
Pagi yang indah berselimut payung awan nan indah di angkasa. Tak terasa satu bulan sudah berlalu tanpa ada ketegangan. Apalagi sinar mentari selalu menyinari dunia dengan kehangatan tanpa keinginan mendapatkan balasan.
Kebersamaan antara Akbar dan Anggun semakin intens. Apalagi kedua insan itu kini tinggal bersama. Meski begitu Ara sebagai istri kedua dari sang pria, tetapi menjadi sahabat dari wanita yang dikasihinya tak menyadari pengkhianat di depan mata.
Wanita itu terlalu naif dengan kebaikan hati tanpa memikirkan akibat mempersilahkan ular berbisa tinggal di dalam rumahnya. Walau begitu, situasi yang dirancang oleh pasutri licik memang sudah seperti jebakan maut tanpa menyisakan celah kecerobohan.
Sementara di sisi lain, konflik antara pasutri lain masih terus bergulir hingga semakin memperdalam jurang kesalahpahaman di dalam keluarga. Entah sudah berapa kali mencoba untuk memperbaiki hubungan, tapi pada akhirnya lebih buruk dari sebelumnya. Seolah semua usaha menjadi sia-sia saja.
Tangan mengepal tetapi hati menahan rasa kesal yang begitu besar. Tanpa kata, ia menghentakkan genggaman kedua tangan hingga membentur meja kaca yang menghasilkan suara berdegum kencang bahkan seketika mengejutkan semua orang di dalam ruangan. Amarah yang terpancar dari sorot mata tampak begitu jelas bak kilatan petir.
Setelah beberapa waktu diam dan memperhatikan. Akhirnya semua terungkap tanpa ada tabir kebenaran yang berselimut ketidakpastian. Dirinya sungguh tak menyangka ketika anggota keluarga termuda sangat mudah diperdaya oleh makhluk manja atas nama kaum hawa.
"Tuan, tolong tenanglah! Satu perintah dari Anda, maka anak buah siap mengeksekusi si penyihir itu. Tuan tidak perlu membuang energi banyak hanya untuk menyingkirkan wanita murahan sepertinya," sang pelapor yang berpenampilan klimis berusaha menenangkan majikan agar mengingat posisi.
Seorang penguasa sangat mudah menghancurkan lawan bahkan tanpa harus menyentuh musuh dari jarak dekat. Apalagi ketika lawan itu sendiri berada di sekitar, maka akan semakin mudah menghilangkan jejak tanpa memikirkan hasil yang sudah pasti. Lalu, kenapa begitu mementingkan hal tak penting?
"Hmm. Pergilah!" Pria yang duduk di kursi kebesaran mengibaskan tangan kanan, membuat empat orang dengan penampilan biasa saling pandang.
Tidak ada yang bisa dilakukan ketika sudah mendapatkan pengusiran dari sang tuan. Suka, tidak suka, maka mereka harus mengundurkan diri dengan pamit tanpa mendebat apapun lagi. Keempatnya membungkukkan setengah badan, lalu berjalan meninggalkan ruang pertemuan.
__ADS_1
Suara pintu kaca yang terbuka, kemudian tertutup kembali membuat sang penguasa menghela napas berat. Untuk pertama kalinya dihadapkan dengan pilihan sulit sebagai seorang pria yang memiliki tanggung jawab dari beberapa hubungan sekaligus. Jujur saja, situasi menjadi serba salah.
Kedua tangan saling bertautan menopang wajah sendu dengan pemikiran yang semakin dalam tanpa ingin dipertanyakan. Apa situasi membawa dirinya menjadi seorang adik, paman, atau justru lebih baik sebagai seorang pemimpin? Bingung dimana harus berdiri agar bisa menyatukan keluarganya kembali.
"Astagfirullahaladzim, seharusnya aku menyudahi semuanya sebelum semakin jauh, tapi melihat situasi sekarang. Apa itu mungkin?" tatapan mata terpatri menatap kristal bola dunia yang ada di atas meja kerjanya.
Kristal itu memantulkan kilauan indah dengan garis warna pelangi yang menjadi ukiran peta dunia. Kristal bola dunia dibuat oleh seorang seniman khusus dengan masa pembuatan enam bulan. Seni keterampilan dengan bahan dasar berkualitas semakin menonjolkan perpaduan nilai suatu benda.
Hanya bisa menggelengkan kepala ketika menyadari nilai dari manusia tak pernah sama dengan barang. Ia seperti tertampar oleh kenyataan karena baru saja menemukan kesalahan akibat kelalaiannya selama ini. Situasi saat ini juga hasil dari keras kepala anggota tertua.
Dunia memang tidak selamanya indah, baik, apalagi mengikuti semua aturan yang berlaku. Manusia dengan akal masing-masing memiliki tujuan, bahkan keegoisan yang berbeda-beda. Semua tergantung bagaimana kisah dimulai, dijalani, hingga menjadi akhir sebuah kehidupan tanpa penyesalan.
Masalah di dunia ini terjadi ketika orang bodoh terlalu yakin dan orang pintar penuh dengan keraguan. Jadi sangat penting untuk menganalisis, membuat keputusan, lalu melakukan tindakan tepat. Sama seperti yang dilakukan Al.
Pria itu hanya bisa diam ikut tercabik tenggelam di dalam badai kepalsuan. Tidak memungkiri bahwa apa yang terjadi pada sang keponakan, ia juga turut andil. Andai sejak awal kursi kepemimpinan tidak dijatuhkan pada pundak pria muda yang masih menyelaraskan kehidupan, mungkin tidak terjadi pemanfaatan.
Kegalauan Al hanya miliknya seorang, sedangkan di sisi lain Bunga semakin menikmati dunia bebasnya dengan memiliki banyak teman. Gadis itu bahkan benar-benar beradaptasi dengan lingkungan asrama. Akan tetapi harus rela hidup berdampingan dengan sang rival. Mahavir.
Langkah kaki dengan santainya berjalan menyusuri area persawahan yang ada di samping perumahan. Dimana pekerjaan menuntutnya menjadi pengantar makanan bagi para pelanggan yang memesan secara online. Hari ini merupakan hari terakhir dalam masa hitungan sebulan menekuni dunia kerjanya.
__ADS_1
Warga sekitar bahkan mulai mengenal gadis itu sebagai gadis manis dengan panggilan Bulan. Perubahan yang terjadi tak luput dari bantuan beberapa kawan. Hati semakin hangat menerima perlakuan penuh kasih sayang dari banyak orang.
Namun, kebahagiaan itu terhalang tatapan mata kebencian oleh sang majikan yang dengan terpaksa menerima ia sebagai pekerja. Apapun alasan di balik kebersamaan yang saling menyesakkan dada, maka setelah hari ini akan berakhir karena sesuai perjanjian hanya memiliki tenggat waktu sebulan.
Diketuknya pintu orange yang merupakan rumah nomor tiga dari bangunan pertama, "Assalamu'alaikum, Bu. Pesanan baksonya sudah datang!"
Suara salam dengan pernyataan tujuan terdengar hingga ke ruangan belakang yang membuat si pemilik rumah bergegas ke depan dan meninggal cucian piring. Seorang wanita dengan piyama kusut begitu semangat membukakan pintu, wanita itu menyambut Bunga tanpa suara.
Tangan melambai meminta Bunga menunggu, dimana wanita itu kembali masuk ke dalam sekedar mengambil uang. Si gadis yang tahu bahwa pemilik rumah memang bisu memilih tetap diam berdiri di depan pintu. Tak berselang lama, transaksi berlangsung tanpa ada hambatan sama sekali.
"Terima kasih, Bu. Bulan pamit dulu, masih mau anter bakso ke pelanggan lain, permisi, assalamu'alaikum." Bunga yang bersiap meninggal tempatnya tiba-tiba dikejutkan dengan gerakan cepat si pemilik rumah.
Dimana wanita itu menahan tangan kirinya, "Apa ibu perlu bantuan?" hati merasa ada yang salah tetapi sebagai sesama wanita, ia hanya ingin mencoba mencari tahu. Jika terjadi sesuatu, maka harus berusaha membantu sebagai bentuk toleransi kemanusiaan.
Sayangnya si ibu pelanggan yang dikenal dengan nama ibu Ipeh malah menggelengkan kepala. Melihat itu, sontak saja Bunga melepaskan genggaman tangan si wanita yang setidaknya berusia sama seperti sang mama. Ia tak bisa menunda-nunda pekerjaan, apalagi getaran dari balik saku celana semakin terasa mengganggu konsentrasinya.
Ketidaksabaran terpancar jelas terpatri menghiasi wajah seorang pemuda yang berdiri tegak di depan kedainya. Tatapan mata lurus ke depan mengawasi jalanan. Gelisah karena untuk ketiga kalinya ia mendial nomor sama, tetapi tak sekalipun ada jawaban.
"Haish, kenapa firasatku tidak baik? Astaga, gadis nakal. Di telpon bukannya di angkat, malah dibiarin doank. Lagi apa, sih?" kekesalan di hati bercampur ketidaknyamanan.
Apalagi setelah mendengar desas-desus warga yang memintanya agar berhati-hati dengan seorang warga sebagai pelanggan. Benar atau tidaknya, ia sendiri masih ragu. Hanya saja, jika sampai terjadi sesuatu pada anak buahnya. Maka hanya dia sendiri yang wajib bertanggung jawab.
__ADS_1
"Bos, mending kita susul, deh! Perasaan gue makin gak enak, nih," celetuk seorang pemuda yang tiba-tiba sudah ada di belakang pemilik kedai sekaligus sahabatnya itu.