Karena Cinta

Karena Cinta
Part 31#Malam Kebersamaan


__ADS_3

Lirikan mata sang paman, membawa Bunga pada kebahagiaan nyata. Perlahan memejamkan mata seraya menangkupkan kedua tangan di depan dada. Keheningan datang menyapa, menyingkirkan frasa tanpa makna. Sejenak mengheningkan cipta menjemput kata dalam doa.


Ya Allah, di setiap doa yang kupanjatkan, pintaku masih sama dan akan tetap sama. Izinkan hamba tuk mencintai om Al sebagai kekasih halalnya. Ridhoilah rasa ini tuk menjaga pandangan dari godaan yang akan datang. Jagalah ia sebagaimana Engkau melindungi hamba. Aamiin.~ucap hati Bunga yang berdoa setulus hati.


Dalam agama Islam, doa berarti permohonan seorang hamba kepada Sang Pencipta, Allah swt. Doa adalah tanda kerendahan hati dan kerendahan diri seseorang di depan penciptanya. Doa berasal dari bahasa Arab: da'a – yad'u – da'watan (دعا – يدعو - دعوة) yang berarti memanggil, menyeru, meminta, atau memohon.


Secara istilah, doa adalah permohonan atau permohonan sesuatu dari yang tingkatannya lebih rendah kepada yang tingkatannya lebih tinggi. Hakikatnya, Tuhan Yang Maha Kuasa memiliki kemampuan untuk melakukan apa pun yang Ia mau. Maka dari itu, selain berikhtiar, berdoa kepada Allah SWT adalah suatu keperluan dan kebutuhan bagi seorang muslim.


Apalagi berdoa di hari kelahiran yang merupakan tanda berkurangnya usia, tetapi beberapa orang menganggap bertambahnya usia. Jika dipikirkan keduanya benar pada konteks yang berbeda. Sehingga untuk memahami harus tahu arah yang dimaksud.


Perlahan membuka kelopak mata hingga terpatri tenggelam menatap manik mata sang paman yang masih setia berdiri memegang kue di depannya. "I hope our family will always be happy. Hopefully all the evil eyes are removed by the power of family love. Hopefully everything I love is always happy in the protection of Allah SWT."


Doa yang berbeda dipanjatkan tanpa mengurangi emosi hati. Setiap harapan untuk kebahagiaan keluarga terkasih akan selalu menjadi yang utama. Sebagai manusia akan sadar banyak pandangan buruk yang jatuh tanpa disadari. Pada kenyataannya, seorang hamba hanya bisa berserah diri pada Sang Pencipta.


"Aamiin," suara mengamini terdengar begitu serempak bersamaan dengan tiupan lilin yang langsung padam dalam sekali tiup.


Tepuk tangan bersambut ucapan selamat kembali bergema. Al membawa kue yang ia pegang di iringi langkah kaki keluarganya. Ulang tahun kali ini terasa lebih sunyi karena yang hadir hanyalah beberapa orang. Satu per satu topeng dilepaskan hingga menunjukkan wajah asli setiap anggota keluarga.

__ADS_1


Papa Angkasa yang selalu berdiri di belakang kursi roda sang istri. Mama Milea dan papa Bima yang senantiasa mengiringi langkah sang putri, dan para pelayan yang sepertinya memang sengaja diajak berpesta. Dari semua wajah yang tampak, Al yang begitu menarik perhatian Bunga.


Namun pandangan mata gadis itu teralihkan ke arah pintu masuk ruangan. Suara langkah kaki yang terdengar begitu tegas bukan hanya mengalihkan perhatiannya seorang. Senyum mengembang menghiasi wajah manisnya, "Ka Bry!"


Kedatangan Bryant disambut hangat oleh keluarganya. Pria yang hadir tanpa membawa istri itu tampak berusaha tetap tegar berdiri di tengah kesendirian. Ia hampir saja lupa akan acara kejutan di hari ulang tahun sang keponakan, bahkan dirinya sudah menganggap Bunga sebagai adik sendiri.


Penampilan Bryant terlihat begitu rapi, tapi tidak mengenakan pakaian formal. Mungkin saja baru pulang dari kantor karena kebiasaan pria satu itu suka lembur tanpa ingat waktu. Di sisi lain, keluarganya senang dengan ketidakhadiran menantu pertama keluarga Putra. Siapa lagi jika bukan Hazel.


Semua akan sempurna karena tidak ada pengacau alias si biang onar. Malam yang indah dinikmati tanpa ada keluhan. Justru Bunga dengan semangat membiarkan Bryant menyuapi dirinya makan malam. Bukan hanya sang kakak tercinta, gadis itu hanya meminta kado sesuap makanan dari tangan setiap orang terkasihnya.


Satu per satu dengan senang hati menyuapi Bunga hingga tibalah giliran Alkan. Dimana pria itu masih sibuk melakukan panggilan darurat. Ingin sekali menghampiri sang paman yang berdiri di dekat jendela, tapi ia tak ingin mengganggu kesibukan prianya. Apalagi wajah sang pujaan hati terlihat begitu tegang, meski tampak bersikap tenang.


Ia sadar bahwa Al masih belum memberikan keinginan sang gadis yang tengah berulang tahun. Apalagi setiap menyangkut keinginan hati, maka ia sendiri akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Bunga. "Jika tidak mendapatkan suapan Al, kamu saja yang suapi dia!"


"Makasih, Ma. Keren deh idenya mama," Bunga menerima tatakan atau yang biasa disebut lepek oleh orang Jawa dari tangan sang mama. Lalu, gadis itu beranjak dari tempat duduknya.


Langkah kaki berjalan maju tanpa ada keraguan hati. Baginya, apapun akan dilakukan demi bisa menghabiskan sedikit waktu bersama sang paman. Siapakah boleh menganggap ia sebagai gadis abnormal karena jatuh cinta pada pria dewasa, tapi jangan meragukannya tentang cinta yang dia punya.

__ADS_1


"Om!" panggil Bunga membuat Al menoleh ke arahnya. Tatapan tegang sang paman seketika luntur ketika menyadari kedatangannya. Tanpa kata, ia tunjukkan kue yang dibawa.


Seolah memahami keinginan hati tanpa suara, Al mengangkat tangan. Ia mengambil garpu, kemudian membelah kue sedikit. "Happy birthday, Bunga. Semua doa yang terbaik untukmu, gadis kecil. Jangan bandel lagi, ya!"


Secuil kue mendarat sempurna di dalam mulutnya. Rasa yang tak bisa dijabarkan karena hati semakin berbunga-bunga. Ia merasa takdir begitu baik karena mengabulkan semua keinginan tanpa banyak ekspektasi yang nyata. Setelah mendapat suapan terakhir dari sang paman, ia kembali berkumpul bersama anggota keluarga.


"Sayang, bagaimana dengan hari pertama kuliahmu?" tanya Mama Bella dengan lembut karena ia sangat menyayangi Bunga sebagai putrinya sendiri.


Keluarga Putra hanya memiliki satu ratu yaitu dirinya sendiri. Kenyataannya meski Bryant sudah menikah dengan Hazel. Hal itu tak membuat keluarganya merasa memiliki menantu sebab pada fakta yang ada, Hazel hanyalah istri yang tak ingin berbagi kebersamaan terhadap keluarga sang suami.


Miris. Akan tetapi begitulah keadaan yang menjadi alasan utama atas ketidakharmonisan keluarga Putra selama dua tahun terakhir. Sebab akibat yang tak bisa dipungkiri, tapi malam ini menjadi kebersamaan tanpa ada rasa sungkan. Kedamaian yang hampir terlupakan karena terlalu sering diselimuti keheningan tanpa kehangatan.


"Not okay, Ma. Ada buaya berkeliaran di kampus. Ganteng, sih, cuma lebih ganteng om Al," jawab Bunga begitu santai yang membuat keluarganya terkekeh pelan.


Mama Milea bahkan sampai tersedak mendengar jawaban putrinya yang terdengar aneh, "Buaya yang punya kaki, ya? Mana disamain sama Al segala, ntar ngamuk loh om mu itu!"


"Hehehe, jangan sampai om denger, Ma. Lagian anak-anak zaman sekarang itu lucu," Bunga menggeser posisi duduknya hingga menghadap ke arah mama Milea, "Tadi ada pemuda yang tiba-tiba datang, trus masa ngajakin kencang. Mana modalnya cuma bunga mawar sebiji."

__ADS_1


"Aneh kan? Mending kalau bunganya beli. Bunga yakin, bunganya metik dari taman kampus!" tukas Bunga bercerita tentang siang hari yang didengarkan oleh keluarganya dengan seksama.


Obrolan keluarga yang begitu ringan menemani malam kebersamaan. Suara canda tawa berselimut kehangatan hati yang menghangatkan jiwa. Suasana kian khidmat ketika Al juga ikut bergabung. Kebahagiaan itu sejatinya sederhana. Dimana hati yang mau bersyukur dan ikhlas menerima takdir sang ilahi, tetapi tak lupa untuk berjuang demi keberhasilan yang diharapkan.


__ADS_2