
Tidak ada salahnya untuk menyelidiki sebuah rahasia yang dijaga oleh orang tua, begitulah pikir si gadis pemilik mata hazelnut. Akan tetapi, rasa penasarannya mungkin hanya menghadirkan luka atau dilema, sedangkan di sisi lain perasaan seorang ibu masih berusaha untuk tetap normal. Padahal firasatnya telah menunjukkan kebenaran atas cinta milik sang putri.
Ia merasa cinta tidak seharusnya hadir di hati Bunga karena mengingat saudara iparnya bukanlah pria sembarangan. Selain dingin, satu hal jelas dimana hati Al selalu menjadi milik sang kekasih masa kuliah. Kisah cinta antara dua insan dengan pertengahan yang membingungkan semua orang selalu menghantui seluruh anggota keluarga.
"Milea!" Bima menggoyang bahu istrinya yang baru saja datang tetapi tatapan mata kosong dengan pikiran entah kemana, ia hanya merasa wanitanya terlihat begitu cemas akan sesuatu.
Al yang juga melihat keanehan dalam diri Milea, pria itu ikut menatap saudara iparnya dengan tatapan tanya, "Apa istrimu sakit? Kenapa tidak istirahat di dalam saja, lagian aku bisa keluar tanpa di antar kalian. Bima, sebaiknya bawa Milea kembali masuk, deh."
"Ok, kamu hati-hati di jalan dan aku titip salam buat ka Angkasa sama ka Bella. Sayang, kita masuk, ayo!" tangan kanan merengkuh pinggang Milea, lalu melangkahkan kaki berbalik.
Kebersamaan sepasang suami istri di depannya dibiarkan begitu saja, Al sendiri menempuh perjalanannya sendiri. Pria itu kembali melanjutkan langkahnya hingga sampai di sebelah mobil yang terparkir di halaman depan, lalu tanpa menunggu lama bergegas masuk dan menyalakan mesin, kemudian mengalihkan fokus dengan memulai berkendara.
Perjalanan kali ini tidak akan memiliki ketegangan karena beberapa masalah akhirnya terselesaikan. Sementara di sisi lain, akhirnya kesepakatan terjadi dimana kedua belah pihak baru saja selesai menandatangani surat kerjasama ulang. Senyum bahagia mekar sempurna tersungging menghiasi wajah seorang wanita cantik pemilik tubuh nan molek.
"Thanks, Mr. Saya akan bekerja lebih keras lagi, apa sekarang boleh lanjut ke tempat pemotretan?" tanya di wanita dengan suara lembutnya yang menjadi tameng selama menggaet para klien.
Pria dengan kemeja berantakan itu mengibaskan tangan melepaskan mangsanya, "Pergilah! Ingat kita akan bepergian setelah tiga hari, selesaikan semua pekerjaanmu di Indonesia."
__ADS_1
"Don't worry, Mr. Semua akan seperti keinginan Anda, permisi." pamit si wanita tanpa membenarkan riasannya yang sudah pudar tergerus sentuhan tangan pria belang.
Langkahnya berjalan menjauhi ranjang persetujuan. Jujur saja, ia tidak peduli seberapa sering harus memuaskan pria hanya demi sebuah tanda tangan di atas selembar kertas. Baginya pekerjaan harus dijalani tanpa penyesalan. Bukankah semua orang akan menghalalkan segalanya demi kebahagiaan?
"Hazel!" suara panggilan dari arah selatan menghentikan pergerakan seorang wanita yang baru saja keluar dari sebuah bilik ruang ganti.
Hazel menoleh ke arah sumber suara, lalu melambaikan tangan. "Hey, Karin."
Niat hati kembali ke tempat pemotretan tetapi kedatangan Karin sang teman model yang memiliki beda agency menghentikan tujuan awalnya. Apalagi mereka berdua sudah lama tidak saling jumpa, akhirnya memilih untuk duduk bersama di ruang khusus sembari menikmati segelas minuman dingin dan juga cemilan sehat.
"Masa, sih? Gak juga, Rin. By the way, gue denger akhirnya elo bisa gebet pak direktur PT Varma. Keren, gimana rasanya jadi bini pengusaha?" goda Hazel seraya mengambil bantal yang dijadikan bantal pengganjal perutnya agar duduk bersantai lebih nyaman.
Rayuan Hazel seketika mengingatkan Karin akan kehidupannya saat ini, dimana ia harus berhenti menjadi model setelah menikah. Meski karir memiliki jalur mulus tanpa banyak pengorbanan, nyatanya sebagai wanita harus memilih antara kehidupan normal atau sebagai seorang profesional. Terkadang harapan hanya terwujud separuhnya saja, meski begitu ia bersyukur mendapatkan suami penyayang.
"Alhamdulillah, aku bahagia menikah dengannya cuma sekarang sudah jadi istri rumahan aja. Kami lagi program bayi, do'ain semoga cepat terwujud, ya. Oh, ya, gimana sama hubunganmu dan Bry. Kapan launching babynya?" seloroh Karin mengusir kegalauan hati di tengah rasa bahagianya.
Hazel tersenyum simpul menanggapi pernyataan Karin, "Jujur, gue gak tertarik punya anak, Rin. Suamiku selalu ngajakin buat ikut program kehamilan tapi sementara waktu ini, gue milih fokus karir dulu. Lagian masih sama-sama muda dan gak keburu tua, so, ngapain buru-buru laughing penerus."
__ADS_1
"Sttt!" Karin menaruh telunjuk jarinya ke depan bibir berwarna merah muda, "Kalau ngomong jangan suka asal, deh. Ingat, kalian itu udah nikah berapa tahun, Zel. Emang kamu gak takut kalau Bry berpaling ke lain hati?"
"Hahaha, mana berani dia selingkuh, Rin. Malahan gue udah suruh cari wanita lain kalau mau anak, dianya nolak mentah-mentah. Aman, deh. Cintanya cuma buat Hazel seorang," Hazel menepuk dadanya dengan perasaan bangga atas kesuksesannya membuat suami sendiri bertekuk lutut atas nama cinta.
Kepercayaan diri dalam diri Hazel justru membuat Karin geleng-geleng kepala. Sebagai seorang wanita, ia merasa kesombongan berlebihan di dalam diri sang teman bukanlah sesuatu yang baik. Apalagi dari nada yang terdengar lebih menyepelekan perasaan pasangan sendiri. Bagaimana bisa seorang istri menawarkan wanita lain pada suami sendiri?
Ia tidak habis pikir tapi mengingat karakter Hazel yang selalu maunya menang sendiri. Ia bisa membayangkan bagaimana posisi Bryant sebagai suami, hanya saja pria satu itu harus hidup di bawah kendali seorang wanita tak berperasaan. Entah seperti apa masa depan dari pernikahan dua insan yang tercipta karena kesalahan semalam.
"Zel, sebagai teman, gue saranin buat elo lebih mikirin masa depan keluarga. Karir masih bisa dirancang, tapi jangan anggap sepele tentang anak. Keturunan sangat penting untuk kelangsungan sebuah keluarga." jelas Karin berusaha memberi pencerahan agar Hazel menyadari sikap kekanak-kanakan yang sudah dilakukan selama ini.
Namun sayang, nasehat apapun hanya dianggap angin lalu oleh Hazel. Wanita itu tidak membutuhkan saran apapun dari siapapun. Kehidupannya akan berjalan seperti yang diharapkan tanpa ada gangguan apalagi niat buruk dari seseorang. Begitulah pikirnya tetapi waktu akan terus berputar karena roda kehidupan tak pernah berhenti.
Tiga jam berlalu begitu saja hingga obrolan dari ujung utara ke barat mengakhiri kebosanan kedua insan yang terlihat menghilangkan kerinduan pertemuan. Hazel dan Karin berbagi kisah dengan mengenang masa lalu bersama-sama, kedua wanita itu bisa bernostalgia tanpa ada gangguan. Moment kebersamaan yang patut mendapatkan apresiasi kekeluargaan.
"Gue pamit, ya, Zel. Udah lama keluar dari rumah, ntar malah dikira keluyuran ama suami. Jangan lupa soal tadi, take care," pamit Karin yang beranjak dari tempat duduknya, lalu tak lupa berpelukan dengan Hazel sebagai salam perpisahan.
Hazel dengan senang hati mengantarkan Karin ke depan, wanita itu membiarkan sang teman menjauh dari ruangan khusus. Tangan kanannya melambai mengiringi kepergian si wanita mantan model tapi senyum kesal tercetak kecut menghiasi wajahnya, "Suami yang protektif, tapi buat apa kalau tidak bisa bebas? Ck, Karin yang malang."
__ADS_1