana cara membayar asrama karena kami hanya ingin Bunga bisa menjaga diri, kuliah dengan benar dan nikmati waktu kebebasanmu."



Pernyataan mama Milea sekedar untuk menegaskan bahwa apa yang akan terjadi nanti tidak menyalahi surat perjanjian dan semua itu sudah dijelaskan oleh suaminya sendiri bahwa mereka berdua harus melihat kondisi asrama yang menjadi pilihan Bunga. Setelah mendapat penjelasan Bunga meninggalkan sang mama masuk ke dalam kamar mandi.



Gadis itu tak lupa juga membawa pakaian ganti yang sudah disiapkan, sedangkan mama Milea melanjutkan aktivitasnya agar semua persiapan selesai tepat waktu. Sebagai ibu ia tengah mempersiapkan segala sesuatu kemungkinan agar putrinya tidak kewalahan menghadapi dunia luar. Jujur saja ia khawatir karena perbedaan dunia baru bisa mengubah sudut pandang seseorang.



Sadar bahwa Bunga memiliki kehidupan mendekati sempurna mengingat semua kebutuhan sang putri selalu terpenuhi sebelum diminta, lalu nanti, tiba-tiba kehidupan berbanding terbalik dan kemungkinan besar putrinya akan mengalami masalah. Sebab itu ia menyiapkan satu koper pakaian, satu koper perlengkapan dan juga tas jinjing yang berisi beberapa makanan.



"Ayolah, Pa! Jangan tegang seperti itu, kita bisa melihat Bunga. Emang nggak setiap hari, tapi dua minggu sekali. Itu sudah cukup 'kan? Lagi pula jika dia sudah menikah nanti malah kemungkinan lebih lama lagi untuk bisa saling bersua," mama Milea berusaha untuk membesarkan hati suaminya.


Berat rasanya apalagi ketika hatinya sendiri sedang semrawut dan tidak tahu harus melakukan apa, tapi tetap dituntut sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu agar bisa berusaha untuk tegar menghadapi situasi yang mengharuskan dirinya untuk tetap tenang. Di manapun seorang ibu akan selalu sama tidak mengutamakan emosinya sendiri dan juga harapan hati.


Karena seorang wanita yang sudah menikah dan memiliki anak serta suami akan selalu mengutamakan keluarga, keluarga dan keluarga. Bukankah demikian? Tanyakan saja pada ibu yang telah melahirkan kita!


Papa Bima berusaha tersenyum meski ia tidak bisa senyum dengan benar, "Aku tunggu kalian di mobil dan minta Bunga untuk mengenakan jaket!"


"Seperti keinginanmu, Mas. Sekarang aku kembali menunggu putri kita," jawab mama Milea tak ingin membantah dan mengikuti apapun keinginan sang suami.

__ADS_1


Penantian akan selalu sama di mana pasti terasa begitu membosankan. Akan tetapi ketika penantian tersebut selalu menambah kegelisahan hati, maka yang terjadi juga bukan bosan melainkan cemas. Mama Milea duduk di tepi ranjang menatap ke setiap sudut ruangan yang menjadi tempat ternyaman sang putri selama beberapa tahun.


Ia tidak menyangka hari perpisahan akan tiba. Padahal Ia sendiri juga mengatakan pada suami bahwa masih bisa bertemu dengan Bunga. Rupanya hati tidak bisa berbohong di mana ia benar-benar mulai kehilangan ruang yang selama ini selalu diharapkan akan datang menyambut kepulangannya. Apakah bisa ia hidup tanpa sang putri selama 3 bulan?



Sanggupkah dirinya menahan rindu ketika sepulang kerja dan tidak mendapati tubuh yang terlelap di atas pembaringan. Mungkin Bunga tidak tahu setiap kali ia pulang larut malam dan datang masuk ke kamar hanya untuk duduk selama beberapa waktu di tepi ranjang seraya memandang wajah yang terlelap begitu tenang.


Apa yang terjadi memang seperti itu adanyi, tetapi ia sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi. Sebab kali ini benar-benar tidak memiliki kata-kata lagi. Maka dari itu, ia hanya bisa pasrah dan menyerahkan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa agar bisa melindungi keluarganya dari segala godaan dan juga marabahaya.


Ketika masih sibuk melamun, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dengan kemunculan sang putri. Wajah segar dengan netra jernih yang terlihat begitu indah menyambut bersama seulas senyum manis nan menawan, "Loh, Mama! Kok masih di sini? Mama nggak mau siap-siap juga?" tanya Bunga begitu melihat mamanya terduduk dengan tatapan mata kosong


Hening tidak ada jawaban sebab sang mama tengah melamun membuat gadis itu berjalan menghampiri ranjang. Ia tidak tahu apa alasan wanita yang telah melahirkannya itu sibuk menghayal pada suatu kenyataan yang tak tahu arah tujuan. Perlahan mengangkat tangan, lalu memegang pundak sang mama yang terlihat tersentak kaget akan tindakannya.


Akan tetapi tatapan mata kosong buru-buru disingkirkan berganti senyum hangat yang selalu ia dipertunjukkan, "Are you ok, Ma? Jangan bilang karena Bunga diizinkan untuk tinggal di asrama dan itu membuat mama sendiri sedih. Jika memang seperti itu, aku tidak masalah untuk membatalkannya, Ma!"


Setulus hati Bunga menyampaikan isi hari karena gadis itu lebih mencintai mamanya dibanding keegoisan hati sendiri. Apapun yang sudah terjadi memang itu sangat dirinya inginkan, tapi ketika sadar dengan hasilnya. Sungguh ia tidak bermaksud untuk membuat seorang ibu terluka. Sebab ia tak ingin mendapatkan murka dan doa yang tidak sesuai dengan ridho Ilahi.


Ridha Allah terletak pada ridha kedua orangtua, karena Allah memerintahkan untuk mentaati orangtua. Barangsiapa yang mentaati perintah Allah ini, maka Allah akan meridhoinya dan barangsiapa menolak taat kepada-Nya maka Ia pun murka.


Al Hafidz Al Iraqi menjelaskan bahwa ini mirip dengan ungkapan, “Barangsiapa tidak bersyukur kepada manusia maka ia tidak bersyukur kepada Allah. Namun tetap disyaratkan bahwa keridhaan dan kemurkaan orang tua masih dalam hal yang diperbolehkan oleh syariat.”


Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah berlibur, ”Ridha Rabb terletak pada ridha kedua orang tua dan murka-Nya terletak pada kemurkaan keduanya. ” (Riwayat Ath Thabarani, dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi)


Imam Al Ghazali juga menyebutkan sejumlah hal yang termasuk adab anak kepada orangtuanya; mendengarkan kata-katanya, mentaati perintahnya, tidak berjalan di depannya, tidak meninggikan suara di hadapannya, serta berusaha mendapatkan keridhaannya. (lihat, Faidh Al Qadir, 33/4)

__ADS_1


Sehingga sebagai seorang anak, maka Bunga tidak ingin mengingkari hakikatnya sebagai manusia yang memiliki kewajiban untuk menjaga serta membahagiakan kedua orang tuanya terutama sang mama. Akan tetapi, mama Milea menggelengkan kepala dan meyakinkan putrinya bahwa semua baik tanpa ada masalah.


__ADS_2