Karena Cinta

Karena Cinta
Part 72#OBROLAN DI KEDAI


__ADS_3

Lirikan mata tertuju pada Bunga. Si gadis hazelnut yang begitu menikmati makanannya seolah tidak ada orang lain selain dirinya sendiri. Remaja itu benar-benar tenggelam dalam citarasa yang menggugah selera. Apalagi rasa pedas sangatlah pas dan bercampur padu menyempurnakan jamuan makanan kuliner kesukaan orang Indonesia.



"Bunga, kamu lapar atau memang doyan?" Fatma mencoba untuk mencari tahu apa yang terjadi pada teman barunya itu karena ia merasa penasaran atas sikap si gadis mata hazelnut.



Ayumi menoleh menatap ke arah Bunga. Gadis yang duduk di sebelahnya itu asyik menyeruput kuah dan sesekali menggigit bakso dari tusukan garpu. Jika orang melihat cara makan Bunga, maka berpikir seperti baru makan bakso untuk pertama kalinya. Terlalu khidmat tanpa merasa ada gangguan.



Anggukan kepala mengakhiri pertanyaan tanpa jawaban pasti, membuat Anna tersenyum lebar. "Sudah-sudah, Bunga saja enjoy makan bakso. Jadi, kita makan dulu!"



Para gadis kembali sibuk menikmati makanan yang dijadikan sebagai sarapan pagi ala anak asrama. Bahkan mentari saja masih sungkan menunjukkan sinarnya tuk menghangatkan dunia, tetapi anak-anak sudah mendapatkan asupan energi tuk mengawali pagi hari.



Sementara di dapur Daffi yang sibuk memotong daun bawang tak sengaja memperhatikan tingkah laku sang sahabat sekaligus pemilik kedai yang menciptakan menu di kedai bakso mas Bro. Sejak kedatangan para gadis remaja, ia perhatikan Vir terus mengawasi pelanggan kali ini. Padahal sudah tahu bahwa kelima pelanggan mereka juga penghuni asrama bunda Widya.



"Vir, kamu kenapa? Apa salah satu di antara gadis itu, jangan-jangan mantanmu, ya?" tebak Daffi yang melihat ekspresi kesal Mahavir seolah baru saja bertemu orang dibencinya.



Jujur saja, ia bingung karena untuk pertama kalinya sang sahabat bersikap berlebihan. Akan tetapi sesaat ia memikirkan tebakannya lagi hingga berujung pada kenyataan dimana dari kelima gadis hanya satu gadis baru yang pasti memiliki andil atas perubahan emosi hati Mahavir. Terlebih lagi, pemuda satu itu tak mau keluar dari dapur sekedar ikut menemui pelanggan.



Padahal disetiap kesempatan akan menandatangani pelanggan dan dengan ramah mempersilahkan untuk menikmati semangkuk bakso pesanan. Pagi ini sungguh di luar kebiasaan yang mengundang tanda dalam benak. Terlebih lagi sang sahabat seperti tidak fokus dengan pekerjaan yang sudah biasa dilakukan.


Mahavir mengambil masker dari laci atas yang memang tersedia cukup banyak sebagai cadangan setiap kali dibutuhkan. Lalu ia menyambar jaket yang tergantung di sudut ruangan, "gue balik ke asrama dulu. Telpon aja Daffa with friends buat bantu kedai hari ini!"


"Eh, kok malah pamit? Vir!" Daffi menyusul langkah kaki sahabatnya yang tanpa basa-basi keluar meninggalkan dapur.



Langkah yang saling mengejar mengalihkan perhatian semua orang, termasuk kelima gadis remaja di meja paling sudut. Apalagi tatapan mata Ayumi dan Utari tampak begitu merindu menatap siluet raga yang berjalan menjauh dari kedai dan menghampiri motor sport di halaman kedai.

__ADS_1



"Kalau suka, samperin! Diam juga tidak menyelesaikan," celetuk Bunga yang paham pandangan Utari serta Yumi menyiratkan rasa sayang pada seseorang di antara dua pemuda di depan kedai.



Yumi justru menggelengkan kepala. Baginya rasa suka itu sebuah hadiah yang tak harus dimiliki sebab ia sadar diri. Gadis di luar sana banyak yang cantik dan pastinya lebih cocok dengan sang pujaan hati, sedangkan ia hanya si perindu malam. Dari sekedar lamunan tanpa harus menyusahkan diri.



Berbeda lagi dengan Utari. Dimana gadis satu itu hanya sekedar kagum karena cinta bukan untuk dikatakan melalui bait tulisan. Suatu saat nanti, ia hanya akan bertindak ketika yakin hati telah jatuh cinta pada seorang pemuda. Sementara saat ini, ia masih mementingkan pendidikan agar bisa meraih cita-cita.



Fatma tahu benar bagaimana karakter kedua sahabatnya itu menjelaskan pada Bunga bahwa kedua gadis yang sibuk menatap siluet pemuda sama hanya sekedar kagum tetapi belum sampai tahap cinta. Pengakuan itu sedikit menyudutkan cinta yang besar di dalam hatinya untuk sang paman tercinta.



"Mencintai seseorang sama seperti bertarung dengan nyawa sendiri. Ada rasa yang tak bisa dijabarkan dan semua akan berlabuh pada ketetapan Sang Ilahi. Jodoh tak akan kemana," Bunga melanjutkan sesi makan baksonya dan tak ingin meneruskan perdebatan tentang cinta.



Di sisi lain, Daffi hanya bisa melambaikan tangan membiarkan Mahavir pergi meninggalkan kedai. Pemuda itu kembali masuk ke dalam dan langsung menghubungi saudaranya agar segera datang bersama rekan yang lain. Menjaga kedai sendirian bukanlah ide bagus meski pelanggan belum ramai.




"Hadeh, kumat nih anak. Yumi yang comel bin imut sejagat raya. Apa dirimu lupa hari ini ada pelajaran dosen killer?" Anna memutar bola matanya malas, membuat Fatma dan Utari menyimak membiarkan rasa malas Yumi disingkirkan oleh si ahli ceramah.



Sayangnya Yumi malah sibuk menguap dengan tangan berulang kali menutup mulut. Kebiasaan setelah mendapatkan makanan dan rasa kantuk pun datang, "Hoaaam, males kuliah, ih. Apalagi sama pak cosplay."



"Pak cosplay? Dosen mana yang kalian maksud?" rasa penasaran mendadak datang menyapa. Nama unik yang pasti julukan dari para mahasiswa dan bisa dipastikan memiliki kesan cara mengajar killer dengan segudang tugas. Begituan pemikirannya.



Malah jadi suudzon, padahal belum tahu dosen mana yang dibicarakan. Satu pertanyaannya mendapatkan cerita panjang kali lebar dari keempat gadis secara bergantian yang membuatnya berpikir tempat kuliah menjadi ajang para mahasiswa agar bisa dianggap sebagai murid teladan. Akan tetapi, sebagian mahasiswa memilih jadi siswa biasa saja.

__ADS_1



Obrolan terdengar seru yang membuat Daffi ikut tertarik keluar dari dapur. Pemuda itu berjalan menghampiri meja kelima gadis yang ternyata sudah selesai makan tetapi masih stay sekedar melakukan perbincangan. Senang saja karena di kedai tidak sendirian.



"Abang Daffi, kami berisik, ya?" Utari menatap Daffi, dimana pemuda itu menarik kursi lain agar bisa bergabung dengan kelompoknya.



Anna si gadis kalem menundukkan pandangan ketika tatapan mata tak sengaja bertemu netra si pemuda. Akan tetapi yang membuatnya menunduk tak peka atas ketidaknyamanannya. "Santai aja, Tari. Kalian asik bahas apa? Aku bosen di dapur sendiri, jadi boleh gabung, ya."



"Boleh, pake banget, tapi ada syaratnya. Abang bisa penuhi syaratnya gak, nih?" sahut Yumi tanpa basa-basi yang membuat Daffi menjitak keningnya tanpa permisi. "Auww, ish, abang Daffi jahat!"



"Yumi, jadi gadis itu harusnya kalem. See, si cantik di sebelahmu! Dari tadi diem trus," ledek Daffi mengalihkan perhatian Bunga dari minumannya.



Pemuda itu sengaja bergabung karena penasaran dengan jati diri Bunga. Apalagi setelah melihat kekesalan di wajah Mahavir. Ada apa antara dua lawan jenis yang sama-sama menempati asrama VVIP itu?



"Abang Daffa! Adikmu modus ini ... " Yumi mengadu pada pemuda lain yang baru saja sampai di depan kedai.



Suaranya cukup keras hingga mengalihkan beberapa pelanggan lain, "up's, sorry. Silahkan di nikmati lagi baksonya!"



Ingin tertawa tapi takut kualat. Apalagi kedatangan para pemuda yang serempak mengenakan seragam kedai cukup menyita pandangan mata semua orang. Bahkan Bunga ikut memperhatikan wajah pemuda yang ada di tengah. Seorang pemuda dengan paras sama dengan si laki-laki yang kini semeja dengannya.



"Keduanya kembar identik, di dekat kita adalah Daffi si adik beda lima menit dan dia, abang Daffa kakaknya. Sifat sama-sama somplak, tapi yang punya banyak fans cuma bang Daffa. Sekedar informasi, Anna suka Daffi, dan Fatma kesemsem sama Daffa."


__ADS_1


Yumi setengah berbisik menjelaskan detail sekilas informasi yang ia tahu, membuat Bunga tersenyum simpul tanpa memberikan jawaban apapun. Namanya anak muda, tentu wajar ketika memiliki rasa suka di usia remaja. Semua memiliki hati menyentuh rada terdalam di dalam jiwa masing-masing.


__ADS_2