
Pengakuan yang dilontarkan si pria penguasa menggetarkan jiwa sang mantan pembunuh bayaran. Badan Adis Maajid, nama itu merupakan sumber kepedihan yang terjadi pada hidupnya. Bagaimana bisa terlontar begitu saja?
"Apa kamu anak buahnya? Jika iya ... " Ziyad beranjak dari tempatnya dan tangan menyambar vas dari atas nakas di sisi kiri tempat tidur. Rasa sakit yang mendera terabaikan bersambut sikap waspada hingga tangan mengayunkan benda mati yang ia genggam ke arah depan.
Tindakan Ziyad terlalu lambat dan membuat sang pria penguasa menggelengkan kepala. Apalagi vas terjatuh dari tangan si mantan pembunuh bayaran dengan jarak satu meter saja. Pada akhirnya tubuh yang terbiasa di isi oleh minuman alkohol kembali tumbang.
"Jadi manusia harusnya sadar diri!" ucap si pria penguasa. Tanpa menunggu anak buah datang, ia berjalan menghampiri Ziyad dan dengan tenang membantu sang mantan pembunuh bayaran hingga kembali berbaring ke atas ranjang.
Apa gunanya memberontak ketika raga saja tidak kuat menopang tubuh sendiri. Pada intinya harus melihat situasi dan kondisi, terlebih lagi tidak dalam keadaan menjadi tahanan yang akan dicincang sang penahan. Secara perlahan Ziyad mencoba memahami tengah berhadapan dengan siapa.
Pria itu bisa merasakan niat dibalik setiap tindakan si penolong hanya saja ke mana arah tujuannya? "Kenapa kamu mau tau target misi terakhirku? Jangan merendahkan diri karena semua tulisan tentang identitasku sudah cukup mengatakan siapa kamu."
"Aku tidak memaksamu, lagi pula kamu masih terjebak di kasus yang sama. So, up to you!" jawab tegas tetapi penuh makna si pria penguasa yang menjauhkan diri dari ranjang setelah membenarkan bantal sandaran kepala Ziyad.
Pernyataan ambigu nan menyita rasa penasaran. Kali ini bukan tentang pekerjaan tetapi sesuatu yang lain dan sebagai seorang pemangsa ia memiliki insting kuat. Entah kenapa hati yakin bahwa orang yang berusaha menggali masa lalu hanya membutuhkan konfirmasi dan klarifikasi darinya saja.
Sudah bisa dipastikan bahwa informasi lengkap terjabarkan tanpa ada kekurangan. Masalahnya adalah ketika menyangkut kebenaran dan juga kepalsuan, maka harus ada bukti dan pembenaran nyata. Tulisan bahkan foto pun hanya sebagai pelengkap karena harus ada saksi kunci.
"Targetku, Tuan Zabdan atau dikenal sebagai putra pebisnis dengan nama lengkap Zabdan Fatih Nuri Faeyza. Dia memang putra tunggal keluarga ternama dan memiliki saudara tiri Basam Adis Maajid. Cuma itu yang aku tau," ucap jujur Ziyad tanpa ingin menambah durasi keraguan hati.
Zabdan Fatih Nuri Faeyza yang memiliki arti sebuah hadiah pemberian Tuhan seorang anak laki-laki pemimpin yang hidupnya terus meningkat karena kesuksesan yang didapatkannya. Nama yang indah dengan berkat doa orang tua, tetapi tak semua nama bisa menjadi sesuai harapan ketika kehidupan mengubah arah perjalanan dengan pilihan-pilihan jalan bercabang.
"Thanks atas kejujuranmu dan sekarang istirahatlah!" Si pria penguasa kembali melangkahkan kaki menjauh dari Ziyad. Setelah jawaban kepastian ia dapatkan, maka waktunya bertindak melakukan yang benar.
__ADS_1
Satu kesalahan pernah dilakukan oleh Ziyad dan itu tidak boleh terulang. Apalagi permainan politik dan bisnis sama-sama berbahaya. Meski tidak memudarkan semangat dan akal pikiran untuk memutuskan tindakan yang tepat. Setidaknya jalan sudah terang dengan semua kebenaran yang ada.
"Bos Altra, are you okay?" tanya Zack yang langsung menyambut Al tanpa memberikan kesempatan pada tuannya untuk duduk di kursi terlebih dahulu.
Lirikan mata tertuju pada pria yang menatapnya begitu khawatir, "Hmm. Apa ada kabar dari orang-orang kita?"
"Soal itu," Zack mengambil ponsel dari balik saku celana kanan, lalu menyerahkannya kepada sang tuan.
Ia tidak perlu mengatakan panjang kali lebar selain membiarkan bos Altra memeriksa laporan yang sudah masuk dari beberapa anak buah. Bukan bermaksud kurang ajar, hanya saja sang tuan terlihat begitu tegang meski tenang. Sehingga lebih baik tetap diam dan tak bersuara.
Lima menit berlalu dalam keheningan yang membuat hati kian cemas. Padahal suasana masih aman, lalu kenapa hati begitu sensitif? Seolah akan mendengar ultimatum gantung diri dari sang tuan. Perasaannya begitu berdebar hebat bak langkah kaki terus berlari tanpa henti.
Si benda pipih diletakkan ke atas meja, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun pria itu meninggalkan Zack. Apapun yang ada di dalam pikirannya hanyalah sekilas bayangan, tetapi hasil akhir akan sama dan itu harus dirubah. Kekalahan mungkin hal wajar, hanya saja kemenangan menjadi taruhan nyawa.
Aku harus melakukan pekerjaan ini sendiri dan mengirim Ziyad ke tempat yang aman. Apa pria itu mau bekerjasama? Cuma ada satu cara dan itu menggunakan kedua putrinya.~batin Al memutuskan langkahnya untuk menyudahi masalah yang sedang dihadapinya.
Kepergian Al yang tanpa mengatakan apapun, membuat Zack melongo. Pria itu hanya bisa menggaruk kepalanya meski tidak gatal, "Punya bos kelakuannya beneran bikin orang belajar sabar."
Ketidakpastian yang dirasakan Zack hanya milik pria itu saja. Sementara di belahan bumi lain terjadi kericuhan antar pelajar. Dimana suara sumbang terdengar di setiap penjuru koridor dan menyudutkan seorang gadis remaja yang masih bersikap santai saja.
Gadis itu bahkan tidak menggubris semua tudingan yang mengarah padanya dan tetap mengikuti pelajaran di kelas selama hampir dua jam hingga suara bel mengakhiri kejenuhan. Dosen di depan kelas berpamitan begitu menutup pelajaran yang diajarkan dan mengingatkan tugas untuk pertemuan berikutnya.
__ADS_1
"Kuliah terakhir dan tidak ada kepentingan lain. Sebaiknya aku langsung pulang saja biar bisa tidur nyenyak. Let's go!" Gadis itu mengemas peralatan belajarnya ke dalam tas, lalu berniat beranjak dari tempat duduk tapi tiba-tiba ada tangan menggebrak meja dengan begitu kencang.
Terkejut? Tidak. Sejak memasukkan buku, lirikan mata sudah melihat langkah kaki beberapa mahasiswi yang datang menghampiri mejanya. Bukan hal mengejutkan meski membuat waktunya terbuang sia-sia. Sadar akan terjadi ketidaknyamanan dan ia tak ingin terlihat lemah dimata semua orang.
"Hey, sugar baby. Ajarin aku buat rayu om om, donk! Nanti kalau udah ada langganan bisalah tak kasih tips les service ... " ucap panjang lebar seorang gadis dengan penampilan feminim berwajah cantik full make up meski bukan hasil operasi plastik.
Setiap kata yang panjangnya ngalahin jalan tol hanya didengarkan tanpa ingin menyela, bahkan gadis lainnya ikut menyahut seolah sedang ada pertandingan kriket di dalam kelas. Sudah hampir lima belas menit, tapi masih terdengar racauan tak jelas yang dianggap angin lalu.
Kedua tangan terangkat hanya tuk bertepuk tangan ditemani seulas senyum tersungging menghiasi wajahnya, lalu tak lupa mengambil tas ransel begitu menyudahi memberikan apresiasi pada kelima gadis sok tahu yang menghalangi jalannya. Entah datang dari mana orang-orang yang terlihat begitu menyebalkan itu.
Satu hal pasti yaitu kelima gadis yang mengganggunya itu merupakan teman satu fakultas. Bukan teman, melainkan sesama mahasiswa dari Universitas Yarsi. Ia bukan takut untuk menjawab atau membalas setiap tuduhan dan penghinaan yang diterimanya. Akan tetapi masih banyak cara untuk membungkam mulut beracun.
__ADS_1
"Sugar baby! Jangan kabur, mau kemana loe?" Seorang gadis dengan rambut pendek sebahu merentangkan kedua tangan sehingga memblokir jalan agar si gadis mata hazelnut tidak bisa melarikan diri.