
Suara Bunga cukup begitu keras bahkan sampai terdengar jelas ke dalam kelas, membuat anak-anak lain yang baru saja masuk dan tengah fokus mendengarkan pengenalan dari pak dosen ikut teralihkan akan rasa penasaran. Sontak saja, satu per satu berlari meninggalkan bangku secara serempak ingin melihat si pemilik suara.
"Sttt," gumam seorang pemuda dengan penampilan imut menggemaskan seraya menaruh jari telunjuk di depan bibir nan menggoda tanpa pewarna. Tatapan mata hitam legam di balik jernih di balik kacamata bulat yang tertutup poni tipis, "Jangan ...,"
Belum juga menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja sudah menjadi tontonan banyak mahasiswa. Apalagi langkah kaki seorang pria dewasa juga ikut keluar melihat penyebab kegaduhan yang merusak suasana perkenalan. Pandangan mata semua orang tertuju pada dua insan lawan jenis yang saling berhadapan.
"Mahavir! Kapan kamu balik ke Indonesia?" Si dosen bertanya begitu mengenali wajah tak asing tetapi sangat jarang terlihat di area kampus.
Si pria dengan garis keturunan campuran yang memiliki banyak prestasi di kampus tetapi karena sebuah insiden menyebabkan pemuda itu vakum dari dunia perkuliahan. Sebagai salah satu dosen lama, pak dosen sangat mengenal sang mahasiswa. Meski begitu, ia tak berhak mempertanyakan apapun pada Mahavir.
...Adyatma Mahavir Alister atau yang biasa dipanggil Mahavir di area kampus. Akan tetapi ketika berada di lingkungan keluarga, maka hanya dipanggil ice cube. Nama yang dingin seperti karakter dari si pemuda. Dimana tak banyak bicara setiap kali berkumpul bersama anggota keluarga. Sisi kehidupan cukup kelam dengan insiden masa lalunya....
Lirikan mata beralih menatap sang dosen, "Apa ada masalah jika aku kembali?"
Pertanyaan yang diajukan biasa saja, tapi tekanan nada dari sang pemuda sangat jelas ditekankan tanpa ada rasa takut hingga membuat si dosen terbungkam diam tak lagi berkata. Sadar bahwa sehebat apapun dirinya sebagai seorang dosen. Fakta itu tidak bisa menyelamatkannya dari kemarahan seorang Mahavir.
Anak-anak yang tidak memahami hanya sibuk saling pandang karena memang bingung dengan situasi di depan mereka. Apalagi melihat gadis tercantik di kelas mereka ada di hadapan si pemuda kacamata. Keadaan semakin canggung hingga tiba-tiba datanglah seorang wanita yang membubarkan kerumunan massa.
__ADS_1
"Bubar!" Suara menggelegar dari arah lorong mengalihkan perhatian semua orang yang seketika membawa langkah lain kembali masuk ke dalam kelas. Satu per satu membubarkan diri tanpa bisa berkomentar.
Apalagi yang datang adalah wakil rektor. Wanita dengan penampilan elegan berwajah gahar itu tampak serius menghadapi situasi yang cukup menegangkan, "Mahavir, kelasmu bukan di sini! Mau ku antar atau cari sendiri?"
"Namamu siapa?" Wanita itu beralih menatap Bunga yang masih diam menatap Mahavir dengan tatapan kesal. Ada aura tak suka dan ia bisa merasakan itu, tapi kenapa? Mungkin sudah terjadi sesuatu yang dirinya tidak tahu.
Bunga menghela napas panjang berusaha menghempaskan rasa kesal yang menampar hati, "Maaf, Bu. Saya pamit kembali ke kelas, permisi."
Tidak ada jawaban atas pertanyaan si wakil rektor karena hati sang gadis tengah tak ingin menjawab. Langkah kaki beralih tanpa memperdulikan tatapan mata gelap yang terpatri menatap ke arahnya. Ia merasa tak perlu lagi berada di tempat dingin tanpa emosi hati.
Entah kenapa, firasatnya sedikit buruk ketika berdekatan dengan Mahavir. Pemuda yang tiba-tiba datang menggenggam tangannya itu seperti memiliki kepribadian ganda. Dibalik kacamata bulat, ia bisa melihat sorot tajam yang menghujam jiwa.
Kepergian Bunga yang kembali masuk ke dalam kelas hanya disambut keheningan, bahkan pak dosen tidak mempermasalahkan keterlambatannya. Aneh, tapi setidaknya bisa mengikuti pelajaran tanpa ada masalah. Sehingga pagi mencekam menjadi awal hari yang menegangkan.
Sementara itu, Mahavir memilih mengikuti langkah kaki wakil rektor menuju kelasnya sendiri. Ia tak ingin mempermasalahkan apapun. Lagi pula dirinya kembali hanya untuk mendapatkan kedamaian dan bukan masalah, lagi. Sehingga lebih baik menjadi anak penurut sampai waktu yang tidak bisa dipastikan.
"Kelasmu itu!" Bu wakil rektor menunjuk ke arah kelas dengan desain berbeda. Dimana semua berupa dinding kaca meski bukan kaca bening tembus pandang. "Mahavir, di kampus ini tidak ada yang berani melarangmu, tapi ingatlah tujuanmu dan jangan kecewakan siapapun lagi!"
__ADS_1
"Hmm, masih ada lagi?" Mahavir menoleh ke arah samping dimana si wakil rektor berdiri. Wanita yang biasa di panggil bu Sylvi terdiam seraya menggelengkan kepala, "Pergilah! Aku bisa masuk kelas sendiri."
Pemuda itu mengusir seorang wakil rektor tanpa ada rasa sungkan. Begitu berani tidak bersikap layaknya seorang mahasiswa. Aneh, tapi nyata. Begitulah fakta yang ada. Dimana Mahavir lebih ditakuti bahkan termasuk wakil rektor sendiri. Langkah kaki berjalan meninggalkan si dosen yang menghela napas panjang nan kasar.
Semoga saja tidak ada masalah lagi, aku hanya tidak ingin orang-orang menganggapmu sebagai monster. Kuharap ada seseorang yang bisa memahamimu dari dalam hati sebagai keyakinan diri. Namamu terlalu kuat untuk didekati.~batin bu Sylvi yang ikut berbalik begitu melihat si pemuda sudah memasuki kelas.
Ketegangan yang terjadi di kampus telah berakhir. Sementara di tempat lain hanya menunjukkan suasana bahagia tanpa ada derita. Kerlap kerlip lampu masih menyala meski sinar mentari sudah datang menyapa. Dari ujung utara tampak dua insan tengah sibuk bernostalgia terbenam dalam buaian asmara. Decak suara pagutan terdengar bersahutan tak mau mengalah.
"Emppttt … "
Suara tak jelas semakin bergema di udara hampa bersambut tangan nakal yang menjelajah tanpa kata. Desiran hangat mengalir menyentak adrenalin membawa rasa nikmat memenuhi ujung kepala. Alih-alih menyudahi permainan hasrat, kedua insan itu semakin tenggelam bermain api asmara.
"Ouh, sebentar stop dulu, aku butuh oksigen," ucap suara serak dengan napas tak beraturan terbebas dari cengkraman.
Entah sudah berapa kali ia dan sang kekasih gelap berciuman sejak semalam. Rindu yang menggebu mengubah rasa tak beraturan menjadi kebahagiaan. Meski sadar hanya sekedar pemuas hasrat, ia tak merasa dirugikan karena semua terjadi atas keinginan hati.
Tatapan mata saling bertautan tak lepas dari pantauan bersambut irama detak jantung tak beraturan, "Aku memang cantik, tapi haruskah menatapku sebuas itu? Di sini kamu yang harus memuaskan dan bukan aku. So, do it!"
__ADS_1
Ketika nama sudah menjadi tahta. Apalah arti dari raungan tanya? Kenyataannya dia seorang pangeran tak berkuda, sang pemilik kuasa tanpa mahkota. Adyatma Mahavir Alister yang memiliki arti sosok laki-laki cerdas dan selalu mengutamakan serta melindungi keluarganya.