
Sepertinya wanita satu itu benar-benar kehilangan akal karena setelah melihat perselingkuhan suaminya sendiri masih berpikir hanya kekhilafan saja. Apa perasaan cinta di hatinya cukup luas sehingga menerima penderitaan tanpa memiliki keinginan mengajukan keluhan.
Khilaf merupakan ungkapan yang sering kali digunakan saat seseorang melakukan kesalahan dan biasanya didahului dengan kata maaf saat diucapkan. Khilaf juga kerap dikaitkan dengan pengakuan dan penyesalan seseorang dalam melakukan sesuatu. Apakah benar Akbar sedang khilaf?
Perselingkuhan memang bisa terjadi baik disengaja atau hanya karena kesempatan saja dan saat seseorang melakukan kesalahan bisa jadi dia khilaf dalam melakukan kegiatan tersebut. Akan tetapi tentu harus sesuai dengan motif di balik tindakannya.
Di pandangan Ara, wanita itu berpikir Akbar hanya sedang tergoda sesaat tapi kenyataannya memang segala sesuatu sudah disengaja. Jadi tidak ada kata khilaf karena khilaf berasal dari bahasa Arab “khilaaf” yang artinya melanggar atau tidak menepati janji.
Sementara menurut istilah khilaf dikaitkan dengan kesalahan yang dilakukan secara tidak sengaja. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), khilaf adalah keliru atau salah yang tidak disengaja. Khilaf sendiri medula kata serapan yang maknanya yaitu perbuatan keliru yang dilakukan secara tidak sengaja.
Jadi tentunya tidak lepas dari tindakan khilaf setiap harinya. Berbagai macam penyebab, seperti lupa hingga terpancing emosi sesaat juga termasuk perbuatan khilaf. Sebab arti khilaf adalah merujuk pada perbuatan seseorang yang salah atau keliru, dilakukan tanpa berpikir panjang atau tidak memikirkan dampak kedepannya.
Berpikir lagi tentang perbuatan Akbar dan Anggun, membuat Ara termenung tenggelam memikirkan sesuatu yang benar-benar menyita kesadarannya. Khilaf, satu kata itu mengusik kepercayaan dan juga kebenaran yang tersaji di depan kehidupannya. Jika benar khilaf, apakah masih bisa diperbaiki?
Ia berharap ketika Akbar menyadari perbuatan tersebut tidak dibenarkan, sang suami akan mengungkapkan permohonan maaf serta rasa penyesalan. Apakah itu bisa terjadi? Dilema hati hanya bisa memeluk begitu banyak pertanyaan yang Ia sendiri tidak mampu menanyakan.
Sementara melansir Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, khilaf adalah kata yang berasal dari bahasa Arab “khilaaf”. Kata ini merupakan bentuk dasar dari kata kerja “khaalaf-a” yang berakar dari kata kerja “khalaf-a” yang mempunyai 14 makna. Dua di antara maknanya itu adalah menggantikan dan berbeda atau berlainan dengan.
__ADS_1
Kata khaalaf-a sendiri adalah bentuk kata kerja yang dikembangkan dari kata kerja aslinya khalafa, yang memiliki beberapa arti, diantaranya tidak menyetujui, menyangkal (sesuatu yang telah dikatakan), berlawanan, berlainan dengan (aturan), mendurhaka, tidak patuh kepada (Allah), dan melanggar, tidak menepati (janji).
Perbedaan makna khilaf ini hanya dapat dilihat ketika kata itu berada di dalam konteks kalimat yang lengkap. Walaupun demikian, dalam bahasa Indonesia khilaf adalah kekeliruan atau kesalahan yang tidak disengaja. Kekeliruan dan kesalahan itu adalah sesuatu yang bertentangan atau berlawanan dengan kebenaran atau aturan yang ada.
Khilaf adalah perbuatan yang bisa merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Oleh karena itu, semua orang harus menghindarinya sebisa mungkin. Hanya saja tidak semua orang bisa menyadari kesalahannya, lalu mau meminta maaf. Jika seseorang telah melakukan kesalahan dan berani mengakui serta bertanggung jawab.
Maka itu membantu membedakan perbuatan salah dan benar sehingga bisa segera introspeksi diri. Tentu saja harus bisa mengenali emosi hati dimana setiap insan harus berusaha untuk lebih sabar, tabah, dan mensyukuri setiap keadaan yang terjadi. Cara ini agar seseorang tidak mudah terpicu emosi yang meledak-ledak.
Jika merupakan umat islam, perbanyak shalat, puasa, dan berdzikir. Bagi umat muslim, segeralah berwudhu atau mandi dan memohon ampun pada Allah. Air wudhu disebut dapat mensucikan diri dan meredakan gejolak emosi agar kita tidak gegabah dalam bertindak.
Berusaha agar hati lebih tenang, salah satunya adalah dengan selalu menunaikan ibadah agar terhubung dengan Allah SWT. Tidak lupa memiliki motivasi untuk berubah jadi lebih baik dari sebelumnya. Belajar dari kesalahan bisa jadi cara untuk mengatasi dan menghindari rasa menyesal akibat perbuatan khilaf.
Selain itu, penyesalan yang menjadi bukti kesadaran diri setelah menyadari berbuat salah haruslah bisa melepaskan ego dari dalam hati. Entah akan seperti apa nantinya karena saat ini hanya mampu berharap tapi tidak bisa memprediksi. Raga yang lelah bahkan tak bisa digerakkan hingga sentuhan tangan menyentak kesadarannya kembali.
Tatapan mata tanya yang tertuju padanya tampak bingung memperhatikan kebingungan di wajahnya. Akan tetapi hati berusaha kembali menguasai diri agar tidak menunjukkan kesedihan hati yang menyakiti jiwanya. Terkadang lebih baik memendam perasaan untuk diri sendiri.
"Ara! Kenapa dari tadi dipanggil cuma diem aja, kamu sakit, ya?" Akbar memeriksa kening, lalu berpindah ke leher wanita yang ada di hadapannya itu. Akan tetapi tidak ada hawa panas bahkan yang ia rasakan suhu tubuh istrinya dingin, "Apa ada masalah yang mengusik perasaanmu, sayang?"
__ADS_1
"Kalau iya, kita bisa duduk bareng dan bicarakan baik-baik. Ayo, kita ke kamar saja dan bicarakan didalam!" ajak Akbar mengalihkan tangan yang beralih mencengkram tangan istrinya penuh perasaan.
Sentuhan lembut di tangan tidak bisa diabaikan menghangatkan rasa di dalam dada. Gemuruh hati menyekat lara yang masih terpendam terbelenggu asa. Apakah kasih sayang yang diberikan Akbar hanya pura-pura saja atau semua itu benar nyata adanya?
Pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, kali ini menguasai benak lautan pikirannya. Ia merasa terjebak dengan emosi hati yang masih mengedepankan kepercayaan dan bukan rasa sakit karena dikhianati. Naif atau bodoh, ia sendiri mengakui tidak berdaya dengan situasi yang membuat jiwa, raga hanya diam saja.
Dilepaskannya tangan sang suami, lalu menyunggingkan senyuman manis yang sangat dipaksakan olehnya. "Ara cuma cape aja, Mas. Mungkin beberapa hari terlalu kurang gerak, jadi aku pamit beres-beres gudang dulu. Kebetulan kemarin beberapa peralatan untuk kebun sudah datang. Kita perlu ruang buat tempatin peralatan yang baru."
"Kamu istirahat aja, untuk urusan gudang biar aku kerjain sendiri. Jangan cape-cape, sayang. Sebaiknya langsung balik kamar, aku langsung ke gudang beresin pekerjaan dulu," pamit Akbar meninggalkan Ara yang terdiam tak menanggapi ucapannya.
Jujur saja, ia merasakan ada sesuatu yang mengubah sikap Ara. Wanita yang biasa bersikap sederhana dan tiba-tiba menjaga jarak di antara mereka berdua. Meski memiliki tanya, ia tidak ingin langsung mengajukan keluhannya. Melihat dari situasi yang ada maka jelas ada sesuatu di luar kendalinya.
Namun, apa yang menjadi pemicu perubahan Ara? Hal itu yang harus diselidiki dan untuk memperbaiki suasana maka setidaknya perlu berusaha mencari kebenaran di dalam kenyataan yang ada. Entah harus di mulai dari mana sebab dirinya benar-benar tidak memahami keadaan yang ada.
Obrolan kedua insan itu tak luput dari perhatian seorang wanita yang bersandar di belakang tangga. Seulas senyum jahat terkembang sempurna dengan perasaan bangga telah memenangkan ronde pertama. Tentunya sebagai juara atas skenario yang dibuatnya. Baginya berhadapan dengan orang polos menjadi kemudahan tersendiri.
"Ara, waktumu hanya beberapa bulan lagi dan semua berakhir seperti kemauan hatiku. Baik suamimu tersayang, harta dan juga kebahagiaan akan kupastikan menjadi milikku seorang. Setelah semua berakhir, hidupmu yang serba kecukupan harus dibayar menjadi wanita murahan."
__ADS_1
"Aku tidak sabar melihat keterpurukanmu, di hari itu tiba akan kubuat pesta atas keberhasilan hidupku tapi sebelum itu, lebih baik memberimu hadiah perpisahan secara perlahan dan akan kupastikan kenikmatan menikmati setiap tatapan tak berdayamu. Oh, Ara, sahabatku yang malang."
Suara lirih Anggun hanya dia seorang yang bisa mendengarkan, dimana wanita itu semakin bertekad menyudahi kisah segitiga antara ia, Akbar dan Ara. Meski untuk itu harus sedikit bersabar dan menjaga ketegangan serta ketatapan hati agar bisa memastikan suaminya tidak berpaling di akhir perjuangan.